Kata Wara: Bobby Nasution Jadi Balon Walkot?

KATA: Wara Sinuhaji

Wara Sinuhaji, Pengamat Sosial & Dosen Sejarah USU

BEBERAPA bulan terakhir, setelah riuh politik Pilpres berakhir, geliat politik di kota Medan kembali marak terkait Pemilihan Kepala Daerah serentak yang akan dilaksanakan tahun ini. Medan kembali akan ikut dalam “pertarungan” kontestasi Walikota.

marak opini serta wacana muncul dari kader partai maupun non-partai memperlihatkan syahwat politik, ingin salurkan hasrat menjadi orang nomor satu, melawan Akhyar Nasution sebagai petahana. Beliau baru beberapa bulan menjadi Plt Walikota, menggantikan Walikota Zulmi Eldin yang telah “sekolah” ke bui Komisi Pemberantasan Korupsi.

Siapakah Bobby Nasution? Jujur, sebagai pengamat sosial, saya hampir tidak pernah mengenal nama beliau di kancah dunia politik di Medan ini. Walau kabarnya dia putra salah satu mantan direktur PTPN di kota ini, namun tetap saja, kiprah apa yang telah beliau perbuat tidak pernah terdengar.

Salah satu kandidat yang punya hasrat tinggi untuk menata dan membenahi Medan adalah Bobby Nasution. Sebagai anak Medan yang masih muda belia, beliau merasa miris melihat kota yang semrawut, amburadul dan tidak tertata sebagaimana layaknya sebuah kota.

Beliau merasa terpanggil kota ini, mungkin juga tersentuh karena sejak kecil dan belum mengerti politik, dia telah merasakan, separuh dalam usianya bagaimana tiga orang Walikota Medan berturut-turut masuk penjara karena terlibat dalam kasus sama, korupsi.

Hal ini membuat kota Medan tetap terpuruk, stagnan dan jalan di tempat tidak berubah, tetap menjadi kota terkumuh sebagai kota terbesar ketiga di Republik ini. Jauh ketinggalan dibandingkan kota Surabaya. Konon katanya, inilah yang menguatkan hati beliau ikut bertarung dalam kontestasi Walikota yang akan datang ini.

Bobby Nasution, lahir 5 Juli 1991. Beliau adalah putra almarhum Erwin Nasution, mantan salah satu direktur PTPN IV. Ibunya boru Regar, wajar tidak kita kenal kiprahnya, karena sejak kecil dia hidup “nomaden”, berpindah dari satu kota ke kota lain, mengikuti jejak langkah orang tuanya berpindah tempat tugas.

Nama Bobby Nasution, tiga tahun lalu mendadak dikenal dan terkenal, serta mulai membumi ketika banyak “emak emak” yang di kota ini ngerumpi dan membicarakan namanya. Mereka semua berdecak kagum sama Bobby, si anak Medan yang berhasil menaklukkan hati Kahiyang Ayu, putri semata wayang Presiden Jokowi. Presiden Republik Indonesia yang amat populis di mata rakyat Indonesia.

Sejak saat itu, Bobby mencuat namanya sebagai salah satu tokoh populer di tingkat nasional. Ia seorang pebisnis properti dan alumnus magister agribisnis Institut Pertanian Bogor, kampus tempat dia berkenalan dan merajut asmara dengan putri Presiden Jokowi ini.

Akhirnya, setelah tak berapa lama menjalin asmara, Bobby berhasil menaklukkan sang putri, kemudian mempersunting secara resmi Kahiyang Ayu menjadi istrinya. Resmi beliau menjadi anak menantu orang nomor satu di Republik ini.

Dalam kontestasi Pilkada yang akan datang, Bobby Nasution coba mengikuti jejak langkah abang iparnya Gibran Rakabuming yang terjun ke dunia politik sebagai salah satu kandidat Walikota Solo.

Demikian juga Bobby, beliau telah mendaftar ke partai politik untuk menjadi salah satu kandidat balon Walikota Medan. Bobby bukan hanya mendaftar ke PDIP, tetapi kiprah politik beliau bisa juga kita amati melakukan lobi dan pendekatan terhadap banyak partai politik.

Sadar bukan kader partai, dia mungkin khawatir tidak akan dicalonkan dan diusung PDIP. Oleh karena itu, dia melakukan banyak lobi dan pendekatan terhadap semua partai agar peluang mendapat “kenderaan politik” tetap terbuka luas.

Banyak wacana dan opini yang dimunculkan, seolah mengira anak dan mantu Presiden, mendapat kekuasaan ibarat jatah dari dinasti politik. Stigma dan streotipe demikian muncul di kalangan masyarakat karena pengalaman masa lalu, yaitu memanfaatkan orang tua atau mertua.

Menurut penjelasan beliau, sebelum terjun ke dunia politik dia telah berkonsultasi dengan bapak mertuanya. Sebagai orang tua, Jokowi memberi kebebasan kepada semua anggota keluarganya, membebaskan mereka menggeluti dunia apa saja.

Dalam wawancara di salah satu televisi nasional, Jokowi pernah mengatakan, tidak mencampuri dunia yang digeluti anak-anaknya. Tergantung, kalau politik ya politik, bisnis ya bisnis. Yang penting kerja, harus sungguh-sungguh dan betul-betul.

Ketika wawancara fokus ke ranah politik oleh presenter, siapa di antara anggota keluarganya yang berbakat menggeluti dunia politik, secara terbuka beliau mengatakan Bobby Nasution, anak menantunya ini potensial dan berbakat terjun ke dunia politik.

Apakah ucapan mertuanya ini mendorong Putra Mandailing, bermarga Nasution dan beribu boru Regar ini, untuk terjun ke politik dan akan dicalonkan PDIP sebagai kandidat Walikota di Pilkada mendatang?

Normatif dan seharusnya memang kader partai. Tetapi, kita pun harus menyadari dan maklum, dalam dunia politik semua bisa berubah sekejap.

Walaupun mertua ikut mendukung, keputusan apakah Bobby menjadi salah satu balon kandidat Walikota Medan, semua berpulang kepada keputusan politik secara struktural, yang ditetapkan Patai Politik dari pusat. Partai di daerah hanya sebatas mengusung, menetapkan adalah pusat. Inilah budaya politik kita, mau apa lagi?

Kita berburu kekuasaan untuk mendistribusikan kesejahteraan rakyat, tapi partai yang menentukan dari pusat. Mana otonomi partai di daerah? Ya, tidak ada. Semua telah dibuat melalui mekanisme perundang-undangan yang sentralistik.

Apakah Bobby Nasution salah satu kandidat Walikota Medan? Kita tunggu ketetapan KPU atas usungan partai politik, setelah “distempel” partai dari pusat. Wallahualam!

**************************

Wara Sinuhaji

Pemerhati Sosial dan Dosen Sejarah USU