Konser SUARASAMA di Kota Solo: Kolaborasi Bersama Sardono W Kusuma

Kolaborasi SUARASAMA dengan Mas Don dalam Konser SUARASAMA di Kusuma Sari Jl Yos Sudarso No 12 Kota Solo, Minggu (15/11/2020) (Foto: Daniel La)

| Konser Journey 25th Anniversary SUARASAMA di kota Solo (Jawa Tengah) yang berlangsung di Mas Don Art Centre/Kusuma Sari Jl Yos Sudarso No 12 Solo, Minggu (15/11/2020) malam, kembali menarik perhatian publik kesenian karena berkolaborasi dengan maestro tari kontemporer Indonesia, Prof Sardono W Kusuma.

Usai menampilkan 6 buah karya, pendiri SUARASAMA Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu mengundang Sardono W Kusuma (akrab disapa Mas Don-red) berkolaborasi di komposisi musik berjudul “Malikul Qudus”.

“Buat lagu ini, kami merasa terhormat karena berkolaborasi bersama tuan rumah, guru saya, Mas Don,” ucap Irwansyah.

Menanggapi undangan kolaborasi, Mas Don spontan tampilkan tarian sarat simbolik tentang siklus perjalanan hidup seorang anak manusia.

“Ini rumah kalian, musik adalah rumah kalian. Sedangkan ruang dalam rumah ini adalah rumah masa kecil saya. Saya lahir dan tumbuh di rumah ini. Saya terharu lihat pertunjukan kalian di rumah ini,” urai Mas Don sembari memandang foto mendiang kedua orang tuanya.

Sesuai Protokol Kesehatan Covid-19, jumlah hadirin di konser ini dibatasi sebanyak 30 orang. Tampak pula hadir beberapa orang akademisi seni dari ISI Surakarta, seniman dan budayawan, seperti Tomi F Awuy dan Joko S Gombloh.

Sebagai pengingat, konser SUARASAMA di kota Solo ini adalah rangkaian perayaan perjalanan bermusik SUARASAMA selama 25 tahun.

Setelah di Taman Budaya Sumatera Utara di kota Medan, Jumat-Sabtu (6-7/11/2020) lalu, Solo adalah kota kedua, lalu kemudian dilanjutkan di Jakarta.

Judul dan tema yang dipilih dalam perayaan ini, “Journey: 25th Anniversary Suarasama: Equality in Musical Diversity.”

Baca juga: Journey 25th Anniversary SUARASAMA di Kota Solo: Silaturahmi Kebudayaan

Untuk diketahui, dari 25 tahun perjalanan karir bermusik, kelompok Suarasama telah menghasilkan beberapa album karya musik, antara lain “Fajar di Atas Awan” (1998, RFI Prancis); “Rites of Passages” (Suarasama Indonesia 2002-Wellington New Zealand 2009); Lebah (Suarasama, Indonesia 2008) dan album “Timeline” (Spacerec Indonesia 2013).

Irwansyah Harahap juga telah mendapatkan “Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Musik Tradisi” pada tahun 2017 dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan RI sebagai “Pencipta, Pelopor dan Pembaru” di bidang World Music.

Irwansyah menjelaskan, kegiatan ini merupakan prakarsa untuk berbagi pengetahuan, khususnya karya SUARASAMA dan khazanah World Music.

“Kegiatan tur konser ini merupakan prakarsa untuk diseminasi karya musik yang saya kerjakan bersama kelompok Suarasama melalui workshop dan pertunjukan. Kegiatan ini sendiri didukung program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Direktorat Kebudayaan Kemendikbud RI,” urainya bersama istri sekaligus vokalis utama SUARASAMA, Rithaony Hutajulu. (tb)