Mabuk Politik 2020

KATA: JEMIE SIMATUPANG

BUNG JEMIE

POLITIK ITU TERNYATA bisa memabukkan. Bikin tenggen, kata orang bekas Keresidenan Sumatra Timur. Tak ubahnya seperti  kamput, tuak, arak, ciu, atau pun lem Cap Kambing. Sama-sama bikin orang hilang kesadaran. Nge-fly.

Kalau sudah tenggen, bukan cuma berjalan yang tak bisa lurus, pikiran pun jadi sempoyongan. Terombang-ambing, bak sampan nelayan ditekan angin Barat Daya di Selat Malaka. Ucapannya menceracau.

Dan tentu saja, kita tak mengajaknya berdialog sebagaimana orang sadar.

Begitulah kalau orang sudah mabuk politik. Dia, misalnya, akan mendukung calon presiden, bupati, atau pun walikota habis-habisan. Mati-matian kalau perlu. Baginya, tak ada yang lain yang bisa menyelamatkan negara, kota, atau pun kabupaten ini, kecuali calon yang diusung.

“Calon saya ratu adil yang diutus Tuhan Yang Maha Esa—sesuai dengan sila pertama Pancasila!” katanya.

Ketika kita tunjukkan kelemahan calon tersebut dan mengajukan calon lain, dia tersinggung, berang, dan menantang dengan sejuta alasan yang tak rasional: “Pokoknya calon saya…” Kalau sudah pokoknya katanya, kita mau bilang apa lagi? Tak mungkin kita bilang, “Buahnya, akarnya, daunnya….”

Melihat gelagat begitu, kita pikir dia tim sukses dari calon yang diusung, tak tahunya siapa-siapa juga bukan.

“Tenggen kawan kita itu,” kata orang.

*

BAGI yang tenggen politik ini, jangankan memilih calon lain, memilih untuk golput saja pun dilarangnya. Kata-katanya senafas dengan fatwa majelis ulama, “Golput itu haram!” Tak peduli, walau telah kita terangkan bahwa golput juga bisa menjadi ekspresi politik yang sadar, dan berdasarkan pengalaman juga bentuk perlawanan.

Tambah lagi, memilih itu basisnya adalah hak, jadi bisa digunakan, bisa juga tidak.  “Keliru itu!” katanya menghardik, “Memilih adalah kewajiban!”

Macam-macam tuduhan bisa dialamatkan kepada yang golput: oportunis, benalu demokrasi, parasit bangsa, skeptis, apatis, dan entah apa lagi. Nasehat-nasehat klise juga berhamburan, “Negeri ini tidak maju bukan disebabkan banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik!”

Dia juga bilang, “Kalau Anda bukan bagian dari solusi berarti Anda ini adalah bagian dari masalah”—dan ingat, satu-satunya solusi adalah memilih calon yang diusungnya.

Dan, bak aktifis lagi orasi untuk menumbangkan diktator yang menjadi musuh bersama rakyat, ia juga lantangkan dengan suara menggelegar, “Diam adalah pengkhianatan!” dilanjutkan dengan sebait Wiji Thukul, “Hanya satu kata, lawan!!!”

“Eh, iya, iya, iya…, wan, lawan, lawan…!” saya terkejut, hingga jadi gugup dan gagap.

Habis itu, yang bisa saya lakukan hanya mengernyitkan dahi sembari garuk-garuk kepala yang entah sebab apa menjadi gatal secara tiba-tiba—entah karena kecipratan ludahnya.

Pemabuk ini selalu menganggap gelanggang demokrasi itu adalah medan Perang Bharatayudha. Ia adalah pertikaian antara Pandawa melawan Kurawa. Pertarungan antara yang hak dan yang bathil. Baik melawan buruk. Yang baik tentu saja calonnya, dan Dasamuka ataupun Para Kurawa adalah saingan calon yang dipilihnya.

“Ini pertarungan David melawan Goliath,” katanya menyitir kitab suci.

**

PEMILU atau pilkada adalah hal yang lumrah dan biasa saja dalam demokrasi. Proses reguler 5 tahun sekali. Dia ada pada rezim UU Pemilu, bukan hukum humaniter. Dia bukan perang. Apalagi, menghutangi Hemingway, pertempuran penghabisan. Dia juga bukan dalam rangka mencegah yang jahat berkuasa.

Kita tak melihat ada persengketaan iblis melawan dewa. Kalau mau sangat optimis, ini semacam dewa melawan malaikat. David dengan Arjuna.

Atau sekedar rasional saja: manusia versus manusia. Dua-duanya manusia, tinggal rakyat yang menentukan mau memilih siapa, berdasarkan perhitungan-perhitungan rasional: rekam jejak serta visi, misi, dan program kerja yang dijabarkan dalam janji-janji politik.

Yang skeptis tentu saja menganggap ini setan melawan iblis, Kurawa melawan Dasamuka, atau kalau dulu semacam Jepang melawan Belanda. Jadi, kalau mau memilih siapa pun sama saja buruknya.

Pilpres kita yang belakangan juga mengajarkan, tak ada gunanya mendukung calon presiden pilihan habis-habisan, mati-matian, apalagi sampai tenggen hilang kesadaran.

Lihat saja, sehabis penghitungan suara, calon yang menang juga memberikan kursi pada calon yang kalah. Yang kalah masuk dalam jajaran kabinetnya. Tak ada  lagi, namanya oposisi.

“Kawan dan lawan yang abadi dalam politik itu tidak ada!” kata mereka yang dulu berseberangan tapi sekarang berangkulan dengan senyum mengembang. Kilah mereka lagi, “Demi bangsa dan negara tercinta!”

Tapi apa artinya kejadian ini dengan orang-orang yang mabuk? Tak ada, karena efeknya biasanya baru hilang lima tahun lagi.

***

TENGOK saja, macamnya 2020 ini bakal banyak lagi orang-orang yang mabuk politik. Sebab tahun ini diselenggarakan pilkada serentak di negeri ini—termasuk di Medan.

Pilkada adalah pesta demokrasi—pesta rakyat. Dan selayaknya pesta, tuan rumah, biasanya selain menyediakan jamuan makanan yang lezat juga menyediakan “minuman”.

Kalau nanti tiba-tiba ada yang datang kepada Anda dengan jalan sempoyongan dan mulut yang menceracau tentang calon pilihannya lah yang paling benar, siramkan saja air comberan!

Syukur-syukur tenggennya hilang, dan kepala Anda tak menjadi gatal tanpa alasan!

Bukan apa-apa, duit untuk shampo lebih elok jadi tambahan beli tabung gas elpiji 3kg yang bakalan melambung tinggi karena tak lagi disubsidi. [*]

***********

JEMIE SIMATUPANG

Pedagang Buku Bekas dari Medan