Tentang Bencana dan Kematian

KATA: CIA

Lucia Damanik

SETIAP hari pikiranku merangkai kata-kata
Ingin sekali menjahit beragam data menjadi padanan kata
Tak beranjak dan selalu berakhir khayalan saja
Nampaknya harus segera menuangkannya sebelum menua

Ku mulai dengan ini,

Kilas balik bencana ke bencana yang dialami negeri tercinta.

Juni 2018, tenggelamnya Kapal Feri KM Sinar Bangun di Danau Toba mengundang banyak spekulasi, kontroversi bahkan mengaitkan dengan konspirasi.

Juli 2018, Lombok diguncang gempa hingga ke Bali dan Sumbawa. Mengingatkan kita akan kiamat sudah dekat.

Oktober 2018, tenggelamnya pesawat Lion Air di Karawang, Jawa Barat. Cukup mengenaskan, tak ada yang selamat.

Desember 2018, Tsunami menerjang Pantai Banten dan Lampung Selatan.

Agustus 2019, Bencana kebakaran hutan TERPARAH yang pernah terjadi di Indonesia.
Hingga kualitas udara Jakarta terburuk di dunia yang disebabkan asap dan polusi.

Januari 2020, Banjir TERPARAH di Jakarta.

Februari 2020, Virus Corona atau COVID19 masuk ke Indonesia.

Dari sederet kekacauan dan bencana alam, virus corona yang paling mematikan. Mematikan seluruh aktivitas manusia. Sisi lain, virus corona memberikan kesempatan bumi untuk beristirahat. Langit biru pun tampak di Jakarta, suatu pemandangan yang sangat jarang. Namun, beragam pro dan kontra muncul gegara corona. Gelisah, panik, cemas, takut, depresi, kematian dan perasaan negatif lainnya selalu menghantui.

Virus Corona atau COVID-19 awalnya muncul di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu. Virus ini menyerang sistem pernafasan manusia. Belum diketahui penyebabnya. Memiliki gejala flu, demam, batuk hingga sesak nafas. Telah menginfeksi hampir semua negara di dunia dengan cepat.

Panic buying, social distancing, physical distancing, lockdown, karantina, isolasi diri, bunyi kata yang selalu digaungkan.

Dokter dan tenaga medis menjadi garda terdepan ditengah wabah virus corona.
Banyak kisah mengharukan dari mereka, menyabung nyawa demi pasien. Pemakaman jenazah COVID19 yang tidak layak, terlihat miris dan menyedihkan. Bagaimana mungkin jenazah yang sudah dikubur bisa menularkan virus? Ini sungguh sedih. Menjadi tugas untuk memberikan edukasi pada masyarakat agar tidak ada lagi penolakan untuk memakamkan korban meninggal dunia yang positif COVID19.

Inspirasi Cia

Meskipun ditakuti dan dicemaskan penduduk dunia, corona juga punya sisi positif. Ada banyak kebaikan jika melihat perspektif positif. Virus corona berdampak pada semua bidang lini kehidupan.

Apakah ini salah satu bentuk respon alam terhadap manusia karena mengabaikan krisis lingkungan?

Dengan semua yang terjadi, sepertinya alam memberikan kode pada manusia untuk mempersiapkan kematian. Kematian adalah transisi manusia.

Berita kematian artis belakangan ini juga menjadi suatu makna.

Melihat berbagai proses kematian menjadi peringatan diri untuk menerima kematian. Tak semudah itu.

Nyatanya, kematian masih menjadi sebuah masalah terbesar. Kesedihan, ketakutan, emosi dan rasa hancur. Tidak ada dunia setelah kematian, yang ada hanyalah kekosongan. Konsep surga dan neraka menjadi perbincangan tentang kematian.

Melihat proses kematian adalah sebuah peluang hidup. Titik ubah membentuk hidup baru. Memberi kesempatan untuk sadar menentukan tujuan hidup yang baru termasuk mengubah pola pikir bagaimana menjalani hidup.

Kematian adalah kepastian.

Namun, semua pandangan itu tidak memastikan apa yang terjadi setelah kematian. Konsep tentang hidup setelah mati suatu misteri yang tak ada habisnya. Tak bisa dilihat dan diukur.

Setelah melihat berbagai proses kematian dan memahami bagaimana menghadapi kematian, lantas haruskah seseorang takut akan kematian atau sebaliknya?

*******

LUCIA DAMANIK

Penulis dan Youtuber, tinggal di Jakarta