Cerpen “Rumah Wak Tu”

KATA: AT Arief

AT Arief

“MASIH LAMA?”

“Sabar.”

“Berapa lama lagi?

“Tetap sabar!”

“Kau terus menyuruhku sabar. Aku bosan!”

“Di situasi begini, tinggal itu yang kita punya. Kalau bersabar pun sudah tak bisa, kau mau buat apa, ha?!” Toir mulai bosan hadapi pertanyaan berulang dari Ibar.

“Kenapa mukamu begitu?” Ibar bertanya lagi.

“Kenapa mukaku?”

“Kau mengungkit lagi, ya? Kau mau bilang ini semua karena kebodohanku ‘kan? Sudahlah Toir, bilang saja terus terang. Cukup sandiwaramu. Aku tahu, aku sadar dan sudah kuakui, ini salahku. Mengapa masih menyiksaku, seperti ini?”

“Apa pula kau ini? Kerjamu bikin keruh pikiran saja! Betul, kau ceroboh dan terburu-buru! Tapi, menyiksamu? Kuabaikan tuduhanmu yang tak menentu arah itu.”

“Buat apa kau ikut-ikutan sembunyi, Toir? Lagipula, niatku cuma mencerahkan, tak kurang-tak lebih. Orang-orang itu saja terlalu pandir, tak mampu menangkap pesanku. Ya, kuterima kemarahan mereka. Wajar. Tetapi buat apa kau ikut-ikutan bersembunyi? Supaya aku merasa bersalah kepadamu, begitu? Oh, baiklah. Itu pun kuterima.”

“Dasar pseudo-moralis!” segera ia tersadar, ”Ibar, sahabatku,” lanjutnya dengan suara normal kembali,” orang-orang itu hanya tahu kau dan aku sama. Sama-sama berhasrat mengubah keadaan. Mencerahkan seperti katamu, meruntuhkan mitos sesat itu. Coba ingat, selama ini siapa yang bersedia mendengar ocehan filosofi gombalmu itu, selain aku? Kekuranganmu, kau miskin dalam sabar. Suka menggampangkan. Lihat akibatnya!”

“Ha, betul dugaanku! Semakin jelas, kau sedang menyiksaku. Baik, aku terima siksaanmu ini.”

“Ah, sesukamu sajalah.”

“Oh, nasib badanku! Sudah diburu kemarahan orang-orang, sekarang aku harus bersembunyi dengan penyiksa kejam menyamar sahabat. Sudah berapa hari kita di dalam goa ini?”

“Ssst…pelankan suaramu. Orang-orang masih patroli mencari kita.”

“Ah, pandir!”

“Hei, siapa maksudmu?! Sabar, sedikit lagi!”

“Bukan kau, maksudku. Aku sudah tak sabar lagi!” Ibar sungguh keras kepala.

*

Kerumunan sedari tadi berkumpul di balai pertemuan. Suara obrolan riuh rendah. Dari kejauhan sekelompok orang berjalan terburu-buru. Seorang cebol berlari ke tengah kerumunan,”Sang Pemimpin datang! Aspirasi dan suara Saudara-saudara akan didengarkan! Sambutlah sang Pemimpin, Saudara-saudara!”

Mereka tepuk tangan dan bersorak kegirangan. Untuk sekian menit, orang-orang lupa peliknya persoalan yang melatarbelakangi pertemuan ini.

Mereka duduk di tempat masing-masing. Bunyi gong. Pertemuan resmi dimulai. Tanpa ba-bi-bu kerumunan langsung berebut bicara. Suara-suara tumpang-tindih. Sang Pemimpin kesulitan menangkap kalimat dengan jernih. Beberapa kali ia berbisik ke para penasihatnya, di samping kiri dan kanan.

Para tetua tak kalah sigap memberi isyarat tangan ke arah kerumunan. Kerumunan ini sedang kalap. Rasa marah sudah sampai di puncak kepala.

Di tengah kebisingan, Sang Pemimpin bersuara, “Saudara-saudaraku sekalian, saya mengerti, saya paham.” Semua diam terkesima. “Jujur, kami juga resah dengan cara berpikir generasi muda kini,” lanjutnya.

“Bukan generasi muda, dua anak muda saja, Pemimpin!” Interupsi dari kerumunan. “Betuul, betuul, betuul!” Teriak yang lain.

Sang Pemimpin mengangkat tangan kanan ke atas, “Ya, ya. Saya ralat, dua pemuda. Kami bersama para Penasehat serta para Tetua sudah bermusyawarah mengenai hal ini. Kami sudah merumuskan kesimpulan.”

