Rangkuman Redaksi: Tantangan Ekonomi Nasional dan Regional di Tahun 2020

Ilustrasi Ekonomi (Foto: Net)

Jakarta/Medan, TataBerita | Menjelang akhir tahun 2019, memasuki tahun 2020 nanti akan ada beberapa tantangan ekonomi perlu diantisipasi. Berikut beberapa poin rangkuman Redaksi TataBerita terkait isu ekonomi nasional dan Provinsi Sumatera Utara.

Seperti dilansir dari okezone.com (20/12/2019), Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan tantangan perekonomian Indonesia di 2020 masih besar. Secara internal, defisit transaksi berjalan, ketergantungan impor bahan baku, perlunya peningkatan daya saing, isu ketenagakerjaan dan kiat menghadapi Revolusi Industri 4.0. perlu dipersiapkan.

“Sisi eksternal, ada tantangan yang bersumber dari kebijakan moneter AS, perang dagang AS-China, isu Brexit, fluktuasi harga komoditas, dan kebijakan proteksionisme,” ujarnya di kantornya, Jumat (20/12/2109).

Namun, Airlangga optimis tantangan itu bisa jadi peluang yang dimanfaatkan. Menurutnya, prospek perbaikan ekonomi global di tahun 2020 terbitanĀ  IMF maupun World Bank memberi peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, di tengah ketakpastian ekonomi dan fluktuasi harga di tingkat global, sektor konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama pertumbuhan sisi pengeluaran.

“Sektor eksternal masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi harga komoditas,” terangnya.

Lalu, agar menjaga stabilitas keberlanjutan APBN, Airlangga menganggap perlu diadakan beberapa kebijakan untuk menekan laju inflasi.

“Perlu extra effort dari berbagai pihak untuk mencapai realisasi inflasi terjaga sesuai target,” ungkapnya.

Namun, meninjau kondisi perekonomian hari ini dan tantangannya ke depan, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 berkisar 4,85% hingga 5,10%, seperti dilansir dari okezone.com (10/12/2019).

“Proyeksi ini mempertimbangan sejumlah faktor, yaitu faktor eksternal (global) dan internal serta kelesuan perekonomian global dan perang dagang Amerika Serikat dengan China menjadikan aliran portofolio dana investor ke Indonesia menjadi terhambat sehingga hal ini menciptakan tekanan terhadap berbagai mata uang global, termasuk Rupiah,” ujar Ketua Umum Apindo, Hariyadi B Sukamdani, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Selain itu, menurut Hariyadi, faktor internal sepeti perizinan usaha, ketenagakerjaan, logistik, perpajakan, akses lahan, biaya permodalan, energi, serta lemahnya daya beli sangat mempengaruhi kondisi perekonomian yang ada termasuk tantangan ke depan.

Hariyadi pun menambahkan tantangan internal terbesar ada di tata kelola pemerintahan.

“Namun masih menghadapi tantangan yang cukup besar untuk efektivitas tata kelola Pemerintahan Pusat dan Daerah,” katanya

Menurut Hariyadi untuk menumbuhkan optimisme dunia usaha terhadap perekonomian tahun 2020, perlu peningkatan optimalisasi kinerja industri, sinergi industri hulu dan hilir.

Terkait optimisme pemerintah menghadapi tantangan ekonomi tahun 2020, Kepala Bank Indonesia Wilayah Sumatera Utara, Wiwiek Sasti Widayat, mengatakan ada 5 tantangan perekonomian masih perlu diperhatikan serius oleh seluruh pemangku kepentingan di Sumatera Utara, seperti dilansir dari wartaekonomi.co.id (5/12/2019).

“Tantangan pertama, masih besarnya ketergantungan ekspor terkait komoditas perkebunan dan gejala berkurangnya kontribusi lapangan usaha industri pengolahan kepada perekonomian,” terangnya, Medan, Kamis (5/12/2019).

Menurut Wiwiek, di tengah potensi sumber daya alam yang cukup beragam, ekspor Sumut masih didominasi produk CPO dan karet olahan.

Tantangan kedua, yaitu belum optimalnya efisiensi investasi dan masih cukup rendahnya daya saing Sumut dibanding daerah lain.

“Lemahnya daya saing pada gilirannya semakin menghambat upaya memperbaiki investasi. Investor cenderung memilih daerah dengan daya saing yang lebih baik,” jelasnya.

Tantangan ketiga yaitu masih terbatasnya kemampuan fiskal serta adanya tendensi backloadingĀ (dana ditumpuk belum direalisasikan-red) dan prosiklikalitas (interaksi sistem keuangan dengan ekonomi riil-red) pada pola realisasi belanja daerah.

“Tantangan keempat, masih diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sampai pertengahan tahun 2019, Sumut masih menjadi salah satu provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi dibandingkan provinsi lain,” tuturnya.

Tantangan kelima, risiko tergerusnya daya beli masyarakat seiring fluktuasi inflasi, khususnya inflasi kelompok bahan makanan (pangan).

“Lebih besarnya kenaikan inflasi dibandingkan pendapatan masyarakat akan berdampak semakin buruknya tingkat kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Wiwiek, berbagai tantangan ini dapat menjadi faktor penahan dalam mendorong dan optimalisasi pertumbuhan ekonomi. Sumut perlu memperkuat sinergi, transformasi, dan inovasi untuk menjaga momentum perbaikan ekonomi mendatang. (tb/oz/we)