Bung Besar dan Bukan Hari Emak Biasa

KATA: BUNG JEMIE

BUNG JEMIE

ADA PARADOKS tiap hari ibu 22 Desember di negeri ini–juga 22 Desember yang baru saja berlalu–, ia diperingati sebagai hari yang bersejarah sekaligus ahistoris–tanpa sejarah, bahkan ingkar sejarah.

Tiap tanggal itu, kita mengucapkan selamat kepada perempuan yang telah melahirkan kita, memberinya sekedar hadiah, lalu menyampaikan beribu terima kasih kepadanya. Kita merenung sejenak. Memori otak pun kita eksplorasi untuk mengenang dan meresapi bagaimana ibu dulu melahirkan, menyusui, menceboki, mengobati kala terserang sakit, dan tentu memfasilitasi segala keperluan hidup hingga kita dewasa. Menjadi manusia. Memang bukan main-main peran seorang ibu itu.

Di media sosial, kita lihat berseliweran status perihal ucapan terimakasih anak kepada ibunya, diuntai dengan kata-kata indah bak puisi dan kutipan-kutipan menginspirasi dari tokoh tertentu. Lagu tema kita hari itu Iwan Fals, Eddy Silitonga, sampai lagu berlirik nunahinuna-nya Mawang.

Pemodal tak mau ketinggalan. Mereka ikut ambil bagian mengekploitasi hari ini. Sebuah iklan produk minuman berlemak dan protein tinggi mengingatkan peran ibu yang tak lupa menyiapkan segelas susu untuk anaknya. Anak mana yang tak menangis mengenang semua pengorban itu—mungkin bisa dikecualikan dalam hal ini Malinkundang dan Simardan.
Tak lupa hari itu kita membebastugaskan ibu kita dari rutinitas sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga: memasak, mencuci, membereskan rumah …. Bebas tugas, paling tidak untuk satu hari!

*

Tak ada yang janggal; wajar, lumrah, dan baik-baik saja, sebagai layaknya hari ibu di dunia ini, menimbang dan mengingat pula begitu besarnya jasa seorang ibu kepada semua manusia. Sampai kemudian, kita membaca sejarah bagaimana tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu di Indonesia. Saat itu, 22-23 Desember 1928, kaum ibu berkumpul melakukan Kongres Perempuan Indonesia, di tahun yg sama pula, tepatnya di bulan Oktober para pemuda melakukan Kongres Pemuda yang menghasilkan apa yang sekarang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Agaknya, semangat emansipasi tengah berkecamuk dalam alam fikir orang-orang terjajah waktu itu–ya, Indonesia belum lagi ada, kita masih Hindia Belanda yang dijajah Belanda–, bahkan menyasar sampai kaum ibu.

Tak kepalang tanggung, Kongres Perempuan Pertama tersebut menghasilkan putusan-putusan yang berhubungan langsung dengan perbaikan nasib dan kehidupan perempuan jaman itu: desakan kepada pemerintahan kolonial untuk menambahkan sekolah bagi anak perempuan, tunjangan kepada janda dan anak-anak pegawai pemerintah, beasiswa bagi perempuan berprestasi, mendirikan lembaga kursus pemberantasan buta huruf, dan mendirikan wadah bagi organisasi-organisasi perempuan yang ada di Hindia Belanda.

Menginsyafi peran penting kaum ibu ini, Presiden Soekarno pada tahun 1959 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Ini salah satu bentuk penghargaan Bung Karno kepada kaum perempuan, persembahan lain Bung Karno adalah Buku Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perdjuangan Republik Indonesia.

Barang tentu Soekarno merasa perlu menetapkan hari ibu bukan karena sekedar peran-peran kodrati dan domestik seorang ibu: melahirkan, menyusui, memasak, merawat anak, tapi justru semangat Kongres Perempuan Pertama itu, dimana mereka menggagas kerja-kerja pembebasan yang melampui sekat dapur, kamar, dan bahkan tembok rumah; yakni upaya meningkat derajat hidup orang banyak, bahkan upaya ke arah Indonesia yang merdeka (pada waktu itu). Ia tak bicara soal peran domestik rumah tangga lagi, tapi prihal tugas nasional, bahkan internasional seorang ibu. Ia berbeda jauh, dari sejarahnya, sebagaimana bangsa-bangsa lain merayakan hari ibu, seperti perayaan Mother’s Day yang dirayakan di Amerika dan Eropa, penghormatan dan penghargaan seorang ibu karena tugas-tugas kodrati dan domestiknya semata.

Si Bung Besar pasti tidak ingin hari ibu–dengan segenap pertimbangan sejarah–hanya sekedar hari emak-emak biasa saja. Dia adalah hari Emak-emak sadar; selain sebagai seorang Emak yang melahirkan, juga menjadi suluh di tengah masyarakatnya.

**
Sebagai pedagang buku, saya kemudian teringat dengan Novel Karangan Maxim Gorky berjudul Mother yang diterjemahkan begitu bagusnya oleh Pramoedya Ananta Toer dengan titel Ibunda. Buku ini diterbitkan oleh Jajasan Pembaharuan (1956), dan karena dilarangnya karya-karya Pramoedya atas tuduhan keterlibatan G30S, buku ini pun turut dilarang. Sampai sekarang buku ini menjadi buruan dan koleksi berharga, selain karena memang susah didapat, juga karena mutu dari karangan Gorky, melibatkan kerja Pramoedya ini. Di Jaman Orba, tak sembarang membaca buku ini, salah-salah kalau ketahuan, bisa berurusan dengan aparat keamanan dan dituduh komunis–satu dakwaan yang lebih mengerikan daripada sekedar dituding maling pada waktu itu.

Kembali ke soal, buku Gorky ini menceritakan tokoh Pelagia Nilovna, Sang Ibunda, ibu dari keluarga buruh. Ia buta huruf. Namun ia turut berjuang membantu pemuda-pemuda revolusioner membebaskan negeri mereka dari rezim tiran. Ia menyebarkan pamflet-pamflet pembebasan kepada buruh-buruh di pabrik, agar tergugah kesadaran mereka bahwa mereka sedang tertindas, dan melakukan perlawanan. Bukan tanpa resiko, Pelagia harus berhadapan dengan kaki tangan rezim, menerima kekerasan, bahkan dipenjara. Ditengah keterbatasannya ia tetap gigih menghadapi semuanya. Semangatnya sama dengan tokoh-tokoh ibu yang melakukan kongres pada 1928 itu. Jiwa yang sama juga ada pada perempuan-perempuan hebat sebelum kongres itu dilakukan: Kartini, Tjoet Nja Dhien, Rohana Koedoes, dan lain-lain yang tampil ke tengah masyarakah menyebarkan semangat pembebasan dan anti penjajahan.

Ya, kita tak tahu, kira-kira apa tanggapan Bung Karno, ketika sekarang kita memperingati Hari Ibu dengan cara seperti saat sekarang ini: ibu yang berkebaya, dibebaskan tugasnya memasak dan menyapu rumah dalam sehari. Atau, kalau sampai dia mendengar hal ini, dia bergemuruh dan bangkit dari kuburnya, lalu menempeleng satu-satu di antara kita yang merayakan hari ibu sambil bernyanyi “Nunahinuna..uh..uh..uh..!”

“Plak!”

“Uuuh…!!!”

JEMIE SIMATUPANG

Pedagang Buku Bekas.