Cerpen “Ramuan Hangoluan”

CERITA PENDEK: EKO MANURUNG

EKO MANURUNG

MALAM sudah lewat separuh dan hujan masih belum berhenti. Sejak kedatangannya bersama gemuruh selepas isya malam itu. Pada sebuah rumah kontrakan kecil yang terpisah dari rumah-rumah lain di sebuah perkampungan kecil di pinggiran kota, seorang laki-laki yang seluruh rambutnya hampir memutih menolak lelap.

Ketika seluruh penghuni perkampungan tenggelam dalam mimpi malam, laki-laki itu menindas kelopak matanya untuk tidak terpejam malam itu. Sudah berminggu-minggu lamanya laki-laki itu hanyut dalam alam pikirnya sendiri. Ada yang dia kerjakan — tetapi entah apa. Hanya dia yang tahu.

Laki-laki itu dilahirkan pada sebuah rumah gubuk kecil di sebuah desa tanpa aliran listrik dari pasangan petani miskin lima puluh tahun yang lalu. Anak pertama dari empat orang bersaudara. Seperti orang-orang kebanyakan, kedua orang tuanya juga percaya bahwa nama adalah doa, dan oleh sebab itulah kemudian laki-laki itu diberi nama Hangoluan. Hangoluan yang berarti kehidupan dalam bahasa batak dipilih oleh kedua orang tuanya dengan harapan semoga kehidupan yang baik senantiasa bersama anak laki-laki pertama mereka yang sangat istimewa itu.

Hangoluan memang seorang anak yang istimewa; terlahir dengan kondisi kedua kakinya yang sama sekali tidak dapat dikatakan mirip sebagai kaki. Bahkan, hampir bisa dikatakan bahwa Hangoluan terlahir tanpa kaki — kecuali dua onggok daging tumbuh di bawah pinggangnya. Tangis pecah di atas rumah gubuk mereka yang kecil, dan seakan bersimpati kepada keluarga itu semesta menurunkan hujan yang lebat disertai dengan gemuruh agar tersembunyilah kiranya tangisan mereka.

Dukun beranak yang membantu proses persalinan Hangoluan berpetuah pada pasangan petani miskin itu agar tak usah menangis.

“Begitulah kiranya hidup. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kepada setiap ciptaan yang ada di alam semesta ini, maka terimalah setiap pemberian dari Debata sebagai anugerah yang barang tentu ada maksudnya,” ucap dukun beranak yang tampaknya sudah sangat berpengalaman itu sambil sembari mencuci tangannya pada se-ember air yang sudah disiapkan di sampingnya.

Tangis berubah menjadi isak dan isak perlahan berubah jadi sepi seiring disusuinya Hangoluan oleh ibunya yang masih rebah lemas di atas dipan. “On ma hangoluan (kehidupan), ala ni i, ikkon Hangoluan nama bahen on goar ni anak kon,” ucap ayah Hangoluan sembari menatap dalam pada anak laki-lakinya yang sedang menyusu itu diiringi ucapan ‘I ma tutu’ (amin) oleh kakek dan nenek serta beberapa orang tetangga yang memang sengaja datang untuk menyambut hari bahagia itu.

*
Tetapi itu lima puluh tahun yang lalu. Hangoluan kini sudah sudah terpisah jauh dari keluarganya di desa. Hampir dua puluh tujuh tahun yang lalu, dengan mimpi kehidupan lebih baik Hangoluan menggelindingkan kursi rodanya dari desa menuju kota yang kata orang-orang memberikan kesempatan yang jauh lebih besar kepada siapapun.

Dengan berat hati, Hangoluan dilepas merantau dengan doa oleh anggota keluarga dan tetangga-tetangga. Sejumput beras kemudian ditaburkan ke atas kepala Hangoluan oleh orangtuanya sebagai si pir ni tondi. Sebagai penguat jiwa, sebagai pelindung, sebagai ucapan syukur, agar hidup yang baik dan perlindungan Debata senantiasa bersama Hangoluan kemanapun kiranya Hangoluan akan menggelinding dikemudian hari.

Dengan menumpang sebuah mobil bak terbuka yang biasanya datang ke desa untuk membeli gabah-gabah padi dari petani Hangoluan pergi meninggalkan kampung kelahirannya menuju kota Kecamatan untuk kemudian melanjutkan perjalanannya ke Kota tujuannya dengan bus yang akan ditumpanginya selama sepuluh jam perjalanan.

