Cerpen “Eyang Entah dan Orang Asing”

KATA; TEDY WAHYUDY

Tedy Wahyudy, Penyair dari Negeri Hujan Kata-kata

“ Tuan, mengetahui ‘salah’ adalah baik. Merasa bersalah tidaklah baik. Larut dalam rasa bersalah itu, ialah petaka yang dipanggil diri sendiri. Tuan, mengetahui ‘benar’ adalah baik, merasa benar tidaklah baik. Larut dalam perasaan benar itu, adalah pangkal dari segala kesombongan yang melahirkan kedunguan.”

*

EYANG ENTAH, menurut saja dengan kehendak laju kaki Akhal Teke. Eyang Entah menikmati waktunya, mengulang menyusuri semua jalan yang ada, menuju desa Telaga Dangkal. Sesekali ia beristirahat di bawah pohon, di balik daun, di atas pohon, di balik batu, di atas atap, di bawah ular. Eyang Entah sesekali beristirahat, mengikut kehendak tubuh Akhal Teke.

Eyang Entah, tidak diburu oleh keinginannya; meminum air nira sembari bincang dengan Dewi Jeruk Nipis. Ia menikmati waktunya, mengenang semua jalan yang sudah dilaluinya tatkala berusia muda. Bersama sahabat karibnya, Akhal Teke, Eyang Entah mereguk setiap kenang manis pahit dalam hidupnya, dengan biasa saja. Wisata sejarah yang biasa-biasa saja. Begitu Eyang Entah menyebut perjalanannya itu.

Setelah menyisir semua jalan, Akhal Teke, membawa Eyang Entah menyusuri jalan lurus berdebu. Jalan itu tepat berada di tengah-tengah dari semua jalan yang ada. Di pertengahan jalan itu, Eyang Entah berpapasan dengan orang asing yang diceritakan Borbados. Eyang Entah, memutuskan turun dari Akhal Teke, lalu berjalan di samping orang asing itu.“Hendak kemana, anak muda?”.

“ Hamba hendak menuju desa Telaga Dangkal, Tuan”

“Apakah engkau yakin, jalan ini akan mengantarkanmu sampai ke desa itu?”

“ Hamba tidak tahu, Tuan. “

“ Lantas, mengapa engkau tetap berjalan di jalan ini? “

“ Hanya inilah jalan yang hamba kenal, Tuan! “

“ Apakah engkau mengetahui tentang jalan-jalan lain menuju desa Telaga Dangkal? “

“ Hamba pernah mendengar tentang jalan lain, dari seorang tuan beberapa minggu yang lalu. Penjelasan Tuan itu menarik sekali. Tetapi, begitulah kata-kata, tidak dapat dilihat wujud pesan di dalamnya, kecuali dalam suara, teks-teks, pun gambar yang digambarkan. Perwujudan jalan-jalan lain itu, tidak dapat benar-benar disaksikan bentuk dan arah akhirnya, kecuali dalam gambaran kalimat-kalimat menarik yang membangun imajinasi di dalam pikiran! Tuan, biarlah hamba yang bodoh ini, tidak menukar kenyataan dengan imaji dalam pikiran. “

“ Bagaimana jika jalan ini, tidak membawamu sampai pada desa Telaga Dangkal? ”

“ Tuan, hamba hanyalah pengembara yang awam saja adanya. Maka janganlah uji hamba, dengan dugaan-dugaan. Sebab dugaan itu, bercabang dua kepalanya. Ini jalan hamba kenal, jalan lain sekedar hamba ketahui. Kekayaan pengalaman pengembaraan Tuan, sudah barang tentu akan memahami maksud hamba.“

“Anak muda, kalaulah jalan membawa sampai, atau sebaliknya, membawa sia-sia belaka adanya, bagaimanakah jalan, dapat menjadi guru dalam kehidupan? ”

“ Tuan, jalan hanyalah sekedar jalan. Jalan bukanlah tujuan. Pemaknaan atas jalan adalah kekayaan dalam pikiran, bila baik maka bermakna baik, bila buruk maka bermakna buruk. Pikiran adalah seumpama pohon yang kita sendiri menentukan rasa buahnya.”

“Anak muda, kalaulah jalan membawa sampai atau sebaliknya, membawa sia-sia belaka adanya, bagaimanakah jalan, dapat menjadi makna dalam kehidupan? ”

“ Tuan, mengetahui ‘salah’ adalah baik. Merasa bersalah tidaklah baik. Larut dalam rasa bersalah itu, ialah petaka yang dipanggil diri sendiri. Tuan, mengetahui ‘benar’ adalah baik, merasa benar tidaklah baik. Larut dalam perasaan benar itu, adalah pangkal dari segala kesombongan yang melahirkan kedunguan.”

Eyang Entah, terdiam. Akhal Teke berhenti, merebahkan dirinya di atas jalan lurus penuh debu itu. Eyang Entah berhenti, menyandarkan tubuhnya ke tubuh Akhal Teke. Orang asing itu, berhenti sejenak, memberi minum Akhal Teke, lalu menawarkan minumannya pada eyang Entah. Setelahnya, orang asing itu melanjutkan perjalanannya. Dari jauh, Borbados memperhatikan dengan seksama.

Satu jam lebih, Eyang Entah merenung. Kemudian ia tertawa terpingkal-pingkal. Wajahnya dipenuhi keceriaan yang telah lama meninggalkan tubuhnya. Eyang Entah bergumam pada dirinya sendiri “Menyenangkan sekali, sudah lama, aku tidak merasakan kenikmatan berpikir semacam ini.” Bersama Akhal Teke, Eyang Entah mengejar orang asing itu.

“ Anak muda, gunakanlah kuda ini!” Eyang Entah berseru pada orang asing itu.

“ Terimakasih Tuan, hamba berkehendak menyusuri jalan ini, dengan kaki hamba saja ”

“ Anak muda, katakanlah apa yang kau pikirkan, agar saya menerima penolakanmu itu dengan tenang! ”

“Hamba tidak tahu, arah tujuan yang dikehendaki kuda Tuan, sebab hamba tiada berpadu hati dengan kuda Tuan. Hamba tak hendak, kuda Tuan bermuram durja, bila sampai pada tujuan hamba, sementara ia menghendaki tujuan yang berbeda.  Begitu juga sebaliknya, hamba tak enak hati, bila nantinya kuda Tuan merasa bersalah, bersebab hamba mengikut pada tujuannya yang berbeda. Selain daripada itu, kuda Tuan tiada ada meminta hamba untuk menungganginya, Tuan telah memaksakan keinginan Tuan atas kuda tuan, atas hamba.”

Eyang Entah merenung kembali, sebelum kemudian tertawa terbahak-bahak, roman ceria di wajah Eyang, bertambah-tambah. Eyang Entah menaiki Akhal Teke. “Anak muda, izinkan orang tua ini, menjamu kehadiran engkau di desa Telaga Dangkal.”

Eyang Entah memacu lari Akhal Teke hingga ke ujung jauh jalan lurus penuh debu itu. Eyang entah seolah menyatu dengan Akhal Teke.

*********

Tedy Wahyudy

Penyair dari Negeri Hujan Kata-kata