Persimpangan Jalan Tanpa Prasangka

KATA: AT Arief

AT Arief

BUKAN baru kali saya lihat puing kaca kendaraan bermotor di persimpangan jalan satu ini. Ini perulangan, bukan baru kali ini. Tak perlu spekulasi panjang, hampir bisa dipastikan ada tabrakan baru terjadi di sini. Di persimpangan jalan satu ini.

Persimpangan jalan satu ini unik. Unik karena bisa menggambarkan mental birokrasi tata kelola kota ini. Minimal, tata kelola jalan raya kota ini. Dari persimpangan jalan satu ini, dari lampu jalan (traffic light) yang dipasang di tiap titik perempatan jalan.

Coba membaca atau menduga-duga, mentalitas birokrasi macam apa yang memasang lampu jalan di persimpangan jalan satu ini. Mengintip prasangka dan anggapan ‘mereka-mereka’ yang ditugaskan mengoperasikan lampu jalan di persimpangan jalan satu ini.

Yah, kurang lebih, mirip ilmuwan biologi coba jelaskan jagad makro dengan mengamati mikro-organisme di laboratorium. Saya pun coba memiripkan diri dengan para ilmuwan ini. Tidak mirip betul, tapi mendekati. Mereka pakai mikroskop dan seabrek teori sains yang rumit-rumit. Saya pakai mata-pikiran dan refleksi pengalaman keseharian.

*

Saya tak perlu sebut jelas nama persimpangan jalan satu ini. Yang pasti, ada di kota ini. Kalau pembaca lebih peka dan sering jalan-keliling, pasti tahu dimana.

Tiap hari, begitu dentang jam tiba pukul 12 malam, traffic light di persimpangan jalan satu ini berubah jadi cuma satu warna. Kuning saja, kelap-kelip tak berganti. Para pengendara tak lagi menemukan warna merah ‘tanda berhenti’, kuning ‘tanda hati-hati’ dan hijau ‘tanda boleh melaju’ seperti sering diajarkan waktu kecil dulu. Hanya kuning, hati-hati. Cuma itu, sampai pukul 6 pagi.

Semula melihatnya, saya berprasangka baik. Para pelintas pasti sudah mengerti dan dewasa. Berhati-hati bila berkendara. Tak perlu dikontrol lampu warna-warni, seperti diajarkan waktu kecil dulu.

Namun, prasangka semula saya itu ambruk. Bagaimana tidak, berapa kali lewat sini, di atas jam 12 malam, kendaraan yang melintas saling berebut melaju. Dari arah bersilangan, mereka berebut tak mau kalah. Sering, kecepatan laju tinggi. Riskan dan berbahaya. Beberapa kali juga, saya lihat langsung tabrakan atau sekedar saling mengumpat pengendara. Sekali lagi, bukti lapangan puing-puing kaca kendaraan, masih segar tergeletak di sini, di persimpangan jalan satu ini.

**

Saya coba bandingkan kota ini dengan beberapa kota lain di negeri ini. Sebut saja kota X, sempat saya tinggal beberapa tahun di kota X ini. Kota berprasangka baik, saya berani menyebutnya begitu.

Traffic light, lampu jalan di tiap persimpangan jalan kota ini, selalu normal menyala. Merah, kuning, hijau bergantian 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Para pengendara yang melintas, selalu menemui lampu warna-warni, seperti diajarkan waktu kecil dulu. Biar melintas dini hari, jalanan kosong melompong, para pengendara tertib mengikuti arahan warna lampu. Satu-dua, ada saja yang melanggar.

Biasa, mungkin khilaf, lupa sama yang diajarkan waktu kecil dulu. Jarang saya lihat ada kendaraan bertabrakan karena tak patuh sama warna-warni lampu jalan. Satu-dua ada, mungkin khilaf.

Memang, agak berbeda dengan pengendara yang berseliweran di kota ini. Jangankan dini hari, jalanan kosong melompong, siang hari terang benderang pun tak sedikit pengendara yang suka melanggar aturan lampu warna-warni. Tertib bila ada ‘Bapak itu’ berdiri di situ. Kalau tak ada, jangan ditanyakan soal keberanian. Satu-dua-tiga-empat-dst…berani menerobos lampu warna merah. Terlalu banyak, tak bisa disebut khilaf atau lupa sama yang diajarkan waktu kecil dulu.

***

Kembali lagi, barangkali ‘keberanian’ para pengendara ini yang melatarbelakangi para birokrat-operator tata kelola jalan raya kota ini mengubah lampu warna-warni jadi cuma satu warna bila jam 12 malam telah tiba. Toch, jangan dini hari, siang hari saja pun lampu warna-warni sering tak dianggap ada? Mungkin, demikian prasangka para pengelola lampu warna-warni. Entah iya, entah tidak prasangka saya ini.

Jujur, agak menggelikan bila prasangka saya ini benar. Mengapa? Jelas saja, pengoperasian sistem tak boleh berdasarkan prasangka. Sistem mesti mekanis, transparan, dingin ala robotik. Prasangka itu manusiawi, subjektif. Sistem itu berlaku umum, prasangka itu individualistik. Jalan raya bersifat umum, milik umum, dibangun dari dana umum bukan individu. Yang umum, mesti bebas prasangka individu.

Boleh saja, berprasangka para pengendara di kota ini sulit tertib. Justru itu, seandainya pun prasangka ini benar, sistem mesti jernih dan beroperasi normal. Sedangkan, beroperasi normal saja masih dilanggar, apalagi tak normal? Iya apa tidak?

Semoga, persimpangan jalan satu ini tidak dikelola oleh prasangka, sebab memang mestinya begitu. Persimpangan jalan tanpa prasangka.

*-*-*-*-*

AT Arief

Pendiri Sekolah Estetika