**
Pendidikan yang dahulu didapatkan Hangoluan dari sebuah sekolah yayasan Katolik tenyata sangat membawa pengaruh besar pada kehidupan Hangoluan di kemudian hari. Berkat pendidikan itu, Hangoluan menemukan ketertarikan yang luar biasa pada buku-buku. Hampir semua jenis buku dilahap oleh Hangoluan; mulai dari buku-buku bercocok tanam, cara memasak, pengobatan, hingga ke buku-buku filsafat.

Ketertarikannya pada buku-buku terlihat jelas malam itu di rumah kontrakannya. Hangoluan terlihat sibuk sekali. Sesekali, Hangoluan membaca buku yang ada di atas meja kerjanya lalu kemudian mengelindingkan kursi rodanya dari satu pojok ke satu pojok lain serta mengambil beberapa helai jenis tumbuhan dari sebuah kantong, memotongnya kecil-kecil lalu memasukkan dan menggabungkannya dengan beberapa jenis tumbuhan lain yang sudah terlebih dahulu dimasukkan Hangoluan ke dalam suatu wadah besar untuk kemudian direbus.

Setelah berjam-jam lamanya, apa yang dikerjakan Hangoluan, akhirnya selesai sudah. Hangoluan mengambil semangkuk kecil air dari rebusan tumbuh-tumbuhan tersebut, mendinginkannya lalu memberikan semangkuk kecil tersebut kepada seekor dari sekian banyak kucing yang dipelihara oleh Hangoluan.

Hujan tinggal rinai dan dingin ketika adzan subuh mulai terdengar sahut-menyahut dari satu puncak menara masjid ke puncak menara masjid yang lain saat Hangoluan merebahkan dirinya di atas tempat tidur reot miliknya. Perlahan Hangoluan memejamkan kedua kelopak matanya dan berharap dengan cemas agar malam cepat berlalu.

***
Matahari sudah meninggi saat Hangoluan terbangun dari tidurnya. Hangoluan menatap dalam-dalam ke arah kucing yang malam tadi telah dia berikan ramuan. Hangoluan menarik nafas dalam-dalam — ramuannya tidak membuahkan hasil. Segera setelah membasuh wajah sekenanya, Hangoluan menggelindingkan kursi rodanya menuju pasar tempat dia membuka usaha sebagai tukang jahit pakaian.

Beberapa orang sudah menunggu Hangoluan di depan tempat usahanya. Seorang perempuan separuh baya yang datang untuk menjemput jahitan pakaian yang dijahitkan kepada Hangoluan terdengar mengomel karena Hangoluan yang terlambat datang dan tidak seperti yang dijanjikan oleh Hangoluan beberapa hari sebelumnya. Hangoluan meminta maaf dan berkata bahwa dia sedang dalam kondisi yang kurang baik akhir-akhir ini. Perempuan itu memakluminya.

Hangoluan adalah seorang pribadi yang sangat baik, jujur, dan sangat ramah. Hampir setiap orang yang mengenal Hangoluan mengetahui bahwa tidak akan pernah ada satu cerita buruk apapun tentang Hangoluan yang berkeliaran dari mulut siapapun ke telinga siapapun. Hangoluan bersih dari segala macam fitnah.

Tepat jam empat sore, Hangoluan sudah tiba di rumah kontrakan miliknya. Hangoluan merasa lelah menggerogoti seluruh sendinya. Baru saja Hangoluan hendak merebahkan tubuh di atas tempat tidur reot-nya, secara tidak sengaja dia melihat kucing itu – kucing yang telah dia berikan ramuan subuh tadi. Hangoluan senang bukan kepalang. Tampak sumringah di wajahnya.

Seolah lupa akan lelahnya, dengan semangat membara Hangoluan langsung menuju meja kerjanya dan segera meracik ramuannya dalam jumlah yang sangat banyak. Wadah yang sebelumnya dia pakai untuk merebus ramuannya disingkirkan lalu segera menggantinya dengan ukuran yang jauh lebih besar.

Malam menggelinding lebih cepat dari gelinding kursi roda Hangoluan malam itu. Ketika cahaya matahari mengambil alih sisi-sisi gelap bumi Hangoluan dari sisa-sisa malam, Hangoluan sudah menyelesaikan bermacam-macam jenis ramuan miliknya dan sudah dikemas dalam kantong plastik dalam jumlah yang cukup banyak untuk kemudian dia bagi-bagikan kepada setiap orang yang akan dia jumpai hari itu.

Meski Hangoluan sama sekali tidak tidur sepanjang malam tadi, namun semangat yang ada di dalam dirinya seolah-olah telah menyedot energi semesta raya untuk digunakan membagi-bagikan ramuannya kepada setiap orang yang akan dia jumpai di pusat Kota tempat utama yang akan dia tuju hari itu.

