Diskusi Membangun Danau Toba, Sutrisno Pangaribuan: Dunia Ke Depan Krisis Air Bersih, Jernihkan Air Danau Toba

Sutrisno Pangaribuan (baju hitam) dalam diskusi "Membangun Danau Toba Dari Berbagai Perspektif" di D'Caldera Coffee Jl Sisingamangaraja Medan, Sabtu (31/1/2020) (Foto: TataBerita)

Medan, TataBerita | Dunia ke depan akan mengalami krisis air bersih. Oleh karenanya, danau Toba sebagai danau alam dengan luas 1.130 km² dan kedalaman maksimal 1600 m mampu menampung air dalam jumlah banyak dan berlimpah harus diselamatkan. Hal ini diungkapkan pegiat sosial, Sutrisno Pangaribuan, dalam diskusi “Membangun Danau Toba Dari Berbagai Perspektif” di D’Caldera Coffee Jl Sisingamangaraja Medan, Sabtu (31/1/2020).

“Dunia ke depan akan menghadapi 3 krisis, krisis energi, krisis pangan dan krisis air bersih. Hal pertama yang harus dibenahi danau Toba, kembalikan airnya seperti semula, jernihkan airnya. Kita harus nyatakan bermusuhan dengan siapapun yang merusak kawasan hutan di danau Toba,” ujar Sutrisno.

Dalam diskusi yang juga menghadirkan narasumber Rosramadhana Nasution (akademisi) dan Martogi Sitohang (seniman), moderator Rico Nainggolan dan dihadiri puluhan pegiat wisata dan isu lingkungan danau Toba ini, Sutrisno pun mengkritik pendekatan regulasi pembangunan di kawasan danau Toba selama ini kurang tepat.

“Saya menganggap penambahan kapal feri di danau Toba tidak tepat. Pulau Samosir sebaiknya ditata dengan pendekatan berbeda. Kalau kapal feri yang diperbanyak, artinya polusi kendaraan bermotor akan bertambah di Samosir. Mestinya yang dibantu itu kapal-kapal penyeberangan milik masyarakat bukan pengusaha besar. Terus, di Samosir, berdayakan masyarakat untuk penyewaan sepeda. Pendapatan ekonomi masyarakat bertambah, kelestarian alam pun terjaga,” tegasnya.

Ia pun menambahkan, pintu masuk wisatawan ke kawasan danau Toba harus dimaksimalkan dari berbagai lini.

“Sewaktu saya jadi Pimpinan Komisi D DPRD Sumut (2014-2019), kita bergerak cepat saat teman-teman dari Kabupaten Karo, Pakpak Bharat dan Dairi meminta pengembangan jalan Medan-Berastagi. Sudah saatnya, pintu masuk ke danau Toba juga dikembangkan dari jalur berbeda dari sebelumnya, seperti kita ketahui selama ini, kalau kita mau ke danau Toba, pasti selalu masuk dari Siantar dan seterusnya,” pungkasnya. (tb)