Diskusi Politik Global, Irwansyah Hasibuan: Munculkan Pemimpin Medioker, Parpol Perpanjangan Oligarki Global

Pengamat sosial-politik, Irwansyah Hasibuan (kiri), saat diskusi "Dampak Politik Global Terhadap Indonesia" yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020). (Foto: TataBerita)

Medan, TataBerita | Partai politik sekarang hanya mampu munculkan pemimpin publik berkapasitas medioker (kemampuan setengah-setengah) dari tingkat nasional sampai Kabupaten/Kota membuktikan bahwa mereka pun tak lebih dari perpanjangan oligarki (sekelompok kecil orang) global. Ekonomi kita berwatak ekonomi ekstraktif (bahan mentah tanpa pengolahan) pun dimainkan oligarki politik-ekonomi demi kepentingan modal luar.

Partai politik yang dikuasai segelintir kecil orang juga mencerminkan hal tersebut. Hal ini diungkapkan aktivis sekaligus pengamat sosial-politik, Irwansyah Hasibuan, saat menjadi salah seorang narasumber diskusi “Dampak Politik Global Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020).

“Ada sekelompok kecil konglomerat yang bermain, termasuk di parpol. Parpol lesu kader, cuma bisa hadirkan pemimpin medioker yang bisa diatur. Maka jangan heran, infrastruktur yang kita bangun mengalirkan dana luar dan oligarki lokal mendapat bagian masing-masing. Birokrasi dan pemodal lokal tunduk terbungkuk-bungkuk pada kepentingan global,” ujar Irwansyah.

Diskusi “Dampak Politik Global Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020) (Foto: TataBerita)

Diskusi yang juga menghadirkan Shohibul Ansor Siregar (akademisi) dan Jainal Pangaribuan (pegiat pertanian) dan dimoderatori Robby Sirait ini, Irwansyah menambahkan, mental oligarki Partai Politik ini sebenarnya warisan kolonialisme.

“Indonesia adalah negara pertama yang membawa isu besar dalam proklamasi kemerdekaannya, kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Sayang, nilai ini belum bisa diaktualisasikan sepenuhnya. Mental oligarkis seperti hari ini dengan mudah bisa kita lihat jejak-jejak kolonial di dalamnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Irwansyah mengkritisi agenda kontestasi politik dan kepedulian masyarakat kampus.

“Saat ini, ketika membicarakan Indonesia, kita terus diinterupsi oleh agenda-agenda Pilkada dan Pemilu sehingga kita tak punya waktu memikirkan nasib bangsa ke depan.
Mestinya, gejala perubahan Indonesia ditandai dari geliat kampus. Namun, kondisi kampus hari ini sepertinya menghindar dari pembicaraan serius seperti yang kita lakukan sekarang ini,” tegas Irwansyah.

Irwansyah menyimpulkan, oligarki bila tidak diutak-atik dan dijamah, kondisi Indonesia akan begini-begini saja.

“Dalam ilmu sosiologi, masyarakat kita menyumbang teori amock. Artinya, secara historis kita terlatih menumbangkan pemimpin, mulai dari Sukarno sampai Gus Dur,” pungkasnya. (tb)