Diskusi Politik Global, Shohibul Siregar: Indonesia Tak Punya Posisi Istimewa, Kembalilah Ke Jati Diri Sesungguhnya

Shohibul Ansor Siregar (dua dari kiri) dalam diskusi "Dampak Politik Global Terhadap Indonesia" yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020) (Foto: TataBerita)

Medan, TataBerita | Dalam konstelasi polemik internasional, khususnya Amerika dengan Iran, Indonesia sama sekali tak ada posisi istimewa. Indonesia pun semakin kurang diperhitungkan di kancah internasional karena tata kelola dalam negeri yang tak menentu.

Hal ini diungkapkan akademisi, Shohibul Ansor Siregar, saat menjadi salah seorang narasumber diskusi “Dampak Politik Global Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020).

“Indonesia tidak punya hubungan intens dengan dunia Timur Tengah kecuali urusan sosial, seperti haji dan umrah. Faktanya, kasus-kasus kekerasan internasional yang melibatkan komunitas Islam (Rohingya, Uighur, dll), negara secara struktural tidak berbuat apa-apa. Jauh dari konsep politik luar negeri bebas-aktif seperti digariskan Natsir dan Syahrir,” ungkap Shohibul.

Diskusi “Dampak Politik Global Terhadap Indonesia” yang diselenggarakan Literacy Coffee, Jl Jati II Medan, Rabu malam (22/1/2020) (Foto: TataBerita)

Ketika menyinggung proyek One Belt One Road (OBOR) China, diskusi yang juga menghadirkan Irwansyah Hasibuan (pengamat sosial-politik) dan Jainal Pangaribuan (pegiat pertanian) dan dimoderatori Robby Sirait ini, Shohibul mengatakan tak percaya bahwa megaproyek negeri panda ini akan kolaps (roboh) karena kekurangan biaya.

“OBOR adalah sesuatu yang ambisius. Saya ada baca tulisan di jurnal yang mengatakan OBOR ini akan kolaps karena biayanya yang terlalu besar. Saya tidak percaya itu karena faktanya di Indonesia, uang kita sendiri yang dipakai untuk membangun OBOR lewat hutang luar negeri,” tegasnya.

Shohibul pun meragukan rencana penyatuan mata uang ASEAN sebagaimana gagasannya dicetuskan Perdana Menteri Malaysia, Tun Mahathir Muhammad pada tahun 2019 lalu.

“Kekuatan ASEAN itu tidak ada, negara-negara ASEAN ini sama seperti orang sakit. Sesama orang sakit saling mengunjungi dan menyemangati,” sindirnya.

Ia pun mengajak untuk kembali ke tujuan dan jati diri bangsa sesungguhnya.

“Kita perlu mempertanyakan ulang apa tujuan bernegara? Bangun jembatan atau melindungi warganya? Dimana letak esensi kenegaraan dan kebangsaan Indonesia? Terletak di Pembukaan UUD 1945, ada 5 jangkar di situ. Untuk keluar dari jebakan global hari ini, kembalilah ke jati dirimu, ke welfarestate (negara kesejahteraan-red). Pastikan keterjaminan pendidikan dan kesehatan. Cukupkan konsumsi dalam negeri selain stabilitas,” pungkasnya. (tb)