Terkait Corona, Psikolog: Komunikasi Pemerintah Justru Dorong Efek Psikosomatik

Psikolog, Indo Mora Siregar (baju hitam), saat konferensi pers bersama Gerakan Bergotongroyong Meda, di Garasi Mataniari Medan, Minggu (5/4/2020) (Foto: Istimewa)

| Psikolog dari Universitas Sari Mutiara (USM) Medan, Indo Mora Siregar, mengatakan gaya komunikasi pemerintah terkait penanganan pencegahan wabah Corona (Covid-19) justru mendorong efek psikosomatik (gangguan kesehatan fisik akibat tekanan emosional dan psikologis) pada masyarakat.

“Jarang sekali informasi yang disampaikan pemerintah, bahwa tingkat kesembuhan para penderita Covid-19 ini mencapai 97%. Tapi yang digaungkan justru adalah fatality rate (angka kematian) yang hanya 3%,” terang Indo Mora, saat konferensi pers bersama Gerakan Bergotongroyong, Garasi Mataniari Medan, Minggu (5/4/2020).

Dampaknya, ujar Indo Mora, terjadi penolakan masyarakat terhadap upaya penanganan yang sedang dilakukan pemerintah.

“Hal ini dapat dilihat dari penolakan-penolakan di tingkat masyarakat. Misalnya, pengusiran para ODP. Belum lagi, penolakan pemakaman korban Covid-19. Ini akan membuat masyarakat enggan mengakses fasilitas layanan kesehatan. Mereka tidak mau mengakses layanan kesehatan dengan berbagai alasan, seperti khawatir ditolak di lingkungannya,” ujarnya.

Indo Mora menilai, kasus kematian tertinggi justru diakibatkan keterlambatan pelayanan kesehatan, bukan karena virus Corona (Covid-19) itu sendiri.

“Padahal kematian tertinggi lebih diakibatkan keterlambatan pelayanan kesehatan. Dengan akumulasi situasi ini, kita butuh penguatan mentalitas dengan pemikiran-pemikiran yang lebih positif dan baik,” imbuhnya.

Indo menegaskan, di tahap awal, memunculkan rasa takut memang perlu, tapi tidak perlu dilakukan terus-menerus. Ke depan, yang perlu ditingkatkan kewaspadaan bukan ketakutan. (tb)