Photo Story: Upacara Hanyut Lancang

PHOTO STORY: FIRMAN SAPUTRA

Sang Pawang Buaya bersama penduduk desa mempersiapkan ritual Hanyut Lancang, Foto: Firman Saputra

| UPACARA Hanyut Lancang, sebuah tradisi turun-menurun masyarakat desa Perhiasan, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Biasanya, dilaksanakan pada tanggal 7 atau 10 Dzulhijah (kalender Arab) selepas Hari Raya Idul Adha, setiap tahunnya.

Hanyut Lancang, menurut keterangan, dilakukan untuk memperingati hari lahirnya seekor buaya betina di desa itu, pada zaman dahulu. Seorang ibu, di desa Perhiasan, pernah melahirkan bayi kembar, seorang bayi lelaki dan satunya lagi berwujud  buaya betina.

Bayi lelaki diberi nama Sitam Buaya, bayi berwujud buaya betina buaya diberi nama Siti Fatimah. Bayi berwujud buaya betina, makin lama makin besar sehingga dilepas ke sungai Wampu. Ritual pelepasan bayi berwujud buaya betina ini, cikal bakal upacara Hanyut Lancang.

FOTO: Firman Saputra

GOTONG ROYONG| Tradisi ini sudah dilaksanakan oleh enam keturunan di desa Perhiasan. Penduduk desa gotong royong menyumbang uang dan tenaga untuk mempersiapkan Hanyut Lancang. Kaum lelaki, siapkan Lancang (replika perahu) berukuran panjang satu meter.

FOTO: Firman Saputra

PERSEMBAHAN| Di dalam Lancang, diisi ragam makanan, seperti nasi putih,nasi kuning, nasi merah, nasi hitam, seekor ayam, pisang emas, daun sirih lengkap, bunga dan lainnya. Untuk makanan persembahan, harus makanan yang dimasak pertama kali bukan makanan sisa atau yang disisihkan.

FOTO: Firman Saputra

UPACARA| Acara dimulai selepas sholat Isya, seluruh penduduk desa berkumpul menghadiri kenduri, dan makan bersama.

FOTO: Firman Saputra

LANCANG| Usai berdoa, maka Lancang berwarna kuning diarak bersama ke tepian Sungai Wampu.

FOTO: Firman Saputra

PAWANG| Pawang buaya adalah orang yang dipercaya sebagai keturunan dari Siti Fatimah. Ia adalah pemimpin upacara Hanyut Lancang. Ia bertugas mempersiapkan peralatan dan tatacara ritual.

FOTO: Firman Saputra

TRANCE| Pada saat ritual, sang pawang akan berdendang Melayu lama. Tujuannya, mengundang energi sang leluhur Siti Fatimah untuk hadir dan merasuki sang pawang.

FOTO: Firman Saputra

PENAWAR| Ketika sang trance (kerasukan energi) Siti Fatimah, para penduduk bergantian berkonsultasi atau meminta obat penawar kepadanya. Setiap keluhan dan permasalahan hidup akan diberikan solusinya.

Sesudahnya, Lancang akan dihanyutkan ke sungai Wampu. Upacara Hanyut Lancang usai. Penutupan acara, penduduk desa makan pulut kuning bersama di pinggir sungai Wampu. (tb)