Syekh Misno bin Nasum an-Naqsyabandy: Tunas Besilam di Pantai Labu

yekh Misno bin Nasum (kiri) bersama pimpinan Pesantren Thariqat Naqsyabandiyah Babussalam (Besilam) Langkat Syekh Ahmad Marzuki Mudawwar Rokan bin Syekh H. Tajuddin Mudawwar Rokan (kanan) (Foto: Istimewa)

SYEKH MISNO BIN NASUM AN-NAQSYABANDY, dilahirkan di Desa Rugemuk, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada Kamis Pahing, 6 Maret 1971.

Pada 1977, di usia 6 tahun, beliau mulai mengecap pendidikan Sekolah Dasar, dan menamatkannya pada tahun 1984. Disebabkan kondisi perekonomian keluarga, pendidikan formalnya hanya sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), tamat tahun 1987.

Sejak kecil Syekh Misno memang sudah menekuni belajar tauhid dan tasawuf dengan mendatangi para ustadz dan para khalifah tarekat ke masjid-masjid untuk mendengarkan nasehat dan wejangan dari orang-orang tua yang mengaktifkan majelis-majelis ilmu.

“Sejak kecil itu pun, saya memang menekuni ini, karena jiwa saya tenang kalau mendapat nasehat-nasehat dari orang-orang tua. Saya mendatangi mereka setelah mengaji Qur’an atau selesai sholat,” kenang Syekh Misno.

Perjalanan Berguru
Pada tahun 1987, saat usia Syekh Misno memasuki 16 tahun, beliau mulai belajar mengaji tauhid tasawuf dengan Datuk Burhanuddin, yang lebih dikenal dengan Tok Burhan, seorang tokoh yang cukup disegani di kawasan Pantailabu di masa itu. Beliau berguru dan berkhidmat kepada Tok Burhan, selama kurang lebih 32 tahun, hingga Tok Burhan dipanggil kehadirat Allah SWT pada tahun 2016.

Tidak hanya kepada Tok Burhan, sejak 1987, Syekh Misno juga telah mulai berguru kepada Ustadz Qadri Tarigan selama 5 tahun, hingga memasuki tahun 1993. Saat itu Ustadz Qadri mengajurkan agar Syekh Misno lebih memperdalam ilmu yang beliau ajarkan kepada seorang musyid tarekat.

Pada 1992, Syekh Misno bermimpi memanen sawah dan bertemu dengan Syekh Utsman bin Lobai Safiuddin dari Desa Durian Kecamatan Pantailabu, yang saat itu, beliau merupakan salah seorang Khalifah Tarekat Naqsyabandiyah persulukan Babussalam (Besilam) Langkat di bawah bimbingan Tuan Syekh Anas Mudawwar bin Syekh Muhammad Daud bin Syekh Abdul Wahhab Rokan (abang dari Tuan Syekh Tajuddin).

Mimpi Syekh Misno menjadi kenyataan bertemu Syekh Utsman, dan Syekh Misno kemudian bersuluk di bawah bimbingan Syekh Utsman.

Syekh Misno bin Nasum an-Naqsyabandy

Selama 7 tahun di bawah bimbingan Syekh Utsman, pada 1999, Syekh Misno diangkat sebagai salah seorang Khalifah (wakil dari Syekh Utsman) di rumah persulukan di Desa Durian.

Pada 2006, Syekh Misno melanjutkan persulukannya ke Besilam di langsung bawah bimbingan Syekh H. Tajuddin Mudawwar hingga Syekh Besilam tersebut wafat pada Minggu Malam (8/12/2019) sekira pukul 19.30 WIB, di kediamannya di Dusun II Hulu, Desa Besilam, Kecamatan Padangtualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara sekira pukul 19.30 WIB.

“Khalifah saya diselesaikan oleh Tuan Syeikh Ahmad Marzuki, anak dari Tuan Syekh Tajuddin, cicit dari Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan,” tutur Tuan Guru Syekh Misno kepada wartawan.

Dengan izin Allah SWT, pada 15 Desember 2019 H bertepatan 18 Rabi’ul Akhir 1441 H, Syekh Misno dilantik oleh Pesantren Thariqat Naqsyabandiyah Babussalam (Besilam) Langkat sebagai wakil mursyid (khalifah). Selanjutnya, pada 1 April 2020, Besilam memberikan ijazah kepada beliau sebagai salah seorang Wakil Mursyid Pusat Tarekat Naqsyabandiyah Babussalam.

*******

Jufri Bulian Ababil 

Seorang Pejalan