Menjadi Tua dan Menyebalkan

KATA: JEMIE SIMATUPANG

BUNG JEMIE

Bung,

SEIRING PERUBAHAN WAKTU, seorang paling revolusioner di antara kita pun bisa berubah menjadi paling evolusioner—bahkan pemuja kemapanan. Karena pertambahan usia, misalnya. Semakin tua seseorang, biasanya semakin mapanlah kehidupannya; dari pikiran sampai tingkah laku.

Tak heran kemudian Soe Hok Gie dalam catatan hariannya menulis: “… yang tersial adalah umur tua.” Gie tentu tak asal. Ia memang menolak menjadi tua. Dan pengalamannya sendiri membuktikan busuknya tingkah laku kaum tua pada waktu itu yang menjadi “musuh politik”-nya. Apalagi mengingat sosok-sosok yang dilawannya sekarang (maksudnya pada waktu itu) adalah sosok-sosok pemuda revolusioner yang dulu (besar kemungkinan) memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Selain umur tua, barangkali kekuasaan juga membuat seorang menjadi mapan. Seorang pemuda revolusioner—misalnya saja waktu menjadi mahasiswa atau aktivis politik—menjadi melempem (layaknya kerupuk gopekan kemasukan angin) manakala menjabat sebagai penguasa. Padahal waktu mau naik menjadi penguasa, menjadi politikus, ia berjanji pada kawan-kawannya, “kalau saya jadi pejabat, saya akan benahi sistem yang tak adil ini dari dalam.” Tapi apa? Lord Acton lagi-lagi benar, kekuasaan itu cenderung korup—“Power tends to corrupt,” katanya.

Dulu menjadi demonstran, sekarang jadi musuh demonstran, dulu anti korupsi, sekarang jadi tersangka korupsi.

Bung,

Tak salah kalau perubahan tak bisa diharapkan dari golongan tua. Dan sejarah pun mencatat, perubahan di dunia ini selalu pelopori oleh kaum muda.
Pramoedya A. Toer, dalam sebuah video di youtube, memberi kesaksian, “semua kemajuan di Indonesia itu dimotori oleh angkatan muda dan mahasiswa”. Ia lalu bercerita tentang pemuda-pemuda yang terlibat dalam pegerakan Indonesia. Bahkan, Pram merekam khusus jejak langkah Tirto Adi Surjo dalam “Tetralogi Buru” dan “Sang Pemula”, sebagia pemuda pertama yang menggagas organisasi modern sebagai motor pergerakan nasional pertama di Indonesia.

Bung,

Yang berikut ini tak ada dalam catatan sejarah. Terjadi pada kawan saya—dan ini saya tulis berdasarkan ceritanya kepada saya. Jadi satu kali, ia dipanggil oleh pimpinan menghadap ke mejanya—lihat betapa mapannya kelakuan ini: “menghadap ke mejanya” (hal mana perlu ditegaskan mengingat ia kerja di sebuah LSM yang biasanya mengagung-agungkan anti-kemapanan—paling tidak dulu). Entah karena pekerjaannya tak beres, kawan saya itu dimarah-marahin oleh pimpinannya itu.

“Lama-lama mapan kau kutengok,” kata pimpinannya menyimpulkan setelah segala kekesalannya tumpah. Sudah tentu diucapkan dalam logat Medan yang kental.
“Akh, mapan cemana, Bang?” kawan saya terkejut—karena merasa selama ini menokohkan diri sebagai orang yang anti-kemapanan, lihat saja misalnya kaos oblong dan sandal jepit yang selalu dipakainya kemana pun dan kapan pun itu.
“Macam pantat!” sergah pimpinannya.

Kawan saya terdiam. Tertunduk. Dan saya tertawa mendengar ceritanya.

Bung,
Jangan mau menjadi mapan—apalagi macam pantat, hehehe …
Medan, 16 Desember 2019
H o r a s !
Jemie Simatupang

NB:
Bung, selamat ulang tahun. Jangan menjadi tua dan menyebalkan! Sebagai dinyanyikan Pee Wee Gaskin dulu.