Diskusi Buku Hata Ni Debata: Ritus Parmalim, Salah Satu Tertua Di Bumi

Penulis buku Hata Ni Debata, Irwansyah Harahap (3 dari kiri), berfoto dengan sebagian peserta diskusi (Foto:TataBerita)

Medan, TataBerita | Diskusi buku Hata Ni Debata (2016) tulisan Irwansyah Harahap berlangsung di D’Caldera Coffee, Jl Sisingamangaraja, Medan (19/12/2019). Diskusi diisi langsung Irwansyah, moderator Jhon Fawer Siahaan dan dihadiri pegiat budaya, akademisi, pers, termasuk kurator seni asal Malaysia.

Buku Hata Ni Debata adalah hasil penelitian mendalam Irwansyah terhadap masyarakat Parmalim, Batak Toba, di Huta Tinggi, Kabupaten Tobasa. Buku ini menggambarkan konteks sosio-historis, spiritualitas, etnomusikologis dalam konteks kebudayaan komunitas Parmalim.

“Embrio buku ini tahun 1993, saat ikut kelas antropologi-religi di Amerika, saya menulis esai tentang komunitas Parmalim. Lalu, saya teruskan penelitian lapangan selama 4 tahun dibantu Toyota Foundation¬† dan menerbitkan buku ini secara mandiri,” terang Irwansyah.

Irwansyah menyinggung, banyak tulisan tentang komunitas Parmalim yang tidak in-touch (bersentuhan langsung) dengan komunitas tersebut. Akibatnya, sering terjadi bias dalam tulisan-tulisan itu. Dari sekian banyak tulisan tentang Parmalim, ia menyebut karya Masashi Hirosue paling representatif dan objektif.

“Tren dunia paska perang dunia 2 adalah modernisasi termasuk merambah institusi religi, bisa dilihat dari manifestasi bangunan rumah ibadah. Hal ini juga berdampak pada psikologis, tanpa sadar kita menganggap Sang Pencipta hanya ada di dalam rumah ibadah,” sebut Irwansyah.

Salah seorang peserta diskusi, Jhon Simanjuntak, mengatakan sekarang ada kekeliruan tentang konsep milenial.

“Negeri ini mengalami paradoksal konsep milenial. Milenial bukan hanya bisnis online atau sejenisnya, kita mesti bijak. Di era milenial ini kita diajari mengejar uang saja, lupa mengejar ilmu. Sangat melenceng dari konsep milenial seperti uraian Hirosue ketika meneliti sosok milenial Sisingamangaraja XII. Tengok saja remaja kita keranjingan budaya korea, budaya pop pula bukan tradisinya,” ujar Robert.

Menurut Irwansyah, ritus Parmalim mempraktikkan keseimbangan berkehidupan, termasuk dengan alam.

“Kalau mau melihat salah satu ritus tertua di bumi, bisa dilihat pada masyarakat Parmalim. Ritusnya dilaksanakan di alam terbuka sehingga masih ada hak makhluk lain atas lokasi tersebut. Di Abad 21 ini, kita semestinya tak bermental developmentalisme berwatak ekonomi eksploitatif sampai merusak alam dan lingkungan. Parmalim mengajarkan itu,” ujar Irwansyah. (tb)