MEDAN : Kota Kehilangan Identitas (Menyambut Ulang Tahun ke-430 Kota Medan)

KATA: RASYID

Ir Abdullah Rasyid ME (Direktur Sabang Merauke Institute)

BULAN Juni lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan ‘pulang’ ke kota Medan. Aktivitas rutin, selain tugas bisnis, tentu kembali berkeliling menikmati wisata kuliner. Kebiasaan ‘pulang kampung’ yang tak boleh ditinggalkan. Di Medan sini, cuma ada dua jenis makanan saja. Pertama, enak. Kedua, enak kali.

Namun, saat berkeliling di kota ini, ada pemandangan yang cukup memprihatinkan. Kami dapati, satu persatu bangunan dan situs khas Kota Medan mulai dihilangkan, dirobohkan, diganti dan punah sama sekali.

Gedung-gedung kuno di daerah Kesawan berganti barisan rumah pertokoan. Gedung Balai Kota yang terkenal dengan arsitektur Eropa klasik, salah satu kebanggaan kota Medan, sekarang berubah jadi sekedar fasad Hotel Aston.

Villa Kembar peninggalan Belanda, di jalan Pangeran Diponegoro, kini hilang dan menjelma jadi Hotel Adi Mulia. Paling memprihatinkan lagi, di dekat bangunan khas kota Medan yang dulu dikenal sebagai Titi Gantung telah berdiri megah sebuah Vihara.

Apa makna dari ini semua? Ini bukti kota Medan sebagai kota bersejarah telah kehilangan identitas, entah oleh mall atau hotel berbintang!

Medan punya kenangan indah mengenai ruang terbuka hijau. Di kota ini, hingga pertengahan tahun 1990-an masih mudah menemukan ruang terbuka hijau. Taman-taman kota masih menguasai areal perkotaan, sebelum akhirnya hari ini, sudah berganti dengan bangunan-bangunan.

Bahkan, Lapangan Merdeka, salah satu ruang publik yang tersisa pun, kini disewakan dan digunakan jadi tempat komersil.

Terkesan, pemerintah memang senang merobohkan sejarah dan menggantikan dengan sesuatu yang baru dan tak jelas asal-usul dan manfaatnya bagi masyarakat.

Dari pendekatan kultural, jiwa kota ini sudah dihilangkan. Tak berjiwa. Berlagak. Sok modern, sok gaul dan sok maju. Tapi apa?

Dari pendekatan sejarah, jelas telah terjadi penghilangan bukti-bukti sejarah. Jelas, ini sudah menabrak peraturan cagar budaya.

Dari pendekatan tata kota dan estetika, sudah tak jelas arah hendak kemana biduk kemudi diarahkan.

Kesimpulannya, ingatan kolektif telah diputuskan. Nurani telah dicampakkan.

Mari berbanding, cobalah lihat kota-kota besar di dunia. Di Eropa misalnya, gedung lama bersejarah bukan dibongkar melainkan dirawat. Gedung modern baru dibangun di pinggir kota, bukan menumpuk di tengah kota dan mengabaikan nilai kultural dan sejarah. Faktanya, ekonomi bisa berputar, memori kolektif terjaga, bangunan khas kota tetap lestari.

Selamat datang generasi baru.

Generasi baru kota Medan, generasi bingung, generasi tanpa identitas.

*********

Ir Abdullah Rasyid ME
Direktur Sabang Merauke Institute