“Apa itu, Pemimpin?” Teriak seseorang dari ujung sana.

“Apanya, Saudaraku?” Timpal Sang Pemimpin.

“Kesimpulan! Memangnya, apa lagi?” Sambut seorang lain dari ujung sini.

“Oh, sebenarnya bukan kesimpulan tapi keputusan,” sang Pemimpin tersenyum menunggu respon dari kerumuman, lalu ia lanjutkan, “menyeret kedua pemuda ini ke pengadilan terbuka!”

Kerumunan berseru. Salah seorang dari mereka maju ke depan, berdiri di antara barisan sang Pemimpin dan kerumunan.

“Yang Mulia, Pemimpin kami, mohon izin berpendapat. Perkenalkan, saya akrab dipanggil Pak Jrumus. Bukan nama sebenarnya, nama asli saya tentu tak ada harganya bila dibandingkan keagungan Tuan Yang Mulia. Maka, cukuplah Pak Jrumus saja, Tuan.”

“Silahkan Pak Jrumus, Saudaraku.”

“Tanpa meragukan cahaya kebijaksanaan Tuan Pemimpin beserta jajaran, terus terang kami kurang puas. Sorakan kami barusan, tentu Yang Mulia menangkap maksud kami.”

“Tentu, tentu saya paham. Tetapi mengapa tak puas, Saudaraku?”

“Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Kami bukan tak puas hanya kurang puas sebab hukumannya sama sekali tak sebanding dosa mereka, Tuan.”

“Oh iya, begitu. Betul sekali. Hukuman apa kira-kira yang pantas, Pak Jrumus?”

“Mereka harus diusir dari sini, Yang Mulia. Para pejahat dari dosa jenis lain pun tak ada yang menandingi kedurhakaan mereka ini. Dosa tiada ampun. Saya tak tega membayangkan wajah sedih para leluhur di alam sana melihat kejadian ini. Ruang persidangan kiranya terlalu suci bila dikotori dosa mereka. Bila persidangan diadakan, itu sama artinya mereka diberi ruang untuk subversif dan berkata tak pantas. Ah, peluang kedurhakaan lagi! Saya yakin, sebagaimana kita semua yakin, para dewa pasti mengutuk keras bila kecerobohan sama kita ulangi lagi.”

“Setuju! Setuju! Usir saja!” Suara-suara menyambut dari kerumunan.

Sang Pemimpin tak mau berlawanan dengan kehendak kerumunan ini. Ia pun menjawab, “Wah, sepertinya dari awal kita semua sependapat. Seperti sudah saya katakan, kami serius membahas soal ini. Anda semua tak perlu khawatir. Hahaha…,” Sang Pemimpin ketawa menjeda, ”Saya hanya ingin lihat reaksi Saudaraku sekalian. Keputusan saya sama dengan anda semua: usir kedua pemuda ini!”

Ini mana, Pemimpin?”

“Dua pemuda ini: yang merobohkan Rumah Wak Tu!”

“Tapi, mereka sedang sembunyi, tak kelihatan dimanapun!”

“Kita cari kedua pemuda itu!”

Itu mana lagi, Pemimpin?”

“Biar sembunyi di lubang semut pun, pemuda ini dan itu dicari sampai ketemu!”

“Hidup Sang Pemimpin! Mulia Sang Pemimpin!” Kerumunan bersorak girang. Pertemuan bubar.

**

“Dik, Anda pasti tahu, itu rumah peninggalan tokoh terbesar kita. Jasa Wak Tu mendirikan kampung ini tak boleh dinodai. Mengapa kalian merobohkan Rumah Wak Tu?”

“Salah, Pemimpin! Bukan kalian tapi Saya! Saya sendirian merobohkan. Sekali lagi, bukan rumah itu: rumah Wak Tu! Sama sekali bukan rumah itu, saya merobohkan sesat berpikir orang-orang. Ya, saya robohkan pakai tangan sendiri. Tapi, bukan itu intinya. Bukan, bukan! Saya mempercepat proses daur ulang peradaban. Menyambut datangnya pagi pencerahan.” Retorika Ibar di hadapan Sang Pemimpin.

“Tentu, tentu saya paham, Dik Ibar. Tak perlu ragu. Namun bagaimana kerumunan di luar sana? Apa mereka mengerti maksud Dik Ibar?”

Di saat bersamaan, di luar pagar pembatas istana Sang Pemimpin, orang-orang tak sabar  mendesak masuk untuk mengambil paksa Ibar.

“Ah, orang-orang itu! Tahu apa mereka tentang masa depan?”