Kepada polisi-polisi, kepada pegawai-pegawai di Balai Kota, kepada pendeta-pendeta, kepada ustadz-ustadz, kepada guru-guru sekolah, kepada para buruh, kepada para pelayan, kepada pengusaha-pengusaha, kepada siapa saja yang dia jumpai — ramuan tersebut dia berikan.

“Ayo…Gratis!” teriak Hangoluan bersaing dengan deru mesin-mesin yang melintas di padatnya kota.
“ Ini adalah ramuan Hangoluan. Ini adalah ramuan kehidupan. Sibaklah makna kehidupan dengan meminum ramuan ini,” ucap Hangoluan mantap kepada siapapun yang dijumpainya hari itu.

Sebelum matahari tepat di atas kepala, ribuan kantong plastik ramuan Hangoluan telah habis dibagikan. Bahkan, kepada supir mobil bak terbuka yang dia pakai jasanya untuk membantunya dalam membagikan ramuan itu, juga telah dia berikan sepuluh kantong ramuan selain sejumlah uang sebagai biaya jasa sesuai dengan kesepakatan mereka.

****
Menjelang maghrib seisi kota geger. Ribuan orang diketahui tiba-tiba mengalami permasalahan serius dengan tubuh-tubuh mereka. Lebih dari seribu orang diketahui mendadak mengalami kebutaan, lebih dari dua ribu orang mendadak mengalami kelumpuhan, dan sebanyak tiga ribuan orang mendadak tidak bisa berbicara dan mendengar.

Sementara itu, khusus pada kantor-kantor pemerintah ditemukan banyak kasus dengan kombinasi ke-empatnya, yakni; buta, lumpuh, bisu dan tuli.

Hingga malam jumlah laporan kasus terus bertambah. Walikota dengan segera mengumumkan situasi darurat. Hampir seluruh siaran di televisi dan berita-berita di internet melaporkan kasus tersebut. Kasus tersebut segera direspon serius pemerintah pusat dengan mengirimkan ahli-ahli terbaik untuk melakukan kajian cepat atas kasus tersebut.

Kementerian kesehatan melalui Pusat Krisis Kementerian Kesehatan segera menuju lokasi. Rumah-Rumah sakit penuh dan tidak dapat lagi menampung orang-orang berdatangan. Untuk mengatasi hal itu, Rumah Sakit Lapangan segera didirikan oleh para tentara di lokasi-lokasi yang dianggap aman.

Polisi dan tentara segera dikerahkan untuk mengendalikan situasi di lapangan yang semakin kacau, terlebih lagi karena merebaknya informasi-informasi dari sumber yang tidak jelas yang viral di sosial media yang menyatakan bahwa kontak langsung dengan orang-orang yang teridentifikasi mengalami kebutaan, kelumpuhan serta bisu dan tuli secara mendadak tersebut dapat menular melalui pernafasan dan kontak langsung.

Orang-orang panik. Kecurigaan antara satu dan yang lain merebak. Situasi kacau.

Banyak mobil-mobil, bus, sepeda motor berserakan tanpa tuan dimana-mana. Suara bising klakson bersaing dengan suara ambulance yang hilir mudik. Orang-orang terlihat bergerak ke segala penjuru tanpa tujuan. Suara menangis, panik, marah, menjerit terdengar dimana-mana.

Sementara para ahli dari multi disiplin ilmu masih sibuk melakukan penyelidikan atas merebaknya kasus-kasus tersebut, intelijen sudah memastikan bahwa ramuan Hangoluan adalah biang keroknya. Tim datasemen khusus dari kepolisian segera dikerahkan untuk mencari dan menangkap Hangoluan. Dengan peralatan lengkap dan canggih tim datasemen tersebut segera mengepung rumah kontrakan Hangoluan.

Tetapi, mereka tidak menemukan apapun kecuali sisa-sisa peralatan memasak yang berserakan di rumah Hangoluan serta kucing-kucing yang bebas berkeliaran di rumah maupun di pekarangan Hangoluan, dan seekor diantara kucing-kucing itu ditemukan dalam keadaan lumpuh dan sepertinya buta sekaligus bisu dan tuli.

Jauh di tempat terpisah di tanah kelahiran Hangoluan, polisi bersama dengan tentara juga sudah mengacak-acak tempat tinggal orangtua Hangoluan untuk mencari keberadaan Hangoluan. Ramai penduduk dusun tempat kelahiran Hangoluan berkumpul di rumah keluarga Hangoluan. Kedua orang tua serta tiga orang adik kandung hangoluan yang memilih untuk menetap di kampung halaman mereka terlihat diam seribu bahasa.

