Balas Sindiran Djarot, Jansen Sitindaon: Ketimbang Cawe-Cawe, Urus Saja Kadernya Yang Ditahan KPK

Wasekjen DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon (Foto: Net)

| Kali ini, sindiran Plt Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Djarot Saiful Hidayat, terhadap Ir Akhyar Nasution dan Partai Demokrat dibalas keras Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon.

Jansen membalas, ketimbang menyindir partai lain, Djarot sebaiknya mengurusi kadernya yang baru ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Pertandingan Pilkada Medan belum juga dibuka, sudah nuduh kemana-mana Pak Djarot ini. Apalagi sampai bawa-bawa jargon ‘katakan tidak pada korupsi segala’. Seperti semua kader PDIP sudah bebas korupsi saja. Lebih baik, saran saya, Pak Djarot urusi saja itu Bang Japorman Saragih yang kemarin sudah ditahan KPK,” tegas Jansen seperti dilansir dari RMOL, Sabtu (25/7/2020).

Jansen menambahkan, komentar Djarot terhadap Akhyar Nasution belum terbukti secara hukum.

“Kalau soal korupsi, rasanya itu urusan Pak Djarot yang di depan mata. Bukan malah nyambar ke mana-mana. Sebagai Plt PDIP Sumut yang gantikan Japorman, harusnya Djarot fokus saja urusi temannya yang lagi kesusahan dan ke sana saja sampaikan ‘katakan tidak pada korupsi’ itu. Ketimbang cawe-cawe ngurusi hal yang belum tentu Pak Djarot mengerti jelas,” imbuhnya.

Terkait pemeriksaan Akhyar dalam dugaan kasus korupsi penyelenggaraan MTQ, seperti dinyatakan Djarot, Jansen menerangkan Akhyar dalam status sebagai saksi.

“Yang saya tahu, Pak Akhyar dipanggil (Polda Sumut-red) sebagai saksi ya. Karena dia bukan Pengguna Anggaran (PA) dan bukan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), karena dia hanya Plt Walikota saja. Jadi, jika pun itu misalnya bermasalah, Akhyar tidak ada urusan dengan anggaran itu. Karena dipanggil sebagai saksi ya dia datang,” tuturnya.

Untuk itu, imbuh Jansen, sebaiknya Akhyar menjelaskan ke publik karena menyangkut nama baik.

“PA dan KPA lah yang bertanggung jawab terhadap keuangan negara. Tapi untuk lengkapnya, lebih baik nanti Pak Akhyar yang jelaskan ke publik karena ini terkait nama baiknya,” tandasnya.

Sebelumnya, Djarot mengatakan PDIP melakukan seleksi ketat setiap Calon Kepala Daerah yang akan diusung partainya. Ia pun sempat menyinggung nama Akhyar yang pernah diperiksa kepolisian terkait dugaan penyelewengan anggaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-53 tingkat Kota Medan tahun 2020 sebesar Rp 4,7 miliar.

“Betapa bahayanya ketika MTQ saja ada dugaan disalahgunakan. Mungkin dengan bergabung ke partai (Demokrat-red) tersebut, yang bersangkutan (Akhyar) ingin mencitrakan ‘katakan tidak pada korupsi’ yang pernah menjadi slogan partai tersebut,” sindir Djarot, Sabtu (25/7/2020). (tb/rmol)