Nama Untuk Sebatang Pohon Mangga

KATA: TEDY WAHYUDY

Tedy Wahyudy, Penyair dari Negeri Hujan Kata-kata

AKU punya kawan, baru saja punya anak. Aku melihat kebahagiaan terpancar di wajahnya. Segala sedih keluh tidak ada terujar selama perbincangan di malam itu. Memiliki anak pertama, adalah kebahagiaan tertinggi yang pernah dirasakannya. Begitulah jawaban yang ia berikan tatkala membincangkan perkara kebahagiaan yang tengah dirasakannya.

Aku tidak tahu, seperti apa rasa ‘kebahagiaan tertinggi’ yang dimaksudkannya itu. Sebab ia seoranglah yang dapat merasakannya. Aku hanya dapat merasakan kebahagiaan dari pancaran ekspresi senyumnya, pikiran positifnya selama perbincangan hingga nada bicaranya yang cenderung tertata dan penuh ketenangan (kecuali tatkala menyinggung soal bayi pertamanya).

Maka nada suaranya cenderung lebih tinggi, jeda antar kalimatnya menjadi semakin pendek, tempo bicaranya semakin cepat. Senyumnya lebih sering muncul serta dibarengi tawa lepas (yang kerap terjadi).

Rasa bahagia yang kurasakan dari pancaran kehadirannya itu, dapat kutahu bagaimana rasanya, oleh karenanya, yang tengah membaca tulisan ini dan alien (jika ada), apakah, dapat benar-benar merasakan seperti yang kurasakan?

Kalau kutimbang-timbang, rasa bahagia yang kurasakan ketika itu, seperti rasa bahagia ketika siang hari, aku kehausan, lantas dipersilahkan meminum jus mangga dingin, atau seperti ketika siang hari, tatkala kepanasan, aku berkesempatan mandi di kamar mandi rumah kesayanganku.

Seperti itulah rasa bahagia yang mendekati rasa bahagia yang kurasakan ketika melihat temanku itu (apakah yang sedang membaca tulisan ini dapat merasakan rasa bahagia, sama persis seperti yang aku rasakan ketika itu?).

Kembali ke kawanku yang sedang sedikit berbeda, banyak bahagianya itu. Di malam pertemuan itu, ia meminta saran nama untuk anak pertamanya (tidak penting apakah anaknya perempuan atau laki-laki. Yang penting anaknya manusia dan kawanku itu bahagia). Aku tidak punya referensi tentang nama-nama sebanyak yang mbah google punya.

Jadi, aku lebih memilih untuk mendengarkan saja, kawan-kawanku lainnya yang lebih berpengalaman dan lebih punya banyak referensi yang memberikan usulan nama. Aku memilih mendengarkan sambil menunggu jeda yang tepat untuk mengutarakan pertanyaan yang lahir di dalam proses berpikirku yang kemudian menjelma menjadi sebentuk pikiran dalam bentuk kalimat pertanyaan; “Apakah nama itu penting, bila iya, kenapa?”

Kawanku, yang sedang bahagia itu tertawa, yang lainnya senyum-senyum saja. Mereka, kusebut kawan, bersebab kami telah melalui Fase; saling mengetahui lalu saling mengenal, hingga dapat saling memahami ‘kelakuan’ dan atau tipe kepribadian masing-masing. Oleh karenanya, mereka tidak mempertanyakan pertanyaanku, sebab bagi mereka, pertanyaan itu adalah bentuk kewajaran akan aku, sebagaimana kawanku, yang suka menceramahiku soal agama, adalah bentuk kewajaran akan dirinya.

Setelah reda tawa dan senyum dari kawan-kawanku itu, maka yang sedang bahagia itu menjawab (jawaban berikut bukanlah kalimat perkalimat kawanku itu, tetapi kalimatku berdasarkan tafsir atas makna-makna kalimat yang kudengar darinya)

“Nama itu doa bro, kan dia nanti dipanggil sama kawan-kawannya itu, pakai namanya, maka aku mau arti yang baik, sehingga ketika namanya dipanggil, maka, namanya itu sedang mendoakan yang baik-baik untuknya.”