Sisa tangis dan tidak percaya dengan apa yang terjadi masih tampak di wajah mereka. Suara-suara rendah terdengar memenuhi seluruh sudut rumah itu. Tidak ada yang percaya bahwa Hangoluan adalah pelaku dari berita yang sudah merebak kemana-mana itu.

Sesekali terlihat beberapa orang laki-laki berpakaian sipil dengan alat komunikasi radio yang terselip di pinggangnya mewawancarai banyak hal tentang Hangoloan kepada warga dusun. Namun, apapun pertanyaan yang mereka tanyakan tentang Hangoluan, jawaban warga dusun hampir sama. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi atau dimana Hangoluan saat ini.

Tiga hari berselang, akhirnya Hangoluan ditangkap tim datasemen. Dia sedang makan mie ayam dan minum jus jeruk di sebuah warung kecil di sebuah desa kecil yang berjarak delapan belas jam perjalanan menggunakan bus dari kota di mana kekacauan olehnya terjadi. Hangoluan digiring tanpa terlebih dahulu diberikan kesempatan menghabiskan mie ayam dan jus jeruk di hadapannya.

Tidak butuh waktu begitu lama menyeret Hangoluan ke pengadilan, semua bukti dan saksi memberatkan serta berkas hukum perbuatannya, lengkap sudah. Seorang pengacara untuk Hangoluan disiapkan agar memastikan tidak ada hak-hak Hangoluan yang diabaikan selama proses pengadilan bejalan.

Di ruang persidangan pengadilan Hangoluan mengakui semua dakwaan yang ditujukan kepadanya. Ketika hakim menanyakan motif dari tindakan yang dilakukannya, Hangoluan menjawab motif utamanya adalah ingin mempertajam perasaan peradaban yang barangkali sudah tumpul ini.

“Karena sepertinya adalah mustahil bagi negara serta masyarakat ini untuk memberikan keadilan bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan berbeda seperti kami, maka aku berfikir untuk membuat kalian merasakan yang kami rasakan. Kami ingin memiliki akses yang setara dengan kalian atas pekerjaan. Kami ingin agar kami juga bisa mengakses jalanan, trotoar, kendaraan umum, toilet umum, tempat hiburan, kantor pemerintahan, rumah ibadah. Kami tidak ingin jadi pengemis. Kami tidak ingin dikasihani sebab tidak seorangpun yang layak dikasihani jika setiap orang mendapatkan hak-haknya. Kami ingin hak-hak kami dipenuhi. Namun, kami tahu, sepertinya negara tidak akan pernah memikirkan hal itu. Aku ingin kalian merasakan bagaimana perasaan orang yang menggunakan kursi roda seperti aku ketika harus masuk ke toilet kalian dengan cara mengesot dilantai yang dipenuhi dengan sisa-sisa air kencing dan ludah kalian. Aku ingin kalian merasakan bagaimana sakitnya ketika kalian tidak dapat melihat apa-apa lalu berjalan di tengah-tengah kota kalian yang angkuh ini. Aku ingin melihat, di selokan yang mana kira-kira kalian akan terjerembab. Aku ingin kalian merasakan ketika orang-orang berbicara di sekitar kalian tetapi kalian tidak bisa mendengar dan ketika kalian ingin mengucapkan sesuatu kalian tidak dapat melakukannya. Aku ingin tahu bagaimana caranya kalian akan berinteraksi dengan dunia beserta informasi yang ada di dalamnya. Aku ingin kalian merasakan sakitnya tidak diterima bekerja karena kalian berbeda,” ucap Hangoluan dengan mantap. Suara berat karena berusaha meredam amarah.

“Ini bukan balas dendam. Malah, peradaban ini perlu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada saya karena sudah membantu mereka menggunakan rasa yang ada pada mereka yang barangkali sudah tidak pernah lagi mereka gunakan” tutup Hangoluan.

Atas pengakuan tindakan Hangoluan, yang secara sadar dan meyakinkan telah mengakibatkan ribuan orang menjadi buta, lumpuh, bisu dan tuli, serta didukung dengan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat memberatkan Hangoluan, hakim kemudian memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Hangoluan.

Suara tertawa terbahak terdengar dari mulut Hangoluan memenuhi setiap sudut ruang persidangan pengadilan mendengar putusan hakim atas tindakannya. Sebelum petugas menggiring Hangoluan keluar dari ruang persidangan pengadilan, Hangoluan memekik keras dan teriak; “ …kalian sudah memenjarakan aku selama lima puluh tahun, bajingan!!!”

********************

Eko Manurung