Pagi Seperti Apa Yang Diinginkan?

KATA: TEDY WAHYUDY

Tedy Wahyudy, Penyair dari Negeri Hujan Kata-kata

PAGI ini, tak jauh berbeda dari pagi-pagi sebelumnya; cahaya matahari mulai muncul dari timur, menyapu langit abu-abu sebab mendung yang malu-malu mencurah hujan rintik yang manja jatuhnya. Tak banyak perbedaan pada setiap pagi yang datang, selain warna langit dan corak hujan yang jatuh.

Selama kurun waktu hidup; pagi semacam ini pernah beberapa kali terulang. Ada juga pagi dengan langit berwarna hitam malu-malu (hitam tidak, abu-abu pun tidak. Boleh jadi; hitam keabu-abuan atau abu-abu kehitam-hitaman). Ada juga pagi dengan hujan yang malu-malu, deras tidak, rintik pun tidak. Pagi dengan hujan yang membabibuta pun ada (maaf, babi). Pagi yang sering berulang adalah pagi dengan langit berawan pecah-pecah disiram semburat warna kuning kemerah-merahan. Tidak ada hujan di corak pagi yang semacam itu.

*

Pagi terbit di matamu / Hari baru, sorak sorai orang-orang sekitarmu // Kantukmu belum juga tuntas tatkala berat langkahmu membuka jendela // Pagi terbit di matamu / Hari baru, sorak sorai orang-orang sekitarmu // Berpaku engkau di depan jendela / mendengar sorak sorai orang sekitarmu / Pagi terbit di matamu / tetapi pikiranmu, terjebak di hari-hari lalu / kusam masai wajahmu / begitupun / kau tetap secantik pagi / sedingin embun //

*

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pagi berarti bagian awal dari hari. Aku bertanya-tanya kemudian, jika seandainya, kelelawar punya kamus, maka apakah definisi pagi di dalam kamus mereka? Bagaimana kelelawar memberi nama pada makhluk yang disebut manusia oleh manusia?

Pagi, terlepas dari segala atribut kultur yang bersumber dari ulah ‘mata manusia’, merupakan ulah bumi yang itu-itu saja adanya. Putaran bumi pada porosnya di saat ia beredar pada lintasannya mengelilingi matahari. Tatkala bumi berputar pada poros, adakalanya sebagian penampang bumi berhadap-hadapan dengan matahari.

*

Bumi membawa wajahnya yang lain ke hadapan wajah matahari / Bertemu pandang keduanya dalam rupa masing-masing // Bumi memandang api di rona wajah matahari / menyala-nyala, menyala-nyala / Bagi bumi, nyala api adalah pertanda amarah / / Matahari; adalah wajah yang tak kunjung luput dari amarah // Sementara bagi matahari;wajah bumi adalah wajah yang tak kunjung lelah mendua / hingga jarak diantara keduanya; abadi //

*

Di saat penampang bumi berhadap-hadapan dengan matahari, maka perlahan, sinar matahari itu akan membanjiri penampang bumi. Oleh karenanya, mata manusia mulai dapat melihat segala benda nyata yang ada dengan jelasnya, tanpa alat bantu buatan seperti lampu atau lilin.

Pagi, adalah salah satu fenomena rutin yang disebabkan perputaran bumi pada porosnya terhadap matahari. Yang itu-itu saja dan begitu-begitu saja. Tetap dalam ketetapan hukum-hukumnya, sebagaimana tetapnya fluktuasi keadaan turunannya yang disebabkan oleh apa yang disebut ‘cuaca’.

Pagi, yang didaku sebagai awal dari hari itu, membawa keadaan-keadaan yang berbeda bagi kerumunan manusia yang ada (yang telah dibedahpisah ke dalam kategorisasi yang beragam, berubah-ubah adanya).

Pagi, bagi adikku yang masih berkuliah, adalah momen huru-hara (pada hari-hari dimana ada matakuliah yang begitu nakal hadir pada pukul delapan). Sebagaimana adikku, pagi juga merupakan huru-hara bagi ibuku yang terikat jam kerja.

Pagi, juga terkadang berubah menjadi huru hara level naga, tatkala dengan begitu licik tim senang-senangku menetapkan jadwal keberangkatan pagi sehingga harus berada di titik kumpul, pukul enam tiga puluh.

