Pilkada Medan 2020, Pengamat Politik: Ada Kesan Akhyar Dizalimi!

Wara Sinuhaji, Pengamat Sosial & Dosen Sejarah USU

| Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus pengamat sosial-politik, Wara Sinuhaji, menilai ada kesan bahwa Plt Walikota Medan, Ir Akhyar Nasution MSi, dizalimi dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Walikota/Wakil Walikota Medan tahun 2020.

“Ada semacam penzaliman terhadap Akhyar. Kita sama-sama tahu, yang mengusulkan dia dulu berpasangan dengan (walikota) yang lama itu siapa? itu kan PDIP. Dia kan kader PDIP. Jadi kan sewajarnya PDIP itu, selaku dia (Akhyar) petahana, dukung dia balik,” ujar Wara, di Medan, Sabtu (8/8/2020).

Ditanyakan munculkan kesan Akhyar dizalimi, Wara berpendapat bahwa alasan PDIP tak mendukung Akhyar karena berkaitan dengan kasus korupsi mantan Walikota Medan, Dzulmi Eldin, tak masuk akal.

“Kenapa (Akhyar) tidak didukung PDIP? Apakah karena (mantan) Walikota korupsi? Yang korupsi itu kan Walikota, bukan dia. Dia itu bersih. Jadi, apa alasan (tidak didukung),” terangnya.

Sejarawan USU ini menambahkan, alasan PDIP tak mendukung Akhyar karena munculnya kandidat lain, yakni menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution.

“Alasannya, ini karena Bobby itu menantu Jokowi. Harus diingat, Jokowi itu di Medan, tidak menang. Kalah dia, di Pilpres (2019) lalu.

Selain itu, imbuh Wara, kesan penzaliman terhadap Akhyar juga muncul dari pihak Bobby Nasution. Indikasinya, upaya Bobby memborong dukungan dari semua partai politik.

“Salah satu contoh, (Bobby) merangkul semua partai politik. Seolah-olah, tidak memberi ruang gerak pada kandidat lain tampil mencalonkan diri di Pilkada Medan. Kesannya, seolah-olah kalau bisa, Bobby berhadapan dengan kotak kosong. Tetapi, ternyata ada beberapa partai di belakang Akhyar, terutama PKS,” imbuhnya.

Baca juga: Pilkada Medan 2020, Pengamat Politik: Hati-Hati, Bobby Nasution!

Untuk itu, Wara mengingatkan, bahwa hasil Pemilu dengan hasil Pilkada tak berbanding lurus. Oleh karenanya, perlu bijak berpolitik agar kesan Akhyar dizalimi tak makin menguat.

“Pada PDIP juga hati-hati, walau pemenang legislatif di Medan, jangan berpretensi situasi perpolitikan sama seperti pemilihan legislatif lalu. Ini bisa berubah. Semua tergantung situasi dan kondisi. Pemilu dan Pilkada, tidak berbanding lurus,” pungkasnya. (tb)