NU dan Muhammadiyah Anggap Aneh dan Tidak Jelas, Fachry Ali: Saya Perintahkan Mendikbud Belajar Sejarah!

Mendikbud Nadiem Makarim. (Foto: Patra Rizki Syaputra/Rakyat Merdeka)

| Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menilai, sejak awal Program Organisasi Penggerak (POP) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sudah aneh dan tidak jelas.

“Sejak awal program ini aneh, kami ditelepon untuk ajukan proposal dua hari sebelum penutupan. Kami nyatakan tidak bisa bikin proposal dengan berbagai macam syarat dalam waktu singkat, tapi kami diminta ajukan saja syarat-syarat menyusul,” terang Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, KH Arifin Junaidi, dalam keterangannya, Selasa (22/7/2020).

Senada, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui surat pernyataannya, menilai kriteria pemilihan organisasi penggerak Kemendikbud tidak jelas.

“Muhammadiyah memiliki 30 ribu satuan pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia. Persyarikatan Muhammadiyah sudah banyak membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan sejak sebelum Indonesia merdeka,” ujar Kasiyarno, Rabu (22/7/2020).

Sementara itu, pengamat sosial-politik Fachry Ali menyampaikan kritik pedas terhadap Mendikbud Nadiem Makarim. Ia menilai, Nadiem perlu belajar sejarah pendidikan di tanah air.

“Menteri Pendidikan benar-benar membuktikan tdk (tidak) tahu masa lalu. Bahwa Muhammadiyah dan NU telah melakukan pendidikan rakyat jelata jauh sebelum Indonesia ada. Sementara Sampurna Foundation dan Tanoto Foundation baru lahir beberapa ‘menit’ lalu —untuk ukuran masa panjang pengabdian Muhammadiyah dan NU mencerdaskan anak-anak bangsa. Ironi orang tak mengerti masa lalu. Saya perintahkan Menteri Pendidikan belajar sejarah!!!!,” tulis Fachry melalui akun pribadi sosial media. (tb)