Logika, Pos, Batu Bata

KATA: JEMIE SIMATUPANG

BUNG JEMIE

1946, SETAHUN SETELAH MERDEKA,  Tan Malaka mewariskan Madilog bagi Bangsa Indonesia, agar bangsa ini bisa berfikir kritis memaksimalkan fungsi otaknya yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa, seru sekalian alam. Ironisnya, sampai 2020 pun logika kita masih sering (terasa) dihina di negeri ini.

Apa yang terjadi di Kantor Pos berikut ini salah satunya saja!

*

Beberapa waktu lalu, saya mengirimkan buku pesanan pelanggan melalui Kantor Pos yang telah berpengalaman dalam urusan kirim-mengirim barang sejak 1746. Sejak Belanda masih di sini, perusahaan ini sudah ahli dalam urusan pengiriman.

Saya memilih jasa layanan paket pos biasa. Di website pos, tertulis bahwa layanan pos biasa adalah pengiriman barang maksimal 3 kilogram (dan kalau lebih dari itu akan dikenai biaya tambahan), jadi karena buku yang dipesan pelanggan lebih 2,5 Kg, saya pikir lebih hemat kalau dikirim memakai jasa paket pos biasa, dibandingkan dikirim memakai jasa pos kilat khusus misalnya.

“Pak, pakai pos biasa harus 10 Kg, ini belum cukup!”

“Tapi di website tertulis 3 Kg.”

“Mana?!”

Saya buka aplikasi pos dan web pos Indonesia, dan menunjukkan ke petugas. Setelah melihat apa yang terpampang, petugas berkata, “Atasan kami bilang harus 10 Kg. Tapi akan saya tanyakan lagi ke atasan.”

Ia lalu menemui atasannya. Entah apa yang dibicarakan, saya tidak tahu. Dia datang lagi menemui saya dan bilang, “Iya Pak, bisa 3 Kg!”

“Ok, saya kirim pakai pos biasa, ya!”

“Belum bisa Pak, ini masih 2,5 Kg, kurang ½ Kg!”

“Jadi belum bisa pakai Pos Biasa? Kan ongkos kirim yang saya bayar sama!”

“Belum bisa! Kecuali Bapak tambahkan beratnya!”

“Buku pesanan pelanggan saya, cuma itu!”

“Tambahkan batu bata saja!”

“Apa! Batu bata!!!”

Saya terkejut, sampai tanda seru tiga di akhir “batu bata”. Tak percaya. Karena memang tak sampai logika saya menyelesaikan masalah ini, menambahkan batu bata ke dalam paket pelanggan buku saya.

Tapi karena tak mau berdebat dan menjabarkan berbagai argumen ke petugas pos ini, saya pun membuka ulang kemasan kiriman buku, lalu menambahkan batu bata hingga beratnya pas 3 Kg. Saya balik ke petugas pos itu, dia timbang lagi, dan membuatkan resi untuk kiriman. Akhirnya, paket buku ini bisa dikirim memakai layanan pos biasa.

Urusan saya berikutnya, menerangkan ke pelanggan: mengapa buku pesanannya bercampur dengan potongan batu bata—bukan karena kedai buku saya sekarang juga menjual bahan-bahan bangunan, tapi karena turut serta dalam keluguan—untuk tidak mengatakan ke… (ah sudahlah!) yang dibuat kantor pos.

**

Sekali lain, saya hendak mengirim buku melalui jasa pengiriman partikelir. Saya tak sebut namanya. Saya memilih jasa pengiriman darat. Syarat dan ketentuan jasa pengiriman ini jelas, bahwa kiriman melalui jalur darat, maksmimal 10 Kg dengan biaya tertentu, katakanlah Rp.100.000,- untuk kota tujuan pelanggan saya itu.

Kalaupun mau mengirim barang 0.5 ons, maka penyedia jasa juga mengenakan tarif sebesar kiriman 10 Kg, ya Rp.100.000,- itu tadi, sepanjang memakai layanan jalur darat. Tak perlu menambahkan batu bata atau pun lempung tanah ke dalam paket pengiriman.

Tapi karena tarifnya lebih mahal, seimbang dengan beratnya yang 10 Kg, saya masih sering juga menggunakan jasa layanan pos biasa. Tentu saja untuk kiriman yang kurang 3 Kg, saya memasukkan bonus batu bata ke dalam kemasan buku—tentu saja saya lakukan sembari mengumpat.

“Sophie, macamnya mulai besok, kau tak usah sekolah lagi!”

“Kok begitu, Yah!” Anak saya bingung—tak tahu soal.

***

PT Pos mau bangkrut? Begitulah judul berita di detikfinance (22/7/2019). Di badan berita diceritakan, kalau saat itu Pos Indonesia harus meminjam uang untuk sekedar menutupi tunggakan gaji karyawan.

Aikh, gaji karyawan pun, sudah menunggak!

Kembali kejadian ini menghina semua makhluk yang bisa berfikir. Ya, memang ada bantahan, bahwa itu cuma isu saja, dan sampai sekarang pun pos masih ada dan bekerja.

Tapi mengherankan juga, isu begitu menerpa kantor pos. Orang bilang asap tak muncul sendiri. Apalagi melihat polah BUMN di negeri ini: merugi melulu, mau bangkrut. Jiwasraya, Bulog, Krakatau Stell, dan juga isunya menerpa Pos Indonesia, yang punya perwakilan di seluruh kecamatan di Indonesia. Padahal segala produk dan jasa—selain pengiriman barang dan surat—sudah pula dijual di kantor pos: perangko, materai, segala pengiriman uang, pembayaran KPR, cicilan kredit motor, dsb.

“Orang jualan es sirop saja bisa untung!”

“Yah, tapi kan sekarang zaman digital, semua kiriman memakai internet, bisa via e-mail, WA, dan tak ada juga orang yang mengirimkan kartu ucapan selamat Natal dan Idul Fitri pakai jasa pos lagi!”

Tapi, kok jasa pengiriman partikelir  bisa bertambah banyak dan tumbuh semakin besar? Malah buka cabang di mana-mana?

Akh, kita tak mungkin membangunkan Tan Malaka untuk membuka kelas logika dan mendedah mengapa kantor pos bisa rugi? Bukan apa-apa, takutnya dibilangnya pula:

“Bah! Tak ada kalian belajar, urusan tai kucing macam gini aja pun masih kalian bangunkan aku!”

Aneh bin ajaib juga memang. Saya pikir saatnya Kantor Pos mulai sekarang jualan batu bata saja, karena selama ini telah berpengalaman, bagaimana mengirimkan batu bata dari Medan ke luar Pulau Sumatra dengan aman. Tentu saja ditambah dengan bahan dan alat bangunan yang lain: pasir, koral, kayu, sekop, cangkol, gergaji…. Panglong Pos Indonesia Harapan Jaya, saya usulkan nama. Pastilah lebih untung sesuai doa yang termaktub di namanya.

Atau mungkin saatnya kita sama-sama jualan otak.

“Otak…otak…otak…, masih sangat bagus! Belum pernah dipakai! Harga bisa nego!”

************

JEMIE SIMATUPANG

Pedagang Buku Bekas di Medan