Di jalan-jalan raya, setiap pagi, ramai kendaraan melaju dengan kecepatan luar biasa. Huru-hara pagi di jalan raya bagi orang-orang yang terikat jam kerja, memampangkan keadaan yang menarik; ketakutan manusia akan terlambat sepertinya lebih tinggi ketimbang ketakutan manusia akan mati.

Apakah takut terlambat ini, dialami setiap pekerja hingga ke level direktur dan pemilik perusahaan/instansi pemerintahan/lembaga negara dan lain sebagainya? Apakah takut terlambat ini dialami setiap civitas akademika, mulai dari petugas kebersihan, mahasiswa, dosen hingga rektor? Kenapa susah mencari pedagang mie ayam yang buka di pagi hari?

“Pak, bisa lebih cepat lagi? Agak ngebut kenapa, udah terlambat ini!”

Pernah, salah seorang penumpang angkutan kota menggoda hasrat terpendam pak supir untuk menjadi Michael Schumacer. Alhasil, sepanjang perjalanan itu, aku menjadi bagian dari prosesi “balap liar” di pagi hari. Di lain waktu, mantra ‘ngebut’ itu aku ucapkan pada pak supir. Sepertinya, kebanyakan supir angkutan kota, memiliki hasrat terpendam untuk bermain film 2 fast 2 furious atau film taxi (tanpa fake).

Setelah mengucapkan mantra itu, ada kesadaran akan kesalahan dalam ‘mantra’ berbahaya itu, mantra yang dapat memperbesar resiko bahaya atas kelangsungan hidup manusia lainnya yang ada di dalam angkutan kota itu

*

Kita awali pagi dengan huru-hara / sarapan sambil berlari // jalan raya menjadi meja judi atas segala cinta yang ada // Setelahnya, terpenjara tubuh kita ke dalam goa-goa batu bernama pabrik // hingga reda itu cahaya matahari / pulang kita membawa lelah, membawa resah //karenanya; tak jarang ranjang kita; njelma kuburan dimalam-malam yang letih // Kasih, apakah kehidupan semacam itu, yang kita buru?//

*

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah berkesempatan merasakan nuansa pagi di beberapa desa; Alahan Tabek di Padang Pariaman, Argo Mulyo di Sleman, Tanjung Serian di Muara Enim, Desa Mendahara Tengah di Tanjung Jabung Timur serta desa Sekoci di Langkat.

Mayoritas penduduk di desa-desa itu (ketika itu) adalah petani pekebun. Pagi di desa-desa itu, tak jauh berbeda dengan nuansa pagi di kota-kota, terkecuali soal hiruk pikuknya. Hanya anak-anak sekolah yang tergopoh-gopoh berlari seliweran di jalan, mencegah diri mereka terlambat datang ke sekolah-sekolah yang ada.

Tidak pernah sekalipun, aku menyaksikan petani pekebun disana, mengalami huru hara pagi; sarapan sambil berlari menuju sawah/kebunnya masing-masing sebab takut terlambat. Tidak pernah juga, aku mendengar desas-desus di kalangan petani, yang menceritakan perihal; petani yang diancam gagal panen sebab terlambat datang ke sawah kebunnya di pagi hari. Tidak pernah juga kudengar ada sawah kebun yang bersekongkol jenaka, menerapkan aturan ‘finger print’ di pagi hari. Para petani pekebun di desa itu, mengawali hari dengan biasa saja.

*

Kuhadiahi kehadiranmu dengan kehadiranku / sepanjang malam, pagi hingga menuju siang yang jenaka / kuminta pisah sejenak saja / agar rindu tetap ada / ke sawah ladang aku pergi // sebelum senja, kupastikan kembali //

*

Di atas bumi, manusia hidup. Dalam hidupnya, manusia membentuk dunia. Pagi bagi bumi, adalah tetap dengan ketetapan hukum-hukum fisika dan mekanikanya. Pagi bagi dunia manusia, penuh dinamika yang jenaka lagi menggemaskan, berdasarkan hukum-hukum yang diciptakan pikirannya. Jika hidup cuma sekali, maka setiap manusia, kiranya punya hak untuk menentukan, pagi seperti apa yang dikehendakinya, mengisi hari-hari hidupnya, sebelum kembali melebur ke dalam semesta.

*********

Tedy Wahyudy

Penyair dari Negeri Hujan Kata-kata