Tak Ada Kamus Malu

KATA: BUNG JEMIE

BUNG JEMIE

Mbak,

DICERITAKAN sebuah bangsa yang orang-orangnya berfikir, berbicara, dan bertingkah-laku sesuka hatinya. Seenaknya saja. Seenak udhele dhewe, kata Orang Jawa. “Adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan” dari Pramoedya tak pernah jadi pelajaran bagi mereka kecuali sebagai poster pemanis tembok rumah dan kantor atau pun slogan di kaos oblong saja.

Mereka suka mencaci, membully, mencuri, merampok, memerkosa, berjudi, dan melakukan segala macam kejahatan. Bukan hanya malam, tapi juga di siang hari.Tak peduli walau di bawah CCTV. Terang-terangan. Dan hebatnya setelah itu dia menceritakan perbuatannya kepada koleganya, kawan-kawannya, saudara-saudaranya.

Anehnya, orang-orang hanya berkomentar, “Wah hebat kamu!”

Satu kali seorang yang punya kedudukan di gubernuran bercerita dengan koleganya sesama pejabat. Katanya, baru-baru ini ia berhasil mark-up proyek pembangunan jembatan.

“Saya mengeruk untung 1.2 M,” katanya.

“KPK tak tahu?”

“Tidak! Lagi pula sekarang mereka tak lagi bertaji!”

“Polisi?!” tanya yang lain.

“Sudah saya suap!”

“Wah, hebat! Bagi-bagi, dong!”

Ya, hebat, dan bagi-bagi dong! Orang-orang hanya berkomentar begitu—seolah-olah tak ada yang salah dengan apa yang dilakukan kawannya yang pejabat itu.  Sebagaimana juga tak ada yang salah dengan mencuri, membunuh, menyuap, merampok, memerkosa, apalagi sekedar menerobos lampu merah.

Tapi tak semua begitu. Ada sebagian kecil yang masih punya hati nurani dan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang telah berlaku di negerinya ini.  Mereka coba mencari referensi untuk menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Tapi ketika literatur dan perundang-undangan dibuka, dibaca, dan ditelaah, orang-orang itu tak menemukan ada yang salah. Tak ada yang janggal.

Dalam khasanah ilmu-ilmu sosial, korupsi masih disebutkan sebagai momok bagi kehidupan berbangsa. Juga begitu dengan kejahatan-kejahatan yang lain. Dalam hukum Juga. KUHP masih mencantumkan pencurian, pembunuhan dan pemerkosaan diancam dengan pemidanaan. UU anti-korupsi juga demikian, bahkan ada wacana memasukkan pidana pemiskinan dan hukuman mati. Ya, memang ada revisi UU KPK, dimana tampaknya peran-peran KPK diperlemah dalam pemberantasan korupsi. Tapi itu pun belum bisa menjadi dalil yang kuat sehingga orang-orang sekarang melakukan korupsi terang-terangan.

Lalu, apa yang salah?

Mbak,

Sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu di suatu tempat yang tak disebutkan namanya dalam surat saya ini.

“Anda ahli bahasa itu, ya?”

“Benar!”

“Yang nyusun kamus bahasa, ya?”

“Itu keahlian sekaligus profesi saya!”

“Bisa tidak Anda hilangkan kata “malu” dari kamus yang sedang Anda susun!?”

“Akh, mana bisa, jangan kira mentang-mentang Anda penguasa bisa memerintahkan saya seenaknya.”

“Bagaimana kalau 1 T?”

“Saya tak boleh mengingkari sumpah profesi saya!”

“Tak apa, nanti kalau ada yang protes, bilang saja salah cetak, dan akan dibetulkan pada edisi revisi selanjutnya—walaupun nanti, kalau ada revisi, tidak dimasukkan juga. Lama-lama orang-orang juga lupa.” Orang itu coba meyakinkan.

Diam sejenak. Lalu dia bilang, “Bagaimana kalau 1.5 T?”

“Hmmm…, Bagaimana ya? Tapi bolehlah! Lagi pula sudah lama saya ingin punya mercy.”

Ahli bahasa itu lalu menekan tombol delete untuk lema “malu” pada kamus  yang sedang disusunnya.

Mbak,

Ini ilustrasi saja. Fiksi. Fiktif. Dalam dunia nyata, saya tak yakin ahli bahasa penyusun kamus melakukannya. Tak percaya, cobalah cek di KBBI, di sana masih tercantum lema malu.

Saya cuma ingin menggambarkan, kalau dalam kamus kehidupan sekarang tak ada lagi malu. Kita tak kenal malu. Orang-orang masih bisa tampil di TV dan berkata, “Saya tidak korupsi!” ketika mengenakan rompi oranye KPK. Muka tembok! Dan orang-orang itu malah membuat citra bahwa mereka sebenarnya korban—orang yang terzalimi dan perlu dikasihani.

Jangan harap mereka mundur dari jabatan publik yang sedang mereka emban. Apalagi organisasi dan partai tempat mereka dibesarkan juga turut serta membela dan melindungi belaka. Pejabat Jepang yang mengundurkan diri ketika disangka terlibat korupsi atau skandal tak pernah menjadi inspirasi bagi mereka. Apalagi kalau sampai harakiri. Heh, jangan mimpi!

Mbak,

Apakah orang-orang ini punya malu? Kurasa memang tidak. Kemaluan? Hahaha…, jangan-jangan yang ini pun tidak!

************

Medan, 22 Januari 2020

Horas!

Jemie Simatupang

Pedagang Buku Bekas dari Medan