Pilkada Medan 2020, Gerakan Perahu Putih: Parpol Asyik Sendiri, Kita Tolak Sihir Politik!

Koordinator GPP Kota Medan, Immanuel Damanik (Foto: Istimewa)

| Komunitas Gerakan Perahu Putih (GPP) Kota Medan menilai manuver partai politik (parpol) dalam agenda Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Walikota/Wakil Walikota Medan tahun 2020 lebih mencerminkan keinginan elit parpol ketimbang keinginan masyarakat kota Medan sendiri.

“Ya, kita lihat aja prosesnya dari awal. Parpol-parpol itu seperti asyik sendiri. Munculkan nama calon, tanpa proses demokratisasi kepada publik. Yang ada, mereka ( parpol) mempertontonkan manuver politik tanpa empati pada persoalan riil masyarakat,” ucap Presidium GPP, Immanuel Damanik, di Medan, Jumat (7/8/2020).

GPP menilai, kemunculan dua nama, Akhyar Nasution dan Bobby Nasution, di kontestasi Pilkada Medan 2020 adalah bentuk dominasi politik.

“Memunculkan duo Nasution ini adalah sihir politik, dominasi pembicaraan politik di kota ini. Lalu, kita digiring untuk ngotot mendukung salah satunya. Seolah-olah, cuma mereka saja pantas memimpin kota ini. Ironis,” tegas mantan aktivis pergerakan mahasiswa tersebut.

Disinggung tentang upaya ajakan tak memilih alis golput, Immanuel mengaku, pihaknya tak bermaksud begitu.

“Nggak (golput-red), kita belum ke situ. Kita harus pastikan perahu yang kita naiki bertujuan kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai, nakhoda (walikota-red) tak punya kapabilitas memimpin. Masyarakat jangan mau dibenturkan karena berbeda pilihan,” tandasnya.

Baca juga: Agenda Pilkada Medan 2020, Ini Pesan Senioren Pada Akhyar Nasution

Dijelaskannya, Gerakan Perahu Putih punya makna filosofis. Bila parpol sebagai ‘perahu’ para Bakal Calon Walikota/Wakil Walikota tak mewakili kepentingan masyarakat, maka masyarakat perlu membuat ‘perahu’ atas inisiatif sendiri.

Warna putih bermakna, seandainya pun harus diwarnai, perahu harus diwarnai oleh masyarakat bukan parpol. Masyarakat adalah subjek bukan objek politik para elit parpol. (tb)