Cara Halau Corona Ala Orang Kampung Kami

KATA: Bung ALEX

Bung Alex

SEMALAM, aku bertelepon dengan Bapak di kampung, di Kuta Nangka Desa Kempawa, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi. Bercakap dengan beliau, sempat kutanyakan, apakah warga di kampung sudah tahu penyakit yang disebabkan virus Corona atau Covid-19?

Ternyata, Bapak dengan antusias menjawab, warga di kampung kami senantiasa ikuti berita perkembangan virus Corona (Covid-19). Tak hanya ikuti perkembangan berita, warga kampung rupanya sudah musyawarah bersama Perangkat Desa untuk laksanakan berbagai tindakan pencegahan.

Sigap sekali mereka, pikirku.

“Lalu apa saja yang sudah dilakukan mencegah penyebaran Covid-19 di kampung kita, Pak?” Tanyaku.

“Sejauh ini sudah dilakukan penyemprotan disinfektan secara rutin, di halaman dan rumah-rumah warga. Setiap sore, warga juga menyalakan api dan membakar berbagai jenis dedaunan tertentu yang asapnya (sesuai pengetahuan turun-temurun) mampu mematikan virus atau pun bakteri,” jawab Bapak.

Aku tertarik jawaban Bapak tentang membakar jenis dedaunan tertentu penangkal virus atau kuman.

Kuajukan pertanyaan, asal mula inspirasi masyarakat melakukan hal itu?

Bapak pun berkisah pengalamannya dulu, sewaktu masih anak-anak.

Kala itu, warga kampung juga pernah dilanda ketakutan karena merebaknya penyakit ‘Laya-laya’ (sejenis penyakit cacar atau kolera?).

Untuk mengatasinya, para tetua kampung rutin menyalakan api di ‘kesain’ (alun-alun desa).

“Dari pengalaman inilah, hingga Corona seperti sekarang, kami juga melakukan hal serupa, membakar dedaunan yang dianggap bisa membunuh virus maupun bakteri,” terang Bapak.

Aku manggut-manggut, mendengar penjelasan Bapak sambil berpikir jauh menerawang.

Muncul pertanyaan dalam benakku, apakah ini berarti orang kampung (ternyata) lebih peka mengatasi Corona (Covid-19)?

Dibandingkan orang kota, sejauh ini upaya pencegahan cenderung acak dan tak sistematis. Bahkan, kadang terasa panik dan mengada-ada.

**************

Alexander Firdaus Milala

Penulis, tinggal di Medan