Komunitas Sipil Medan: Hentikan Propaganda Ketakutan Soal Corona!

Gerakan Bergotongroyong Medan saat konferensi pers Covid-19, di Garasi Mataniari Medan, Minggu (5/4/2020) (Foto: Istimewa)

| Komunitas Sipil yang tergabung dalam Gerakan Bergotongroyong Medan mengajak seluruh pihak, pemerintah dan masyarakat, agar menghentikan propaganda menakutkan mengenai pandemi Corona (Covid-19). Menurut mereka, saat ini justru momentum saling bekerjasama mencegah penyebaran virus ini.

“Bantuan tidak akan pernah cukup, sehingga yang dibutuhkan adalah pola pencegahan yang efektif dan efisien. Pemerintah dan masyarakat harus saling sinergi untuk menjamin keberlangsungan hidup bersama. Hentikan propaganda menakutkan,” kata Koordinator Gerakan Bergotongroyong, Bobi Septian, melalui siaran pers, di Medan, Senin (6/4/2020).

Menurut Bobi, saat ini masyarakat dicekam rasa ketakutan berlebihan. Di sisi lain, ada kebutuhan ekonomi yang tak bisa ditolak, terutama menjelang Ramadhan, Idul Fitri dan kenaikan kelas para siswa sekolah.

“Daripada melakukan penyemprotan di jalan, saya kira itu buang-buang uang. Tidak tepat sasaran dan tidak menghilangkan ancaman. Harus ada manajemen kepanikan masyarakat, juga memperhatikan sektor ekonomi menjelang puasa, Hari Raya dan kenaikan kelas di sekolah,” tegas Bobi.

Gerakan Bergotongroyong menganggap perlu melibatkan para pihak kompeten untuk melakukan edukasi dan informasi kepada masyarakat.

“Kita perlu melibatkan berbagai pihak yang kompeten membangun pola edukasi dan informasi kepada masyarakat. Ada muatan antropologis dan psikologis yang mendukung upaya pencegahan Covid-19,” ujar koordinator Advokasi dan Edukasi Gerakan Bergotongroyong, Teddy Wahyudi Pasaribu.

Sementara itu, Sahlan dari komunitas Salink Redam Covid-19, mengaku timnya bersama Gerakan Bergotongroyong telah menyiapkan aplikasi yang dapat menghimpun data sosial, ekonomi dan lingkungan.

“Dengan aplikasi ini kita bisa melakukan tindakan terukur. Termasuk mengantisipasi situasi keamanan hingga pada tingkat lingkungan. Apalagi, situasi kini semakin mengkhawatirkan, terutama soal keamanan,” ungkap Sahlan. (tb)