Situs Titik Nol Islam Nusantara Kurang Diperhatikan, Senator DPD-RI Asal Sumut Mengaku Miris

Peserta seminar nasional "Bahasa dan Sepeda Bangsa", Le Polonia Medan, Kamis (20/2/2020) (Foto: TataBerita)

| Anggota Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Sumut, Dedi Iskandar Batubara, mengaku miris melihat perhatian pemerintah daerah terhadap situs Titik Nol Islam Nusantara di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Hal ini diungkapkannya saat menjadi salah seorang narasumber seminar nasional “Bahasa dan Sepeda Bangsa: Dari Barus ke Barus, Pemusatan Kebudayaan Melayu di Sumatera Utara, Menangkal Gelombang ‘Tsunami’ Kebahasaan” yang diselenggarakan Balai Bahasa Medan, di hotel Le Polonia Medan, Kamis (20/2/2020).

“Saya baru dini hari tadi sampai di Medan, beberapa hari ini keliling ke Tapteng, khususnya daerah Barus. Setelah diresmikan Presiden Jokowi beberapa tahun lalu, saya miris lihat perhatian pemerintah daerah ke Barus. Padahal, di sini ada monumen titik nol Islam Nusantara yang mestinya bisa jadi daya tarik dunia,” ujarnya di hadapan peserta seminar.

Menurut Dedi, sebagai senator ia kerap berkunjung ke lapangan. Khusus kunjungan di Barus Kabupaten Tapteng, ia mengaku menemukan beberapa hal penting yang harus segera disikapi serius.

Pertama, secara simbolik, monumen Nol Kilometer Islam Nusantara sama sekali tak menampilkan kesan bahwa titik lokasi ini adalah sesuatu yang sangat penting dalam sejarah kebangsaan.

“Secara simbolik, tidak menarik. Secara langsung, saya sudah sampaikan kepada Bupati (Tapteng-red) untuk membuatnya lebih menarik. Menggambarkan kemegahan sejarah peradaban Islam di Nusantara,” ujarnya.

Kedua, saat mengunjungi Makam Papan Tinggi Syekh Rukunuddin, ia menanyai langsung penjaga situs mengenai perhatian pemerintah daerah terhadap situs tersebut. Dedi mengaku kecewa mendengar jawaban dari penjaga situs.

“Menurut penjaga situs, biaya perawatan makam Syekh Rukunuddin justru datang dari Pemerintah Aceh. Saya bisa mengerti, Pemda Aceh merasa situs ini juga bagian dari sejarah mereka. Tetapi, jadi pertanyaan saya, kenapa Pemda Sumut justru terkesan abai pada perawatan situs penting ini,” ujar Dedi.

Dedi akan segera konfirmasi temuan lapangan ini ke Pemerintah Provinsi Sumut.

Para peserta seminar nasional “Bahasa dan Sepeda Bangsa”, Le Polonia Medan, Kamis (20/2/2020) (Foto: TataBerita)

Terkait isu kebahasaan, Dedi mengaku akan mendorong bahasa Indonesia ke dunia internasional dari jalur parlemen.

“Seperti data yang disampaikan tadi, pengguna bahasa Indonesia justru salah satu terbesar di dunia. Ke depan, perlu didorong ke dunia internasional itu bukan bahasa melayu tapi bahasa Indonesia. Saya di parlemen akan mendorong hal ini,” tegas Dedi.

Selain Dedi Iskandar, seminar ini turut menghadirkan narasumber Prof. Haryono dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan juga dihadiri akademisi, pegiat bahasa, dan masyarakat peminat kebahasaan di Sumut. (tb)