Sikap dan Sinyal SBY: Selesaikan Kasus Jiwasraya, Jangan Dipolitisasi, Selamatkan Negara Dari Krisis Lebih Besar

Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhono, (Foto: detik)

Cikeas, TataBerita | Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), akhirnya, menyatakan sikapnya terkait kasus keuangan yang menimpa PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Senin (27/1/2020). SBY memberi sinyal bahwa penyelesaian kasus ini, tanpa politisasi, dapat menyelamatkan negara ini dari krisis keuangan yang lebih besar lagi.

“Bisa saja kasus Jiwasraya ini ibarat sebuah “puncak dari gunung es”. Nampak kecil di atas permukaan, ternyata besar yang tidak kelihatan. Kalau secara kumulatif kerugian negara mencapai jumlah puluhan triliun, sebenarnya itu sudah tergolong krisis besar. Sangat bisa bersifat sistemik, terstruktur dan masif,” terang SBY dalam keterangan resmi yang beredar di lini masa, terutama fungsionaris Partai Demokrat, Senin (27/1/2020).

SBY melanjutkan, bahwa esensi dari kasus ini adalah perbaikan sistem kelola negara dan penyelamatan uang rakyat, tanpa niat politisasi.

“Sejumlah kalangan mengatakan, janganlah kasus Jiwasraya dan Asabri ini terlalu dipolitisasi. Saya sangat setuju. Jangan ada ‘penumpang gelap’ dalam hal ini. Meski, bagaimanapun tak mungkin hal begini akan terbebas sama sekali dari perbincangan politik. ,” ujarnya.

SBY lantas mengingatkan publik ketika peristiwa sama terjadi di masa kepemimpinannya di periode kedua, pasca-pemilu 2009. Ketika itu, Tim Sukses SBY diisukan menggunakan dana ‘bail-out’ Bank Century sejumlah 6,7 triliun rupiah untuk pemenangan Pemilu/Pilpres.

“Saya memegang fakta dan kebenaran mengapa dilakukan “bail-out” pada Bank Century. Saya yakin pula kedua pejabat itu (Sri Mulyani & Boediono) tak melakukan korupsi. Meskipun untuk “bail-out” Bank Century itu tak perlu meminta ijin saya sebagai Presiden, tetapi keduanya diberikan wewenang oleh undang-undang untuk mengambil keputusan,” terangnya.

Bahkan ada target politik untuk menyeret Sri Mulyani dan Budiono (Wapres 2009-2014) sampai berniat melengserkan SBY sebagai Presiden sah. Menghadapi situasi itu, SBY mengaku bersikap tenang, tidak takut serta tidak menghalangi dibentuknya Panitia Khusus (Pansus) Century di DPR.

“Saya tetap tenang. Saya juga tak takut dengan dibentuknya Pansus. Bahkan tak pernah menghalanginya. Padahal koalisi pendukung pemerintah cukup kuat waktu itu. Jumlah anggota DPR RI dari Partai Demokrat juga sangat besar, 148 orang. Perihal tuduhan aliran dana yang besar ke Tim Sukses SBY, saya justru mendorong dilakukannya audit oleh BPK. Silahkan dicek apakah memang ada aliran dana ke situ,” imbuhnya.

Seperti diketahui, saat itu terjadi krisis kredit keuangan, Subprime Mortgage di Amerika Serikat (2008), yang membawa dampak sistemik ke seluruh dunia.

“Sejarah menunjukkan bahwa setelah itu Indonesia selamat dari krisis. Pertumbuhan ekonomi kita hanya sempat turun satu tahun, dari 6% di tahun 2008, menjadi 4,6% di tahun 2009. Namun, tahun depannya (2010) naik lagi ke angka 6,2%, dan bahkan tahun 2011 menjadi 6,5%. Oleh dunia, Indonesia dinilai berhasil meminimalkan dampak krisis global tahun 2008 dulu,” lanjut SBY.

Lebih lanjut, SBY mengatakan ia mulai tertarik mengikuti kasus PT Jiwasraya karena kasus ini cukup serius sebab angka kerugian mencapai 13 triliun.

