Standar Vesva, Eh, Ganda Kita!

KATA: BUNG JEMIE

BUNG JEMIE

SELAIN Vespa model tua, manusia pun suka melengkapi diri dengan standar ganda. Cagak dua,  kata orang Medan. Cagak dua di Vesva agar tegak kokoh kala berhenti,  kalau di manusia malah bikin oleng—tak punya sikap dan pendirian pasti.

Seorang yang berstandar ganda, melihat satu persoalan sama dengan dua penilaian berbeda apabila terjadi di tempat lain atau persoalan itu mengenai dirinya. Dimana ada untung,  di situlah dia berada—berposisi. Dimana cabang pohon berbuah, di situlah dia bergelantung—tak peduli biar sekedar buah Simalakama atau Tangisan Kera, bak kata orang Melayu.

*

APA yang terjadi di Papua selama ini adalah pelanggaran HAM. Negara, katanya, tak boleh melakukan tindakan represif memberantas pemberontakan di sana. Negara juga harus memberi peluang kepada Papua untuk menentukan nasib sendiri. “Refrendum untuk Papua!” teriaknya. Orang Papua boleh memilih, mau bergabung ke Indonesia atau Merdeka. Tak lupa, ia siapkan berbagai dalil dan dalih: secara historis, sosiologis, antropologis, geologis, ekonomis, dan entah is apalagi, Papua memang bukan bagian Indonesia.

Sementara, apa yang terjadi di Uighur China, dikatakannya sebagai persoalan separatis—pemberontakan belaka. Sah, bila Negara China lakukan tindakan represif dan pre-emtif (penindakan dini), membuat proyek nasionalisasi orang-orang Uighur dalam kamp konsentrasi. Tak ada pelanggaran HAM di sana, apalagi isu diskriminasi agama. Dia juga sudah siapkan dalil dan dalih mendukung pendapatnya ini.

Untuk yang begini, tak usah didebat, geleng-gelengkan saja kepala sebab orang berstandar ganda biasanya lebih keras dari sekedar musik Metallica.

**

STANDAR ganda juga menghinggapi politikus-politikus kita. Dulu, kala oposisi turun ke jalan, berteriak-meraung: “Turunkan BBM, jangan hapus subsidi, jangan bikin rakyat miskin tambah miskin!” Namun, kala berkuasa mereka tak peduli dengan segala kebijakan yang tidak pro rakyat: BPJS naik, gas naik, BBM naik, TDL naik. Bagi mereka yang penting sekarang, pembangunan jalan bebas hambatan tetap dijalankan. Yang lain-lain? Ah, bisa bicara belakangan!

Dulu, berkata dukung KPK, gasak habis korupsi dan tak pandang bulu siapapun pelakunya. Tapi, giliran partainya kena kasus korupsi, segala macam dalih dan alasan diadakan. Bahkan Si Tersangka-nya pun mereka lindungi tanpa henti.

Standar ganda level Negara tak kalah menggelikan. Contoh, yang katanya separatisme. Negara melalui militer pamer kekuatan Alutsista. Operasi militer. Baku tembak dengan orang-orang tak bersenjata. Namun,  ancaman dari luar, misalnya kasus klaim Cina atas Natuna, negara malah melempem: “Mereka hanya melintas, tidak mencuri apa-apa!” Katanya begitu.

Pertanyaan kita kemudian, kalau cuma melintas kok bisa heboh satu Indonesia?

Yang berikut, ini kelas dunia. Amerika dan beberapa Negara boleh mengembangkan proyek senjata nuklir. Dalihnya, demi menjaga perdamaian dunia. Si vis pacem, para bellum. Tapi di saat yang sama, negara-negara lain—termasuk Indonesia—tidak boleh, haram hukumnya. Kalau ada yang berani coba-coba, bersiaplah dihapus peta kekuasaannya di atas dunia. Irak dan Saddam Husein, salah satu contoh korban standar ganda Amerika ini.

Mana di mana demokrasinya? Ada di Pohon Waru. Ngumpet. Apa boleh buat, demokrasi—dan akal sehat—kita tengah berada di bawah ancaman bom atom. Nukleus adalah Dewa tak terbantah kekinian.

Apa yang terjadi dengan konflik Iran belakangan, semakin menegaskan betapa berstandar gandanya Amerika. Banyak orang meramalkan perang dunia ke-3 bakal terjadi.

“Akh, perang dunia ke-3 itu dongeng penghantar tidur saja,” sergah yang lain.

Iran sudah membalas kematian Jenderal Soleimani dengan bombardir pangkalan Amerika di Irak. Beranikah Amerika membalas? Mengibarkan bendera perang layaknya ke Irak dulu? Atau malah ciut karena Iran punya reaktor nuklir?

Atau, sebagaimana analisis seorang kawan, ini cuma kongkalikong level dunia.

Entahlah, tanyakan saja ke Ebiet G. Ade, biar disampaikan ke rumput nan bergoyang.

***

JANGAN gusar, Bung!

Dunia sudah begitu adanya. Kita juga sering berstandar ganda level kelas kambing. Tengoklah, betapa kita marah kalau ada orang yang tak tepat waktu. Janji jam 8, datang jam 10.  Atau seperti tukang sepatu, kata Harry Roesli: janji Minggu, jadi Rabu.

“Pantas negara ini tidak maju,” kata kita.

Tapi manakala kita yang terlambat, tinggal cari alasan saja, “Maaf vesva saya mogok di jalan!” Kita perkuat dengan tunjukkan tangan hitam bekas oli lengkap dengan peluh sebesar jagung.

“Ya, tak apa!” Kata mereka yang sudah menunggu lama.

Meraka mungkin mahfum plus maklum, tanpa dalil dan dalih apapun, di dunia ini cuma Vesva tua yang berhak hanya memakai standar ganda—bercagak dua! [*]

JEMIE SIMATUPANG

Pedagang Buku Bekas dari Medan