Diskusi Membangun Danau Toba, Rosramadhana: Lakukan Pendekatan Keilmuan, Jangan Abaikan Peran Perempuan

Antropolog, Rosramadhana Nasution (kiri), dalam diskusi "Membangun Danau Toba Dari Berbagai Perspektif" di D'Caldera Coffee Jl Sisingamangaraja Medan, Sabtu (31/1/2020) (Foto: TataBerita)

Medan, TataBerita | Penerapan regulasi kebijakan pembangunan danau Toba, selama ini, kurang memperhatikan pendekatan keilmuan, khususnya bidang antropologi. Inilah sebabnya banyak pembangunan di kawasan danau Toba kurang menyentuh kebutuhan riil masyarakatnya. Hal ini diungkapkan Antropolog, Rosramadhana Nasution, dalam diskusi “Membangun Danau Toba Dari Berbagai Perspektif” di D’Caldera Coffee Jl Sisingamangaraja Medan, Sabtu (31/1/2020).

“Sangat disayangkan, pembangunan danau Toba selama ini, kurang memperhatikan pendekatan antropologis dalam aplikasi kebijakannya. Inilah sebabnya, banyak pembangunan di sana tidak sesuai dengan aspirasi masyarakatnya,” ujar Rosra.

Dalam diskusi yang juga menghadirkan narasumber Sutrisno Pangaribuan (pegiat sosial) dan Martogi Sitohang (seniman), moderator Rico Nainggolan dan dihadiri puluhan pegiat wisata dan isu lingkungan danau Toba ini, Rosra menekankan pentingnya mendahulukan pendekatan kultural ketimbang regulasi dalam pembangunan masyarakat di kawasan danau Toba.

“Dari sudut pandang antropologi, bagaimana kita mengedukasi dan memberdayakan masyarakatnya terlebih dahulu. Dalam pemberdayaan ini, tak perlu terlalu berat-berat dan langsung menekankan aspek regulasi. Ada pendekatan budaya yang harus dilaksanakan, misalnya dengan pengembangan kearifan lokal. Perlu kolaborasi pembangunan danau Toba. Selama ini, memang ada regulasi tapi tanpa uji riset dulu, lebih kepada kepentingan-kepentingan (jangka pendek),” terangnya.

Tak lupa, Rosramadhana juga mengingatkan agar peran perempuan tidak dikesampingkan dalam pembangunan kawasan danau Toba.

“Danau toba adalah sumber penghidupan masyarakatnya, oleh sebab itu, kita tak bisa mengabaikan kebiasaan-kebiasaan hidup di situ. Sebagai contoh, ibu-ibu mencuci pakaian di danau Toba dan menggunakan deterjen berbahan kimia. Ini kan nggak bisa dipaksakan, kita harus perhatikan habit-nya. Pembangunan danau Toba, peran ibu rumah tangga juga penting. Kita kadang terlalu berat berbicara soal infrastruktur, suka lupa sama peran perempuan di situ,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rosra menegaskan diperlukan pendekatan persuasif terhadap masyarakat di kawasan danau Toba.

“Perlu cara-cara persuasif untuk membangun dan mengembangkan danau Toba. Tidak bisa top down, tapi bottom up,” pungkasnya. (tb)