Pilkada, Sang Mantu dan Simulakra Para Ketua

KATA: AT Arief

AT Arief

KONON, seperti sempat viral, Medan adalah kotanya para Ketua. Kota gudangnya para Ketua. Setiap orang jadi Ketua, di sini. “Apa kabar, Ketua?” Mudah didapati dalam pembicaraan ‘orang Medan’ sehari-hari. Kadang bikin orang dari luar Medan bingung, barangkali sedikit kagum, bagaimana bisa setiap orang di kota ini adalah seorang Ketua. Sungguh hebat!

Tentu, ketika simbol ‘Ketua’ melekat pada diri seseorang, bukan semata ia memangku jabatan tertentu di sebuah organisasi. Lebih dari itu, sesungguhnya penyebutan ‘Ketua’ ini menandakan kualitas diri seseorang. Ia (sang ketua) pastinya bukan orang sembarangan. Paling tidak, tak seperti orang kebanyakan (yang bukan ketua).

Penduduk kota Medan patut berbangga diri dan bersyukur, sebab di kota ini, banyak para ketua. Para ketua, orang-orang yang kualitas dirinya berada di atas rata-rata kebanyakan.

Para Ketua ‘Hilang Darah’

Namun, ujian bagi para ketua itu segera tiba. Agenda kontestasi pemilihan Walikota/Wakil Walikota 2020 akan segera dimulai. Mulailah para tokoh dan ketua tadi tampil ke permukaan publik. Tampilkan atraksi politik menarik perhatian publik. Tak sulit membaca maksud politik mereka: ingin sampaikan kepada khalayak bahwa mereka akan ikut serta ajang Pilkada Medan 2020 mendatang.

Tak ada masalah dengan atraksi politik beliau-beliau itu. Biasa saja, sebab sudah lazim seperti itu. Tiap menjelang perhelatan acara politik semacam Pilkada atau Pemilu, aktor dan entitas politik punya fase ‘cari panggung’ ke hadapan publik.

Namun, fase ‘cari panggung’ yang sedang berlangsung kini, tak luput dari keganjilan. Sungguh ganjil menyaksikan atraksi para ‘ketua-ketua’ di kota ini. Ganjil, tak seperti biasanya, para ketua ini kelihatan seperti ‘hilang darah’.

Bukankah, seperti biasa, para ketua ini selalu ingin tampil menjadi orang nomor satu? Iyalah, mestinya begitu. Namanya, Ketua.

Kondisi faktual justru terbalik, para Ketua ini seolah berlomba jadi nomor dua.

Tak lain-tak bukan, munculnya sang mantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution, sebagai bakal calon Walikota Medan bikin para ketua itu seperti hilang darah. Para petinggi partai politik di Sumut berlomba bikin pernyataan memuji sosok Bobby. Seperti pepatah lama “telunjuk menunjuk, kelingking berkait” puji sosok Bobby (plus Jokowi) sambil usulkan nama untuk berpasangan (jadi Wakil) Bobby.

Gayung bersambut, Bobby Nasution gencar silaturahmi dan daftarkan diri sebagai Calon Walikota Medan 2020 ke partai-partai politik. Respon para Ketua itu, manis sekali. Tak tanggung, bahkan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, pun menyempatkan diri menerima kunjungan Bobby. Diterima di ruang pribadi khusus yang ada lukisan Jendral Besar Sudirman di dindingnya itu.

Seolah membaca gelagat para petinggi partai, para ketua yang berniat jadi Walikota Medan 2020 pun seperti tahu diri. Di lapangan, di tengah gerilya politik yang dilakukan, para ketua ini terlihat ‘malu-malu’ dan enggan gagah berani katakan “saya siap jadi walikota’.

Bahkan sayup-sayup di kedai kopi Pak Tengah, tempat biasa saya duduk, terdengar para ketua ini berharap sekali dipinang Bobby Nasution untuk berpasangan dengannya, jadi Wakil Walikota.

Bahkan sebagian dari para ketua ini, secara terang-terangan, tanpa malu bilang,”Medan butuh Wakil Walikota yang ‘blablabla’…” Yang tentu saja, ‘blablabla’ inu tak jauh dari kriteria dan gambaran dirinya sendiri. Kriteria dan gambaran yang ia reka sendiri.

Ya, dengan mudah para praktisi komunikasi politik akan bilang,” Si fulan ini sedang kirim pesan ke Bobby: gandenglah aku jadi pasanganmu.”

Medan kota para Ketua, ternyata, tak lebih dari simulakra, yaitu sejenis imitasi atau tiruan. Para tiruan ketua, ketua imitasi. Ketua ecek-ecek, istilahnya.

Sekian dulu, nanti kita lanjut lagi.

*********

AT Arief

Pendiri Klub Kajian Budaya & Sekolah Estetika