Pertanian di Kabupaten Karo, Petani Perlu Dibantu Akses Pasar Pasca-Panen

Iwan Depari (Foto: Istimewa)

| Praktisi hukum dan penggiat sosial, Iwan Depari SH, menilai masalah krusial pertanian di Kabupaten Karo terletak pada akses pasar usai masa panen. Artinya, petani kesulitan menjual hasil panen pertanian mereka.

“Lebih bagus kita ke pokok masalah. Yang jadi problem petani, sebenarnya pasca-panen. Ada pun pupuk, itu belum ada nampak hasilnya kalau penjualan tidak jelas, pasar tidak jelas, harga tidak jelas. Ini yang harus diselesaikan,” terang Iwan kepada TataBerita, di Medan, Rabu (24/6/2020).

Iwan mengakui, ketersediaan pupuk masih jadi masalah pertanian di Kabupaten Karo. Menurutnya, hal ini menggambarkan pengelolaan pemerintah daerah atas pertanian masih jauh di bawah standar.

“Pertanian kita sangat termarjinalkan (terpinggirkan-red) karena masih (dikelola) jauh di bawah standar. Misalnya, di survei terakhir mengatakan kebutuhan masyarakat petani adalah pupuk. Nah, ini kan sangat mendasar. Mestinya, pupuk ini kan bukan masalah lagi bagi petani,” tegasnya.

Pengelolaan pertanian harus meliputi hulu ke hilir. Menurut Iwan, Pemerintah Kabupaten Karo harus punya kemauan dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah pertanian di daerah yang tanahnya terkenal subur ini.

“Kita harus siapkan Badan Usaha Milik Daerah yang bisa menyelesaikan masalah pertanian dari hulu ke hilir. Soal pupuk, Pemda harus bisa intervensi. Kemudian, saat pasca-panen pun harus ikut campur tangan. Contohnya, kalau harga masih murah, Pemda harus ambil alih. Petani kita jangan dipaksa, Pemda harus ikut membantu akses pasar,” ungkapnya.

Terkait pendaftaran dirinya ke PDI Perjuangan untuk maju sebagai Calon Bupati Karo pada Pilkada 9 Desember 2020 mendatang, ia mengaku siap dan bertekad menyelesaikan berbagai masalah, khususnya judi dan narkoba, di dataran tinggi Karo ini.

“Kita kan bertekad untuk menyelesaikan ini. Jadi pemimpin itu harus punya kemauan, tekad, kemampuan dan keberanian,” pungkasnya. (tb)