“Ya, Dik. Betul. Mereka hanya kerumunan.” Sahut Sang Pemimpin.

“Buat apa mereka memuja rumah peninggalan Wak Tu tanpa sedikit pun mewarisi etos dan semangat sang pendiri kampung itu. Tak ada lagi gotong royong, tak ada lagi saling menyembuhkan satu sama lain. Basa-basi. Lagipula, apa masih ada yang merawat rumah itu? Nihil.”

“Eh, Dik Ibar jangan mendakwa saya?”

“Fakta, saya sampaikan fakta.”

“Hmm…Dik, Ada situasi darurat di sini. Jangan lari dari persoalan. Fokus dulu.”

“Hah, siapa bilang saya lari? Saya justru datang kemari dengan gagah berani.”

Kerumunan itu, Dik. Mereka mendesak masuk ke mari. Mereka mau hukum Adik dengan tangan mereka sendiri.”

“Ah, orang-orang itu!”

Obrolan reda sejenak, Ibar dan Sang Pemimpin berdialog dengan diri masing-masing. Dari luar, terdengar teriakan bernada marah silih berganti.

“Sekarang, Dik Ibar maunya apa?” Sang Pemimpin memulai pembicaraan lagi.

“Saya mau semua orang-orang itu dicerahkan.”

“Iya, Dik. Saya juga maunya begitu. Tapi sabar, ada waktunya, nanti.”

“Sabar lagi, sabar lagi! Ada saja yang menyuruhku sabar.”

“Memangnya, siapa lagi, Dik?”

“Oh, tidak. Tidak ada. Maaf, tidak ada.”

“Dik Ibar mesti sabar. Pikirkan situasi dan risiko yang mungkin Dik Ibar hadapi sekarang ini.”

Obrolan mereka reda lagi. Prang! Dari luar, sebongkah batu sekepal tangan melayang pecahkan kaca jendela ruangan. Mata Ibar melotot, terkejut. Puing kaca jendela berserakan. Sang Pemimpin mengamati Ibar.

“Baik, sekarang Dik Ibar putuskan!” Nada suara Sang Pemimpin meninggi.

“Keputusan saya tetap!” Ibar membalas tak kalah sengit.

“Apa itu, Dik?”

“Pencerahan!”

“Baik, saya mengerti.” Sang Pemimpin bangkit dari tempat duduk, ”Dik Ibar, ikut saya,” lalu berjalan ke arah balkon dan membuka pintu. Ibar dengan kondisi setengah bingung mengikuti dari belakang.

Dari atas balkon, Sang Pemimpin berpidato ke arah kerumunan. Suaranya lantang menggelegar, tiga puluh menit lamanya ia berpidato. Di bawah sana, kerumunan orang-orang menyaksikan dengan mulut ternganga. Mereka terpesona saksikan pidato Sang Pemimpin.

Di sela pidatonya, sesekali Sang Pemimpin merangkul atau menepuk bahu Ibar. Senyum puas tak lepas dari bibirnya. Entah sihir apa bekerja, kerumunan orang-orang terbius dan bubar ketika Sang Pemimpin usai berpidato. Reda amarah mereka. Keadaan kembali normal sediakala.

Sambil tertawa puas, Sang Pemimpin mengajak Ibar kembali masuk ke dalam ruangan. Sembari berjalan, tangan Ibar dibimbing Sang Pemimpin. Mereka kembali duduk di tempat semula. Sesekali, angin berhembus masuk dari pintu balkon terbuka.

***

Toir terbangun dari tidur. Kepalanya terasa sedikit pusing. Samar-samar, ia coba mengingat adegan terakhir sebelum jatuh tertidur.

Oh, ia ingat! Ibar memberinya jamur untuk dimakan. Seperti kata Ibar, jamur ini tumbuh di sekitar mulut gua.

Perlahan Toir mengusap mata, dicarinya sosok Ibar di sekeliling gua. Ibar tak nampak di sudut manapun. Toir mengatur nafas sejenak, lalu berjalan perlahan menuju luar gua. Matahari condong bergerak ke arah barat.

Tap! Langkah kakinya berhenti tepat di garis pintu keluar-masuk gua.

Ia terpaku menatap tajam. Di tanah lembab ini, ada guratan berbunyi, “Lari! Pilih jalanmu sendiri! Kita memang berhasil merobohkan rumah Wak Tu, namun kita belum berhasil meruntuhkan mitos Wak Tu!” 

Sepotong ranting kering tergeletak di atas tanah, di salah satu ujungnya, bekas korekan tanah tampak telah mengering.

*******************

AT Arief

Pendiri Klub Kajian Budaya