Buron FBI Berbulan-Bulan Sembunyi di Jakarta, Komisi III DPR-RI Tegur Kemenkumham

Anggota Komisi III DPR RI Hinca I.P Pandjaitan Hinca saat di Ruang Rapat Komisi III, Nusantara II, Senayan, Jakarta (22/6/2020) (Foto: Andri/Man)

| Terkait ditangkapnya buronan Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat, Russ Albert Medlin, di kawasan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, Senin (15/6/2020), Komisi III DPR-RI menegur Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) yang kinerjanya belum maksimal dalam pengawasan orang asing di Indonesia.

“Artinya, sistem pengawasan orang asing di imigrasi belum maksimal, dalam mendeteksi orang asing yang bermasalah soal hukum. Karena itu, Pak Menteri lewat Dirjen Imigrasi, kita ingin membuat catatan khusus pengawasan ini,” tegas Dr Hinca Pandjaitan, saat Raker Komisi III dengan Kemenkumham, di Senayan DPR-RI, Jakarta, Senin (22/6/2020), seperti dilansir dari laman resmi DPR-RI.

Hinca menambahkan, keberadaan buronan FBI Russ Medlin, justru terdeteksi 7 bulan setelah Red Notice dari Interpol diterima, itu pun berdasarkan laporan masyarakat.

“Keberadaan Russ Medlin baru terdeteksi 7 bulan setelah Red-Notice dari Interpol diterima, itu pun berdasarkan dari laporan masyarakat Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, karena curiga seringnya perempuan di bawah umur keluar masuk hunian Russ Medlin ini. Ini soal buron investasi, dan sangat berbahaya, tambahannya terlibat prostitusi di bawah umur,” tandasnya.

Politisi dari Fraksi Partai Demokrat ini menyayangkan peran Dirjen Imigrasi Kemenkumham yang terkesan lambat.

Hal senada, juga disampaikan anggota Komisi III DPR-RI lainnya, Rano Al Fath, yang mempertanyakan kinerja Kemenkumham terkait lolosnya buronan FBI tersebut.

“Persoalan buron FBI yang lolos ke Indonesia, buron FBI ini melakukan penipuan Rp 10 triliun, ternyata bisa lolos ke Indonesia. Sering ada pelaku kejahatan dari luar melihat Indonesia menjadi tempat persembunyian,” ungkapnya.

Perlu diketahui, Russ Albert Medlin adalah buronan FBI, berdasarkan Red Notice Interpol, ia melakukan penipuan investor sekitar 722 juta dollar AS dengan menggunakan modus penipuan investasi saham.

Pria asal Amerika Serikat ini, juga memakai jasa prostitusi anak di bawah umur saat berada di Indonesia. (tb)