Pilkada dan Walikota Medan, Di Mata Alween Ong

Alween Ong, (Foto: Istimewa)

| Pengusaha muda, Alween Ong, unjuk pendapat terkait agenda Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Walikota/Wakil Walikota Medan 2020 mendatang. Awen, sapaan akrabnya, berpendapat Pilkada Medan kali ini, mesti menampilkan kualitas baik dari calon pemimpin.

“Takut akan Tuhan, siapapun pemimpinnya harus memahami, semua adalah titipan, amanah yang harus dijaga. Siap menjadi pelayan bukan dilayani, setiap yang dilakukan akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan akhirat,” ujar Awen kepada TataBerita, di Medan, Sabtu (21/3/2020).

Awen melanjutkan, pejabat Walikota Medan ke depan, harus mengenal potensi dan kelemahan kota ini. Mampu hadirkan solusi, punya kemampuan manajerial dan dikelilingi orang-orang mumpuni di bidang masing-masing.

“Mampu mengajak bukan memerintah. Medan ini dikenal kota para ketua, nggak suka diperintah namun siap diajak dengan komunikasi yang baik. Ia (Walikota) juga dikelilingi orang yang baik yang memahami kebutuhan rakyat bukan suka kasih informasi ABS (Asal Bos Senang-red),” imbuhnya.

Walikota Medan ke depan, kata Awen, jangan lagi mengulang kasus korupsi seperti menjerat beberapa para Walikota sebelumnya.

“Tidak mengulangi sejarah pendahulu status hattrick kasus korupsi. Walikota ke depan harus sudah di ‘angka cukup’, mengabdi pada negeri bukan bikin gembul perut sendiri,” tegas pendiri Mobil Wisata Edukasi dan Entrepreneurship (Mowiee) ini.

Ketika ditanya, siapa sosok tepat menjadi Walikota Medan ke depan, Awen belum bersedia menjawab.

“Rakyat bosan hanya diperlukan menjelang pemilihan (Pilkada) dan setelahnya dilupakan. Kita lihat ke depannya. Namun yang pasti, Medan rindu perubahan,” ujarnya.

Baca juga: Tim Pemenangan Bobby-Aulia: Komitmen dan Kemauan Mendengar Kunci Perubahan

Seperti diketahui, nama Alween Ong sempat dikabarkan akan maju mendaftarkan diri menjadi Bakal Calon Walikota 2020.

Ia dinilai mewakili kalangan sociopreneur muda berprestasi, sebab sering mengharumkan nama kota Medan di kompetisi kewirausahaan dan sering mengadakan kegiatan sosial.

“Kita tahu, jalur independen (perseorangan) dibutuhkan kerja ekstra dengan waktu yang singkat. Sementara itu, dari jalur partai adalah hak penuh partai. Intinya, duduk atau tidak (sebagai Walikota), semangat saya tetap¬† berkarya nyata dan berkontribusi ke masyarakat,” pungkasnya. (tb)