Pandemi Global Corona, Bitcoin Turun 41 Persen

Ilustrasi Bitcoin

| Peluruhan harga Bitcoin (BTC) pada Jumat pekan lalu, menambah parah aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar di dunia itu. Sepanjang tahun ini Bitcoin turun hingga 41 persen dari US$7.203-4.185 per BTC.

Dalam 24 jam terakhir, berdasarkan data dari Coinmarketcap.com, Bitcoin anjlok 6,62 persen di kisaran US$4.938.38 (Rp74,6 juta) dan terus menurun.

Potensi Bitcoin kian melemah didengungkan oleh Chloe Chen dan Simon Peters, analis di eToro pada siang ini. Kata Chen, beberapa indikator masih menunjukkan sinyal bearish (menurun). Hal ini kemungkinan karena ketidakpastian pandemi global COVID-19 dan jatuhnya pasar BitMEX yang bikin cemas para investor.

Sedangkan Peters berpendapat, bahwa penurunan hari ini sekali lagi membuktikan pasar aset kripto berbanding lurus dengan pasar saham. Indeks harga saham Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq futures semua jatuh tadi malam, setelah The Fed AS memangkas suku bunga mendekati nol dan meluncurkan kebijakan pelonggaran kuantitatif sebesar US$700 miliar.

Aset kripto lainnya, juga senasib dengan Bitcoin. Ether (ETH) turun 16 persen di US$107 dan Ripple mendekati rekor terendahnya di US$0,135.

“Kami meramalkan aksi jual akan terjadi, baik di pasar saham maupun di pasar kripto,” kata Peters.

Penambang Bitcoin Merugi
Di sisi lain, harga Bitcoin mengancam keberlangsungan para penambang Bitcoin. Melemahnya harga Bitcoin lebih dari 40 persen pada bulan ini berpotensi ditutupnya sejumlah tambang Bitcoin. Hash rate Bitcoin menurun, kembali ke tingkat pada Februari 2020.

“Ketika Halving Mei nanti praktis juga menggerus imbalan Bitcoin yang mereka terima. Kecuali harga Bitcoin rebound,” kata Manager CoinShares, Chris Bendiksen.

Menurut Chris, harga Bitcoin harus sekitar US$7.400 agar para penambang tetap untung. Keuntungan penambang menjadi minus, ketika harga Bitcoin hanya US$4.500. (tb)