Pandemi, Petani & Krisis Pangan

KATA: AT Arief

AT Arief

SAMPAI sejauh ini, penulis belum mendengar Pemerintah Daerah bicarakan serius isu krusial ancaman krisis pangan dan pertanian. Gubernur dengan para Bupati/Walikota di Provinsi Sumut terlihat masih terlalu sibuk di penanganan medis Covid-19.

Padahal sedari awal, sudah sering diingatkan situasi bencana baiknya dihadapi dengan tindakan mitigasi bencana. Tindakan menyeluruh yang menyentuh multi-dimensional (sosial-ekonomi-budaya). Penanganan jangka pendek perlu, pencegahan dan antisipasi jangka panjang juga sangat perlu.

Khusus ancaman krisis pangan, bahkan Presiden Jokowi pada bulan lalu, Senin (13/4/2020), sudah mengingatkan ancaman krisis pangan sebagai dampak pasca-pandemi Corona. Mengutip Organisasi Pangan Dunia (FAO), Presiden berharap Pemerintah Daerah (Pemda) di seantero negeri bisa melakukan antisipasi dini.

Sepinya Pembeli dan Anjloknya Harga

Untuk itu, penulis mengunjungi Pasar Induk Lau Cih, Medan Tuntungan, Kota Medan pada Kamis (7/5/2020) dini hari. Melihat sejauh mana perhatian Pemda menanggapi isu penting ini. Meski disadari, Pasar Induk ini hanyalah lokasi hilir dari produk pertanian, namun penting diamati karena mencerminkan sensitivitas Pemda menyikapi peringatan Presiden Jokowi.

Perlu diketahui, pelbagai komoditi hasil pertanian di Pasar Induk ini dibawa para pedagang dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Ada berbagai jenis sayuran dan bebuahan dipasarkan di sini. Hampir semuanya dibawa dari hasil pertanian di luar Kota Medan.

Dalam kondisi normal, para pembeli ramai datang ke pasar ini. Dari konsumen berkebutuhan jumlah besar seperti hotel dan restoran, sampai kebutuhan rumah tangga dan penjual eceran berbelanja di sini. Selain harga murah, di pasar ini juga tersedia banyak pilihan jenis komoditi pertanian.

Namun, dihantam pandemi Covid-19, kunjungan pembeli di pasar ini menurun drastis. Sangat berbalik dibanding situasi normal. Apalagi, di bulan puasa Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang ini, biasanya jumlah pembelian membludak. Tetapi tidak, saat sekarang ini.

Berbanding lurus, harga pun turut anjlok. Teori ekonomi, “permintaan pembeli berbanding lurus dengan harga barang” terjadi di sini. Pembeli sepi, barang menumpuk dan harga juga anjlok. Ekonomi lesu, putaran uang sepi.

“Sebelum ada Corona, pas mau Lebaran gini, cabe bisa 20 ribu ke 30 ribu per kilo. Ini ditawarkan 7 ribu ke 8 ribu pun nggak laku,” ungkap salah seorang pedagang, Nande Obi beru Ginting kepada penulis.

Ungkapan Nande Obi ini mewakili suara ratusan pedagang di Pasar Induk. Bila ditelisik lebih jauh lagi, juga menyuarakan kegelisahan para petani ribuan bahkan ratusan ribu para petani yang menggantungkan kehidupan di sektor pertanian.

Rantai Ekonomi-Kemanusiaan

Pernahkah dihitung efek domino lesunya transaksi dagang ini? Bayangkan, dari satu lokasi bernama Pasar Induk Lau Cih, punya efek domino ke banyak orang. Dimulai dari pedagang dan keluarganya, petani dan keluarganya sampai dampaknya ke putaran ekonomi masyarakat yang berinteraksi langsung dengan mereka ini.

Situasi ini pernah penulis uraikan kepada publik dalam satu sesi diskusi informal. Dari sekian banyak ungkapan empati, ada juga yang menyeletuk,”Sudah tahu situasi gini, kenapa mesti banyak bawa dagangan ke pasar?”

Penulis terkejut sembari berdoa semoga saja para pejabat pemerintahan tidak seperti ini reaksinya menghadapi situasi.

Perlu diketahui, ada yang namanya sosiologi-pertanian. Sederhananya begini, para pedagang di Pasar Induk Lau Cih ini, selain ikatan ekonomi juga punya ikatan sosial dengan para petani. Selama ini, para pedagang ini rutin membeli hasil panen para petani di desa.

Lazimnya, interaksi manusia terjalin pula hubungan emosi mendalam. Sangat manusiawi. Lantas, dalam situasi begini, ketika para petani baru panen, apa pantas pedagang ini menolak membeli hasil panen tersebut? Bukan hanya bisa merusak hubungan dagang, tapi juga hubungan kemanusiaan. Ada aspek kultural yang perlu ditinjau lebih dalam lagi.

Pertanian adalah aspek kehidupan yang menitikberatkan siklus jangka panjang. Mode berpikir orang-orang yang bergelut di bidang ini, juga begitu. Kompleks, bukan kerdil sebatas spekulasi dagang untung-rugi. Ada rantai ekonomi dan kemanusiaan yang tak boleh terputus di sini.

Aktivasi Klaster Ketahanan Pangan, Beli Hasil Panen Petani

Seperti kebiasaan yang baru muncul belakangan ini, sebagai warga sipil biasa, kita pun diminta berikan solusi tiap kali berikan pandangan. Baiklah, kalau begitu.

Pak Gubernur, segera aktivasi klaster Badan Ketahanan Pangan. Institusi ini juga perlu ‘naik panggung’ menjelaskan situasi di tengah pandemi ini. Strategi macam apa yang sedang dilakukan atau disiapkan. Jangan melulu informasi ‘orang meninggal’ dan terinfeksi saja yang dijejali ke publik.

Pak Gubernur, tolong dibeli itu hasil panen para petani. Pakai anggaran belanja daerah. Gerakkan para Bupati/Walikota melakukan hal sama. Barangkali, di dalam paket sembako yang dibagikan ke masyarakat itu, bisa ditambahkan sayur dan buah di dalamnya. Bukankah di situasi pandemi begini, masyarakat butuh nutrisi. Itu sayur dan buah kaya nutrisi, pasti baik sekali buat daya tahan tubuh.

Untuk jangka pendek, tindakan ini perlu cepat dilakukan. Jangan menunggu sayuran dan bebuahan itu membusuk di ladang atau di pasar.

Untuk jangka panjang, strategi pembangunan harus peka pada isu pertanian dan ketahanan pangan. Tata kelola pembangunan jangan sampai menghabisi lahan produktif pertanian.

Perlu disadari, untuk penanganan kita perlu mengenali esensi krisis itu sendiri. Pasca-pandemi hari ini, ada potensi krisis multi-dimensional. Oleh karena itu, tak bisa ditangani secara parsial. Aktivasi klaster penanganan yang ada. Libatkan seluruh pihak, sebab ini adalah masalah kita bersama, tanpa terkecuali.

*******

AT Arief

Pendiri Sekolah Estetika & Klub Kajian Budaya