Dampak Covid-19, Pedagang Buku Bekas: Uang Tunai Lebih Baik Ketimbang Sembako

Ketua Asosiasi Pedagang Buku Lapangan Merdeka, Donald Sitorus, saat ditemui Tataberita di kiosnya, Lapangan Merdeka Medan, Kamis (30/4/2020) (Foto: TataBerita)

| Dampak wabah virus Corona (Covid-19) turut menghantam pemasukan ekonomi sektor informal, seperti pedagang buku bekas di Lapangan Merdeka Medan. Di tengah situasi ini, para pedagang buku bekas menganggap pemerintah lebih baik memberikan uang tunai ketimbang paket sembako.

“Pemerintah bijaklah, daripada dikasih sembako lebih baik dikasih BLT (Bantuan Langsung Tunai-red) uang cash (tunai). Ketika rakyat terima uang cash, dia bisa belanja di sekitar rumahnya. Artinya, ada perputaran uang di sekitar rumahnya. Dan, dia kan pasti belanja sesuai kebutuhannya. Ini, mohon maaflah, ada yang dikasih biskuit, untuk apa biskuit sama dia,” ujar Ketua Asosiasi Pedagang Buku Lapangan Merdeka, Donald Sitorus, kepada Tataberita, di Jl Stasiun Kereta Api Lapangan Merdeka Medan, Kamis (30/4/2020).

Donald mengkritik bantuan sembako hanya sekedar proyek pemerintah yang tak jelas manfaatnya bagi masyarakat.

“Ini kan jadi proyek-proyek (pemerintah) tak jelas (manfaat bagi rakyat) lagi. Taruhlah, dibagi sembako, uangnya kemana? Kan ke pusat-pusat lagi, mereka yang tarik uangnya. Ini perputaran uang (di masyarakat) nggak ada lho, mati lho, Bang,” ungkap pedagang yang sudah menekuni pekerjaan ini selama 25 tahun.

Sejauh ini, ujar Donald, terkait pandemi Covid-19, pihaknya belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Sementara itu, tingkat kunjungan pembeli ke lapak kios buku Lapangan Merdeka Medan menurun drastis.

“Terutama, sektor informal seperti kami inilah, banyak kami udah buka seminggu pun nggak buka dasar (nihil penjualan). Sementara bantuan dari pemerintah pun nggak ada. Penurunan pengunjung, kalau ada seribu persen, seribu persen lah penurunannya,” imbuhnya.

Menurut Donald, bagi pekerja sektor informal seperti pedagang buku, bencana ekonomi lebih mengerikan ketimbang Covid-19.

“Luar biasa dampaknya, Bang. Sama kami, sekarang ini yang bahaya itu bukan virus Corona tapi virus Congorna. Ya itu tadi, nggak makan lagi mulut ini udah. Anjuran negara suruh kita makan makanan bergizi, cemana mau bergizi, syukur masih bisa makan pakai garam. Ini lebih ngeri ngeri bencana ekonominya,” pungkasnya. (tb)