Demokrasi (Kekeluargaan) Kita*

KATA: BUNG JEMIE

BUNG JEMIE

Bung,

POLITIK KEKELUARGAAN tampaknya terus berkelindan dalam atmosfir demokrasi kita. Reformasi yang dulu digadang-gadang akan membabat total nepotisme—yang setali tiga uang dengan korupsi, dan kolusi—, ternyata hanya bak obat pereda rasa nyeri sementara. Habis masa reaksi medisnya, ia kembali kambuh. Meradang. Bahkan sekarang mendapatkan pembenaran atas nama demokrasi.

Sekadar menyebutkan contoh; ketua umum partai menyiapkan anaknya jadi pengganti kelak—ia sendiri belum tergantikan sebagai ketua partai setelah berperiode-periode, anak dan menantu presiden persiapkan diri jadi walikota, isteri kepala daerah jadi ketua DPRD, anak bekas presiden calonkan diri jadi presiden, anak bekas presiden jadi anggota legislatif, d.l.s.b-nya. Dalilnya pasti ada, hak tiap orang—dalam demokrasi—untuk menjabat posisi ketua organisasi dan/atau calonkan diri jadi kepala daerah; asalkan anggota organisasi atau pun rakyat mendukung.

Apa yang salah?

Ya, tak ada! Betul, sampai bulu-bulunya!

Sepanjang kita membuka lembaran undang-undang, tak satu pasal pun yang dilanggar. Tapi dapatkah kita membayangkan, misalnya dalam sebuah negara, bapaknya presiden, mertuanya ketua DPR dan pamannya  Ketua Mahkamah Agung. Dia sendiri, seorang walikota.

Kita bisa saja membuat permainan pikiran ini lebih absurd lagi dengan menambahkan anggota keluarganya yang lain: anak, keponakan, ipar, dan lain-lain juga menduduki posisi jabatan publik. Semua kedudukan itu didapat melalui jalan yang demokratis (paling tidak, katanya begitu). Yang terjadi kemudian akan banyak persoalan umum tidak diselesaikan di meja persidangan, tapi malah di meja makan.

Batas antara yang publik dan yang privat benar-benar kabur!

Pun, kalau ada yang dilanggar mungkin hanya etika politik saja, tapi siapa peduli dengan etika ketika politik praktis mempertontonkan sifatnya yang paling purba: tak ada lawan dan kawan yang abadi.

Bung,

Zaman Orde Baru dulu, politik kekeluargaan memang jadi alat kekuasaan menjalankan roda pemerintahan. Birokrasinya dijiwai rasa kekeluargaan ini. Soeharto sendiri, ditokohkan sebagai Sang Bapak bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia mengayomi. Apa yang dilakukan bapak adalah baik bagi seluruh anak-anaknya—rakyatnya. Ia bijaksana belaka. Pun kalau ada yang tak elok dilakukan Bapak, mana ada anak yang berani mengingatkan, mengkritik, apa lagi melawan—walaupun dalam folklor kita, belum ada anak jadi batu ketika melawan bapak.

Rakyat tidak akan menyusun kekuataan, membuka kelas-kelas penyadaran, memperkenalkan Marx, Mao, Tan Malaka, dan Che Guevara, lalu melakukan agitasi dan provokasi kepada anggota keluarga lain untuk menjatuhkan atau menggantikan Bapak—kepala pemerintahan sekaligus kepala keluarga itu. Tak ada kudeta dalam keluarga. Itu melawan takdir, melawan kehendak langit. Inilah kesadaran umum yang ada pada waktu itu. Kesadaran kritis mungkin milik beberapa orang aktifis, intelektual dan karena tekanan kepentingan kesadarannya juga jadi naif.

Dengan jiwa kekeluargaan ini kemudian seluruh birokrasi diisi oleh keluarga, kroni-kroni, handai taulan, atau orang-orang yang kalau ditelusuri satu per satu punya hubungan non-profesional. Melalui keluarga dan semangat kekeluargaan, semua persoalan di negeri ini adalah masalah keluarga dan akan diselesaikan secara kekeluargaan.

Bung,

Perlu diingat juga, dalam keluarga kita tak pernah memilih dan mengangkat siapa yang jadi kepala keluarga. Ia sesuatu yang begitu saja datang dari langit. Takdir Tuhan. Seseorang pada waktunya akan berperan sebagai kepala keluarga.

Agaknya peran itu juga yang dulu dijalankan Soeharto. Walaupun ada proses Pemilu, tapi seolah-olah saja. Rakyat sudah tahu—dan karena kesadaran magisnya—tak rela juga kalau peran Bapak dijalankan orang lain sebab ia memang milik Soeharto seorang.

Bung,

Kalau ditelisik lagi, model politik kekeluargaan ini bukanlah warisan orde baru saja, jejaknya juga ada pada Soekarno. Dulu, Soekarno juga menokohkan diri sebagai bapak rakyat Indonesia, lengkap dengan segala macam agitasi dan propaganda, bahkan sampai muncul dalam lirik lagu—karangan Soekarno sendiri: “Siapa bilang bapak dari Blitar, Bapak kita dari Prambanan, siapa bilang rakyat kita lapar, Indonesia banyak makanan …”

Pun, kalau diurut-urut lagi, maka asal-usulnya akan kita temui sampai jaman kerajaan di Jawa. Ajaran manunggaling kawula lan gusti adalah salah satu pengejawantahan politik kekeluargaan ini. Raja adalah wakil Tuhan di bumi, kawula—rakyat—hanya bisa bersatu, selaras dengan yang di langit, mematuhi titah raja.

Bung,

Zaman berganti. Revolusi Perancis adalah satu tonggak pembuktian dimana Raja bukanlah sesuatu yang diturunkan dari langit. Langit tak protes—atau malah setuju—ketika kepala Raja dipenggal. Sekarang suara Tuhan ada pada rakyat. Vox Populi, Vox Dei! Semangat: Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan—bukan kekeluargaan, ya!—menggema sejak waktu itu sampai sekarang.

Tapi begitu, mungkin karena kita tidak benar-benar mengalami revolusi ala Perancis itu, demokrasi kita masih kental rasa kekeluargaannya. Makanya sekarang, walaupun demokrasi telah menjadi nafas zaman dan menjadi diskursus umum, kasus anak presiden maju jadi walikota, anak ketua partai disiapkan jadi ketua partai masih mudah kita temukan.

Dan kita, karena memang melawan dan melanggar undang-undang, dan mendapat dalihnya pula dalam kesadaran magis kita—sebagaimana nenek moyang kita dulu—, menganggap semuanya baik-baik saja. Alam bawah sadar kita menyatakan tidak ada yang salah dengan ini semua.

Siap-siap saja, satu kali Presiden dan Ketua DPR adalah suami-isteri, persoalan negara bukan hanya diselesaikan di meja makan, tapi juga di atas ranjang!

Medan, 9 Januari 2020

Salam dari tumpukan buku loak!

Jemie Simatupang

Pedagang Buku Bekas dari Medan

*Mohammad Hatta (Wapres RI pertama) pernah menerbitkan tulisan berjudul ‘Demokrasi Kita’ (1960)

NB:

Bung, yang kita diskusikan di atas adalah organisasi bernama negara, yang notabene diawasi berjuta-juta rakyat, kalau di tingkat organisasi masyarakat biasa, walau berwatak modern, keadaannya bisa lebih gawat lagi. Tak percaya, cek saja!