Orwell Pun Geli Tertawa

KATA: JEMIE SIMATUPANG

BUNG JEMIE

SEKALI LAGI, saya harus mengutip George Orwell,  katanya, “Reklame terburuk sosialisme itu adalah penganutnya.”

Penulis 1984 dan Animal Farm ini tentu tak asal  becakap. Tak sembarang bikin satire. Apa lagi ia juga seorang sosialis.

Ini semacam otokritik. Pengalamannya sendiri mengajarkan bagaimana orang-orang sosialis membangun teori sedemikian rupa, tapi bertingkah lain dari apa yang dikatakannya.

“Sosialisme anti-penindasan!” kata (mereka yang mengaku) sosialis. Tapi setelah menjadi penguasa malah menjadi penindas baru—seperti Si Babi (ada yang ingat namanya?) dalam Animal Farm (1945).

“Sosialisme adalah keadilan; dari siapa sesuai kemampuannya, untuk siapa sesuai kebutuhannya,” katanya mengutip Marx. Tapi lihat sendiri, para pemimpin, birokrat, intelektual, dll-nya mendapat kehidupan yang mewah. Sementara kaum buruh, petani, dan kaum marjinal lain tetap hidup fakir. Papa dan diperdaya.

Dalam satire-nya, Orwell mengatakan hal ini sebagai: “Semua binatang sederajat, tapi beberapa binatang lebih sederajat.”

***

BEBERAPA MINGGU yang lalu, seorang kawan yang sedang mendapat kesempatan belajar-kerja di Eropa, bercerita dengan saya melalui panggilan video WA. Akh, jaman empat titik nol. Jarak dan waktu tak lagi jadi soal. Cakap-cakap jarak jauh dengan langsung melihat wajah sekarang tanpa harus menguasai telepati seperti dalam cerita silat Wiro Sableng.

Tapi ini bukan tentang kemajuan teknologi, tapi  tentang: “Saya di sini tinggal dengan seorang yang percaya kapitalisme,” kata kawan saya itu.

“Wah, jadi kalian sering cek-cok lah ya?” balas saya, karena tahu kawan saya itu seorang sosialis—bahkan sekali-kali mengaku diri anarkis sayap kiri habis.

“Tidak!” katanya.

“Kok bisa?”

“Malah di beberapa ide kami sepakat. Sejalan!”

Kawan saya itu lalu terangkan orang yang tinggal bersamanya itu, seorang pria kisaran umur 50 tahun. Punya seorang isteri dan dua orang anak. Mereka hidup sederhana. Mengaku tak percaya dengan sosialisme (dan komunisme).

Bahkan ia kerap mengagungkan kapitalisme. “Sejarah sudah berakhir!” kata pria itu, mengutip Fukuyama. Sosialisme telah gagal dan hancur berantakan.

Walau  begitu, ia dan keluarganya tak mau belanja di pasar-pasar modern (mall, plaza, super market, dll), mereka selalu membeli kebutuhan dari koperasi (dimana mereka adalah anggotanya), yang memasarkan produk-produk—kalau di sini semacam—usaha kecil menengah.

“Aneh!” kata saya.

“Ya, agak aneh memang,” jawab kawan saya itu.

Mungkin dia sosialis tulen, tapi tak gembar-gembor, saya simpulkan saja begitu.

***

CERITA SEMINGGU yang lalu, seorang kenalan yang punya posisi tinggi di sebuah lembaga sosial, melakukan kunjungan kerja ke luar negeri, ke Prancis. Konon ia didaulat jadi narasumber di sebuah seminar strategi penghapusan kemiskinan di negara-negara ketiga.

Di seminar itu, ia paparkan situasi kemiskinan di Indonesia. “Pakai 10 slide power point,” katanya bangga padaku.

Ia bilang kemiskinan di Indonesia—yang angkanya disajikan dalam grafik indah—terjadi karena pembangunan yang tak memihak kaum petani, nelayan, buruh, dan kaum marjinal lainnya—kaum proletar, marhaen, dan entah istilah apa lagi itu. Jumlah kaum fakir papa ini puluhan juta, katanya lagi.

Ia ceritakan juga, korporasi-korporasi yang menghisap habis perut bumi Indonesia; minyak, batu-bara, bauksit, gas dan lainnya, tanpa mempertimbangkan kesejahteraan hidup rakyat di sekitar lokasi tambang.

Kenalan saya itu juga bilang selama Indonesia dipimpin orang-orang yang berwatak kapitalis, maka rakyat Indonesia terus menderita. Kita butuh pemimpin sosialis, mungkin seperti Soetan Sjahrir, Hatta, atau Tan Malaka, katanya.

“Hebat!” kata saya.

“Bagaimana bisa lain?” timpalnya.

Isterinya datang kepada kami, tersenyum, lalu menyuguh minuman dingin dalam gelas—berbuih-buih. Tersenyum lagi, dan bilang, “Silahkan diminum!”

Ia sambung pembicaraan, “Tapi ngomong-ngomong di Paris itu banyak tempat belanja yang asyik!”

“O ya?”

“Ya, saya sempat beli beberapa, untuk saya dan oleh-oleh untuk anak-isteri,” katanya bangga.

“Jeans ini misalnya, mereknya: hermes!” katanya sambil membelakangi saya, menunjukkan pantatnya, demi memperlihatkan merek jeans yang dipakainya.

“Juga kemeja ini merek …” katanya lagi (saya lupa merek apa yang disebutkannya)

“Di sini tak bakalan ada yang asli kayak gini,” bangganya lagi.

“Bagi dong!”

“Lain kali, kalau saya ke sana lagi.”

“Asyik!”

“Ayo minum,” katanya.

Saya teguk minuman. Dia juga. Bersoda. Lalu ada yang minta permisi keluar dari lambung saya. Tak bisa saya tahan sendawa. Uakhh…. Mulut saya bau Coca Cola—juga mulutnya.

Saya alihkan pandangan, di tepi jendela, saya lihat Orwell geli tertawa.

************

JEMIE SIMATUPANG

Pedagang buku bekas dari Medan.