Kata Wara “Nek Asmah, Cucu & Sabu-Sabu”

KATA: WARA SINUHAJI

Wara Sinuhaji, Pengamat Sosial & Dosen Sejarah USU

KETIKA pulang dari kampus, aku disambut di gerbang depan oleh istri. Dia langsung menceritakan keluh kesah dan penderitaan Nek Asmah, tetangga yang tinggal di Gang Sakti, Jalan Amaliun Medan, persis di belakang rumah kami.

Mendengar nama Nek Asmah, aku tidak terkejut, janda yang telah ditinggal suami ini, sejak empat puluh tahun lalu telah aku kenal, begitu aku tinggal dan bermukim di kawasan ini. Dia wanita Aceh, turunan Portugis, entah generasi ke berapa aku tidak pernah tanya.

Tapi sisa sisa kecantikan masa mudanya, masih terlihat di raut mukanya. Rona wajahnya tetap cantik, kulitnya putih bening bagai wanita peranakan, wanita Indo kata orang “tempoe doeloe”, matanya bersinar biru sebagai ciri wanita Lamno, kata orang-orang dari Meulaboh, Aceh sana.

Cerita istriku, Nek Asmah datang dengan mengepit surat sertifikat rumahnya, berkehendak meminjam duit sebanyak 50 juta rupiah, untuk menebus dua orang cucunya yang selama ini tinggal bersama dia. Cucunya baru saja “digaruk” ditangkap tangan dua orang anggota kepolisian dan dibawa ke Polsek Sektor Teladan.

Menurut Nek Asmah, cucunya dua sepupu (Kiki dan Fadel), siang itu pergi menuju kawasan jalan Multatuli, Medan. Dua sepupu ini membeli paket hemat sabu-sabu seharga Rp 50 ribu setelah mencuri uang dari dompet emaknya, karena lengah dikit saja.

Tanpa sadar, mereka diikuti kibus. Namun, demikian bagaimana kebiasaannya, mereka ‘mutar-mutar’ dulu untuk menghilangkan jejak. Begitu merasa aman, mereka pulang ke rumah dan langsung naik ke lantai dua. Pintu kamar mereka kunci dari dalam. Sabu-sabu paket hemat, mereka selesaikan secara adat.

Beberapa menit kemudian, tiga orang pengendara sepeda motor datang, dua orang berpakaian preman masuk ke rumah, kepada Nek Asmah mengaku teman cucunya (Fadil).

Si kibus, selesai menunjukkan “mangsanya” kabur entah ke mana, meninggalkan dua oknum yang mengaku polisi, tanpa ada surat tugas dan didampingi Kepala Lingkungan setempat.

Setelah turun dari lantai dua, polisi mengepit dua cucunya yang baik (seperti dituturkan Nek Asmah). Nek Asmah kemudian sadar, itu bukan teman cucunya, tapi polisi. Wajahnya pucat pasi berusaha membebaskan dua cucunya ini. Untuk itulah dia datang hendak menggadaikan sertifikat rumahnya kepada kami.

Tapi istriku memang bijak, mengatakan kami keluarga dosen, pegawai negeri, mana ada duit sebesar itu. Untuk membantu si nenek, agar tidak dibilang pelit, hanya ikhlas membantu dan menyerahkan dua lembar uang kertas lima puluh ribu rupiah. Sebab, siapa saja termasuk keluarga, kalau tersangkut sabu-sabu, kami tidak akan mau tahu dan terlibat.

Kata istriku, Nek Asmah histeris sore itu. Ia juga minta tolong agar aku mau datang ke kantor polisi Polsek Medan Kota. Karena tidak berhasil menerima pinjaman dari kami, dengan langkah gontai pergi entah kemana. Surat sertifikat rumah masih tetap dikepit di ketiaknya.

Sore hari, ketika aku asyik bolak-balik literatur bacaanku, di samping rumah. Kedua anak muda bersepupu ini,melintas dan menegurku ramah, “Sore, Om.”

“Sore anak muda, apa kabar?” “Baik, Om,” katanya ramah berdua. Aku pura pura tidak mau tahu dan bertanya atas kejadian menimpa diri mereka.

Konon, terdengar selentingan, pasca dari rumah kami, Nek Asmah proaktif
ke rumah tetangga, mengumpulkan dana untuk pembebasan cucu tersayang.

Konon pula, setelah terkumpul, lalu disetor ke oknum polisi, baru Kiki & Fadel melenggang keluar tahanan. Konon, katanya lagi, sebagai “ancaman” kalau dana tidak ada, mereka berdua akan segera dipindahkan ke LP Tanjung Gusta.

Kiki dan Fadil sore itu keluar, kabarnya setelah Nek Asmah gadaikan sertifikat rumah, sebanyak 50 juta, langsung setor ke oknum polisi yang menangkap mereka berdua.

Cerita Nek Asmah, bukan kisah tunggal. Banyak kisah sedih dan miris lain, sehari-hari bisa kita dengar. Anak muda dikorbankan menjadi pemakai sabu, ingat bukan bandar ya, tetapi pemakai adalah korban.

Karena sayang anak dan cucu, menjadi korban dua kali. Nenek dan orang tua jadi sumber pemerasan. Laknat keparat oknum-oknum polisi rakus, tamak dan loba.

Anak anak seperti ini, seharusnya direhabilitasi, dia sudah jadi korban ketergantungan narkoba, bukan untuk dijadikan korban pemerasan yang baru.

Sebagai oknum aparat Kepolisian, mana sikap empatimu? Apakah kamu tidak punya anak dan keluarga ?

Duit penderitaan si nenek tidak akan menjadi berkah buat darah daging anak istrimu serta seluruh keluargamu. Kalau bersalah jangan tangkap-lepas, serahkan ke Jaksa dan Pengadilan. Itulah sikap ksatria penegak hukum, jangan jadikan alat pemerasan.

***************

WARA SINUHAJI

Pemerhati Sosial, Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara