Rilis Lagu Baru, ‘Syair Cinta’ SUARASAMA Suarakan Pesan Kemanusiaan

Duo SUARASAMA, Irwansyah Harahap-Rithaony Hutajulu (Foto: Dok. SUARASAMA)

| Di usia 25 tahun perjalanan berkeseniannya, kelompok musik bergenre World Music SUARASAMA yang dimotori pasangan suami-istri Irwansyah Harahap-Rithaony Hutajulu, segera merilis lagu terbaru berjudul “Syair Cinta” pada kanal media daring Youtube, Spotify dan Joox pada Jumat (26/3/2021) mendatang.

Lagu “Syair Cinta” yang terinspirasi dari novel “Doctor Zhivago” (1957) karya peraih Nobel untuk Sastra (1958) berkebangsaan Rusia, Boris Pasternak (1890-1960), sarat pesan kemanusiaan.

“Kami ingin menghadirkan kembali karya-karya inspiratif terdahulu tentang semangat kebebasan dan kemanusiaan. Membaca novel ‘Doctor Zhivago’ rasanya kita dikembalikan pada sebuah imajinasi tentang retorika, dialektika, serta dinamika kekuasaan, kebebasan, ketertindasan, kemerdekaan dan kemanusiaan saling berkelindan. Menurutku, hari ini kita melihat berbagai persoalan kehidupan masih terjebak dengan berbagai persoalan yang sama,” terang Irwansyah, Rabu (24/3/2021), di Medan.

Untuk garapan musiknya, lagu yang liriknya menyadur langsung satu kutipan dari “Doctor Zhivago”-nya Boris, dipilih komposisi musik yang sederhana.

“Tadinya, Bang Iwan (Irwansyah Harahap-red) pingin digarap dengan pendekatan full acoustic band, tapi saya pinginnya lebih minimalis, agar pesan lirik lagu bisa lebih didengar dan diapresiasi,” urai Rithaony Hutajulu.

Kesederhanaan komposisi musik lagu ini, tetap menonjolkan kekuatan World Music sebagai ciri khasnya SUARASAMA.

“Ya, kami akhirnya memutuskan aransemen musiknya hanya dengan iringan orkestrasi bunyi alat petik lute (instrumen musik asal Turki-red)  dan gitar akustik aja,” lanjut Irwansyah sembari menjelaskan Rithaony adalah vokalis utama lagu ini.

Menyambut usia yang ke-25 tahun, SUARASAMA telah mempersiapkan delapan karya lagu baru, “Syair Cinta” adalah salah satu di antaranya.

“Sebenarnya, kita telah menyiapkan ada delapan karya lagu baru di akhir tahun 2020 lalu; lagu ‘SyairCinta’ ini merupakan salah satunya. Mudah-mudahan, di akhir tahun 2021 nanti bisa diterbitkan dalam bentuk album fisiknya,” pungkas Rithaony.

Baca juga: Journey 25th Anniversary SUARASAMA di Jakarta: Silaturahmi World Music

Untuk diketahui, SUARASAMA telah memproduksi empat album musik: “Fajar Di Atas Awan” (1998, 2018), “Rites of Passage” (2002); “Lebah” (2008); dan “Timeline” (2013). Album “Fajar di Atas Awan” diproduksi dalam bentuk keping CD oleh Radio France Internationale (RFI), France 1998. Satu lagu berjudul “Fajar di Atas Awan” yang terdapat di dalam album tersebut juga dipublikasikan sebagai lagu penutup dalam Music of Indonesia 20: Indonesian Guitars by the Smithsonian Folkways Recording, 1999 in Washington DC, USA. Di tahun 2008 album yang sama diterbitkan ulang dalam bentuk CD dan LP oleh Drag City Chicago serta didistribusikan ke beberapa negara di dunia.

Album musik SUARASAMA “Fajar di Atas Awan” dianggap sebagai “One of the 5 best World Music album of the year” oleh San Francisco Chronicle (SFGate.Com); “One of the 10 best World Music album Of the Year” oleh UnCut Magazine, London dan “One of the 10 Best Album of October, 2008” oleh Global Rhythm Magazine, USA.

Karya musik SUARASAMA juga dipakai sebagai bagian dari isi dan ilustrasi dari film “[un]COMMON SOUNDS : Exploring the Contribution of Music and The Arts in Fostering Sustainable Peacebuilding Among Muslims and Christians,” oleh Fuller Theological Seminary, USA (2013).

Irwansyah Harahap sendiri telah mendapat anugerah kebudayaan Kemendikbud RI sebagai Pelopor World Music di Indonesia pada tahun 2017 lalu. (tb)