“Ketika Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan bahwa permasalahan Jiwasraya sudah terjadi sejak 10 tahun lalu, saya pun tak merasa terusik. Tesis saya, untung rugi dalam dunia bisnis bisa saja terjadi. Bahkan ketika Kementerian BUMN secara eksplisit mengatakan masalah Jiwasraya bermula di tahun 2006, saya juga tak merasa terganggu,” terangnya.

“Namun, ketika mulai dibangun opini, dan makin kencang, bahwa seolah tidak ada kesalahan pada masa pemerintahan sekarang ini, dan yang salah adalah pemerintahan SBY, saya mulai bertanya… apa yang terjadi? Kenapa isunya dibelokkan? Kenapa dengan cepat dan mudah menyalahkan pemerintahan saya lagi? Padahal, saya tahu bahwa krisis besar, atau jebolnya keuangan Jiwasraya ini terjadi 3 tahun terakhir. Namun, ketika dalam perkembangannya saya ketahui angka kerugiannya mencapai 13 triliun rupiah lebih, saya mulai tertarik untuk mengikutinya. Ini cukup serius, ” imbuh SBY.

SBY kemudian mengatakan awal Januari 2020, isu Jiwasraya, Asabri dan sejumlah BUMN lain mulai dibicarakan publik karena permasalahan keuangan serius. SBY pun menyatakan sikapnya mengenai sejumlah isu tersebut.

“Mendengar berita seperti ini, meskipun belum tentu benar dan akurat, saya harus punya sikap, sikap saya adalah tak baik dan salah kalau belum-belum sudah main target-targetan,” terangnya.

SBY juga mengingatkan Presiden Jokowi untuk tidak terus membiarkan polemik ini terus berlanjut.

“Pasti Presiden Jokowi tidak ingin ada permasalahan serius terbiarkan dan terus berlangsung, sehingga negeri ini menyimpan banyak “bom waktu”. Bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan mengakibatkan terjadinya krisis besar. Pasti pula presiden kita ingin mengakhiri masa jabatannya dengan baik dan tidak membiarkan terjadinya skandal-skandal berskala besar yang sangat melukai hati rakyat kita,” pesannya.

Selanjutnya, terkait permasalahan yang ada, SBY mengajukan 7 poin arena penyelidikan dan penyelesaian krisis Jiwasraya dimana salah satunya adalah solusi tawaran penyelesaian masalah ini.

“Khusus pemberian jaminan dan pengembalian uang nasabah (rakyat), saya menyarankan agar segera dibentuk Lembaga Penjamin Polis melalui sebuah undang-undang, agar didapat kepastian hukum untuk itu. Namun, dalam suasana seperti sekarang ini tak perlulah pemerintah harus disalahkan secara berlebihan. Tak baik mengambil keuntungan politik ketika orang lain sedang susah. Tak ada pahalanya. Dewan Perwakilan Rakyat bisa menggunakan hak konstitusionalnya untuk melakukan investigasi (penyelidikan),” sarannya.

“Yang paling penting, uang yang raib yang jumlahnya sangat besar itu, termasuk potensi untuk kehilangan yang lebih besar lagi, harus diatasi. Harus ditutup lubangnya. Harus bisa disehatkan kembali kondisinya. Solusinya… ya pilih cara yang paling masuk akal, kredibel dan benar-benar menyelesaikan masalah. Bukan hanya untuk meredakan kegaduhan politik saat ini, “imbuhnya lagi.

Sebagai penutup, SBY memberikan motivasi dan mengajak seluruh komponen bangsa bisa bertindak konstruktif dan visioner demi penyelamatan negara dan bangsa ini ke depan.

“Alhamdulillah, Tuhan masih menyediakan hari esok. Kalau ada kesalahan kita, misalnya apa yang terjadi di PT. Jiwasraya dan mungkin lembaga lain, yang punya dampak besar, mulai saat inilah kita lakukan perbaikan. Insya Allah kita bisa. Indonesia Bisa,” tutup SBY. (tb)