SAHdaR Rilis Catatan Akhir Tahun 2019, Ungkap Tren dan Modus Baru Korupsi di Sumut

SAHdaR mencatat temuan modus baru korupsi di Sumut, Jl Bilal Ujung, Medan (30/12/2019) (Foto: TataBerita)

Medan, TataBerita | Sentra Advokasi Untuk Hak Dasar Rakyat (SAHdaR) merilis Catatan Akhir Tahun: Tren Korupsi Sumatera Utara 2019 dalam konferensi pers di sekretariat SAHdaR, Jl Bilal Ujung Medan, Senin (30/12/2019). Dalam konferensi pers, Divisi Monitoring Peradilan, Surya Dermawan, mengungkap temuan SAHdaR mengenai modus baru korupsi di Sumut, yaitu kredit fiktif.

“Kami menemukan modus baru berupa kredit fiktif, di bank BUMN dan BUMD. Total kerugian 33,1 miliar melibatkan 4 bank, yaitu: Bank BRI, Bank BRI Agro, Bank Sumut, dan Bank Mandiri Syariah. Modusnya berupa pinjaman kredit dengan agunan palsu,” ujar Dermawan.

Dermawan juga memaparkan 3 tren korupsi di tahun 2019, yaitu mark up, pungli dan penyalahgunaan jabatan berdasarkan statistik kasus persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi di Pengadilan Negeri Medan.

“Kami menemukan penurunan kasus korupsi yang cukup signifikan dari 79 kasus di 2018 menjadi 48 kasus di 2019. Indikasinya, karena sedang tahun politik, hal serupa juga pernah terjadi di tahun 2014. Memasuki tahun politik selalu terjadi pelonggaran penindakan kasus korupsi, makanya jumlah kasusnya berkurang,” ujar Dermawan.

Dermawan berharap catatan ini menjadi masukan bagi pemerintah agar dapat lebih fokus dan serius dalam membasmi korupsi, termasuk diketahuinya lahan serta modus baru korupsi di tahun 2019.

“Tujuan laporan ini mendukung pemerintah agar berupaya lebih baik memberantas korupsi dengan ditemukannya lahan, dan modus baru korupsi,” ujar Dermawan. (tb)