Diskusi Politik Global, Jainal Pangaribuan: Saya Sederhana, Mulai Saja Tanam Pohon Nira

Pegiat pertanian, Jainal Pangaribuan (tengah), saat menjadi narasumber diskusi "Dampak Politik Global Terhadap Indonesia" yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020) (Foto: TataBerita)

Medan, TataBerita | Negara masih melindungi pengusaha besar demi pendapatan pajak. Selama pengelolaan ekonomi Indonesia masih bercorak kapitalisme global seperti ini, Indonesia tidak akan pernah mandiri secara ekonomi.

Hal ini diungkapkan pegiat pertanian, Jainal Pangaribuan, saat menjadi salah seorang narasumber diskusi “Dampak Politik Global Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020).

“Kalau masih mempertahankan cara-cara demikian dipakai dalam mengelola negara ini, itu artinya kita masih terjajah. Misalnya, kita lihat defisit neraca perdagangan negara kita sekarang ini minus 1,33 miliar US dolar. Kita perlu resolusi, coba kita lihat bagaimana negara melindungi pengusaha besar demi pajak, ini kan kepentingan kapitalisme global,” terang Jainal.

Diskusi “Dampak Politik Global Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020) (Foto: TataBerita)

Diskusi yang juga menghadirkan Irwansyah Hasibuan (pengamat sosial-politik), Shohibul Ansor Siregar (akademisi) dan dimoderatori Robby Sirait ini, Jainal mengatakan persoalan ekonomi yang menjepit negeri ini harus diselesaikan bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa.

“Ini persoalan kita, bukan hanya pemerintah, perguruan tinggi, dan lainnya. Sekarang, bagaimana kita ikut bersama-sama berkontribusi menyelesaikan masalah kita. Terlalu lama nasionalisme sekedar imajinasi, padahal nasionalisme ini datangnya dari kita untuk kita. Apapun yang terjadi dalam konstelasi global, kita harus sepakat bangsa ini harus tetap teguh berdiri,” tegasnya.

Untuk itu, Jainal mengajak setiap orang melakukan perubahan dari diri sendiri. Mulai dari hal terdekat yang bisa dilakukan. Ia mengaku, sejak tahun 2003 sudah menggerakkan menanam pohon nira dari kampung ke kampung.

“Kalau saya sederhana aja, saya tanamin aja bagot (nira-red) di kampung-kampung. Mau bersaing secara global, kita punya apa? Secara fisik, kita nggak punya apa-apa. Secara spirit, kita masih punya semangat kebangsaan. Bagot ini bukan tanaman ecek-ecek. Saya mengajak kita semua tanam bagot, di masa depan akan bermanfaat untuk anak cucu kita,” pungkasnya. (tb)