Peringatan Hari Anti Kekerasan Seksual 2020: Stop Perkawinan Anak Usia Dini

Hari Anti Kekerasan Seksual 2020 bertajuk “STOP Perkawinan Anak/Dini Menuju Zero Violence Terhadap Perempuan Demi Mendorong Kepemimpinan Perempuan", di Taman Ahmad Yani, Medan, Jumat (14/2/2020) (Foto: Istimewa)

| Seluruh pihak diminta waspada terhadap segala bentuk kekerasan seksual, perkawinan anak usia dini merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual yang masih sering terjadi.

Hal ini diungkapkan sejumlah aktivis perempuan, individu dan organisasi yang peduli perempuan saat memperingati Hari Anti Kekerasan Seksual 2020 bertajuk “STOP Perkawinan Anak/Dini Menuju Zero Violence Terhadap Perempuan Demi Mendorong Kepemimpinan Perempuan”, di Taman Ahmad Yani, Medan, Jumat (14/2/2020).

“Walau Pemerintah Indonesia telah melakukan revisi batasan usia perkawinan sesuai dengan UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UU No 16 tahun 2019 tentang Perkawinan mengenai batasan usia menikah yakni minimal 19 tahun, tetapi hal tersebut belum berjalan efektif,” ujar perwakilan aktivis, Cut Alma.

Lebih lanjut, para aktivis ini mengungkapkan perkawinan anak usia dini membawa dampak buruk pemenuhan hak-hak anak. Kemiskinan, tingginya potensi kekerasan rumah tangga, kematian ibu dan anak serta hilangnya peluang anak menikmati hari-hari dan menggali potensi diri adalah beberapa dampak buruk tersebut.

Acara peringatan Hari Anti Kekerasan Seksual 2020 ini, diisi berbagai kegiatan, seperti bedah kasus, women talk, pembacaan puisi, teaterikal, penandatanganan ‘janji hati’ dan diakhiri dengan menari bersama One Billion Rising (OBR) sebagai bentuk khas kegiatan ini.

“Dunia harus waspada! Ketika 1 dari 3 perempuan di dunia mengalami kekerasan seksual, artinya ada 1 miliar perempuan di dunia yang mengalami kekerasan,” ujar salah seorang peserta kegiatan dalam sesi diskusi.

Kegiatan ini inisiasi Aktivis Perempuan Sumut dan lintas organisasi perempuan di Sumut, sebanyak 77 perempuan yang berasal dari Pesada, Forum Perempuan Muda, FORHATI, Kohati, Saya Perempuan Anti Korupsi, PSGA UINSU, Fatayat NU, ALMANSI, FJP.

Perlu diketahui, tanggal 14 Februari di seluruh dunia, termasuk Indonesia, secara serentak melaksanakan peringatan Hari Anti Kekerasan Seksual. Gerakan ini dimulai sejak 20 September 2012 atas prakarsa seorang aktivis, Eve Ensler.

Kegiatan ini bertujuan untuk merangkul, menyuarakan dan menyelamatkan perempuan dari pelecehan seksual dan kekerasan seksual. (tb)