Mendengar jawabannya itu, aku tidak dapat memunculkan argumentasi apapun, sehingga aku lebih memilih untuk menyimpannya dalam ingatan, lantas tatkala menimbang keyakinan kawanku atas argumentasinya itu. Aku menilai, ia benar-benar meyakini ‘semacam’ argumentasinya itu.

Argumentasi ini aku dapat dari perbincangan dengan seorang sahabat yang kupanggil abang (bersebab pertimbangan kultur atas apa yang disebut usia) bernama Darma Lubis, sarjana komunikasi dan memiliki pengalaman kerja menahun dibidang komunikasi, sehingga aku memiliki dasar yang kuat untuk memercayainya (selain aku telah mencari pandangan lain dari ahli komunikasi lain yang terdapat di google bahan bacaannya, pandangan ahli lain memiliki makna yang sama dengan apa yang dipaparkan oleh sahabat yang kupanggil abang tersebut)

Argumentasi kawanku itulah yang mendorong tulisan ini lahir ada. Sebab aku juga memiliki hal berharga yang belum kuberikan nama yang tepat dan sesuai dengan keberhargaannya itu bagiku, emakku, abangku, kakakku, adikku dan tetangga di sekitar rumahku.

Tulisan ini adalah bentuk penyampaian atas tidak berpengalamannya aku, dalam memilih nama, sehingga terbit harapan, melalui tulisan ini, aku mendapatkan saran dari para pembaca (bila ada) perihal nama atas hal yang berharga bagiku, keluargaku dan tetanggaku.

Di depan rumahku, ada sebatang pohon mangga yang selama dua tahun ini rutin berbuah. Aku, keluargaku dan tetanggaku, sudah memakani buah matang, mengkal hingga mentahnya. Pohon mangga itu, sudah berjasa menyumbangkan vitamin C ke dalam tubuh kami. Salah satu  vitamin yang tidak dapat diproduksi secara mandiri oleh tubuhku.

Pohon mangga itu, kerap kupanjat, kakiku yang kotor kerap pula mengotori tubuhnya (batang kata orang-orang) sesekali aku menggunakan galah, hingga gugur daunnya serta patah rantingnya (bagian dari tubuhnya).

Pohon mangga di depan rumahku itu berharga bagiku (meskipun aku belum berani berjanji aku akan menghargainya seperti aku menghargai diri sendiri) sebab buahnya dan pelajaran darinya yang kupetik dari imajinasiku tatkala memandangnya (membayangkannya tatkala menuliskan tulisan ini):

“Pohon mangga di depan rumahku, patah rantingnya, gugur daunnya. Terpanggang terik matahari, dihantam hujan berulang, diabaikan hingga tak berhingga. Tetapi, tetap saja ia bertumbuh, berbunga hingga berbuah. Pohon mangga di depan rumahku, benarlah petarung sejati, dalam hal mempertahankan hidupnya.”

Oleh karena keberhargaan pohon mangga di depan rumahku itu, aku ingin pohon manggaku itu memiliki nama yang tepat untuk kebaikan-kebaikannya, yang dapat mendorong aku, berlaku pantas terhadapnya. Tetapi aku belum kunjung menemukan nama yang tepat. Mudah-mudahan, pembaca tulisan ini (bila ada) dapat kiranya memberi saran.

Aku berpikir, apakah sesuatu itu dianggap berharga jika hanya mendatangkan manfaat dan atau sesuatu yang menyenangkanku saja, apakah bila sesuatu itu tidak dapat memberi manfaat untukku dan tidak pula menyenangkanku, maka dapat pula dianggap berharga?

Pikiranku yang muncul di akhir tulisan ini, membuatku pusing, jadi aku memilih untuk tidak memikirkannya, dan menunggu yang memiliki pengetahuan serta keilmuan yang lebih mumpuni untuk membedahnya sembari menunggu saran atas nama-nama baik bagi pohon mangga di depan rumahku yang berharga.

************

Tedy Wahyudy

Penyair dari Negeri Hujan Kata-kata