Toxic Masculinity: Manifestasi Patriarki, Rugikan Laki-Laki dan Perempuan

Suara Perempuan: Lusty Malau

BUDAYA Patriarki yang mengakar sejak berabad abad lalu, membuat gerakan kesetaraan harus menempuh perjalanan panjang. Kendati demikian, hal tersebut bukanlah proses yang tidak mungkin tercapai di kemudian hari.

langkah bijak pertama yang harus dilakukan adalah pencerahan yang diterapkan melalui edukasi dan kampanye. Ya, meski tak sedikit pula laki-laki yang akan gelisah dengan perjuangan kesetaraan, sebab wacana “men on top” telah mendarah daging di isi kepala mereka. Bahkan gerakan feminis dilegitimasi sebagai perlawanan terhadap laki-laki.

Oh, Big No!

Tak sadarkah kaum laki-laki bahwa kesetaraan adalah hal yang sangat baik untuk diwujudkan bersama sama dengan perempuan?

Berbahaya apabila Toxic Masculinity terus menerus dipelihara sebagai racun manis yang menggerogoti pemikiran sebagian orang. Sebenarnya apakah arti istilah toxic masculinity? Siapa yang paling dirugikan dengan hal tersebut?

Istilah Toxic masculinity berasal dari Shepherd Bliss, seorang psikolog pada tahun 1990. Menurutnya, istilah tersebut digunakan sebagai konstruksi yang memisahkan dan membedakan nilai positif dan negatif laki-laki.

Toxic Masculinity menjadi manifestasi yang mendefinisikan kejantanan harus bersikap agresif, abusive, dan memiliki sifat kepemimpinan. Dampaknya, laki laki yang tidak menjangkau sifat-sifat di dalam jargon ini akan dikategorikan sebagai laki-laki gagal, lemah dan tidak ‘jantan’.

Akibatnya, mereka akan dikucilkan dan direndahkan oleh orang-orang di lingkungan sosialnya. Maka tak jarang, Toxic Masculinity berpengaruh besar pada kondisi psikologis seorang laki-laki.

Beberapa ujaran yang merupakan Toxic Masculinity di antaranya adalah :

Pertama, laki-laki tidak boleh emosional saat menghadapi masalah dan bencana, seperti menangis, kecuali mengeluarkan amarah. Sebaliknya, perempuan boleh menangis apabila berhadapan dengan permasalahan.

Akibatnya, tak sedikit perempuan yang berpikir sangat patriarkis akan menggunakan ‘tangisan’ untuk melakukan penindasan dan tindakan manipulatif. Jadi, untuk laki-laki dan perempuan, sama sama punya hak menangis, ya.

Kedua, seorang Lelaki tak mungkin menjadi korban pelecehan seksual, justru ia akan menikmatinya. Ini adalah fenomena yang sering terselubung dan tidak terungkap ke publik karena ketakutan dibully dan dianggap berbohong oleh polisi.

Padahal, laki-laki sangat berpotensi mengalami pelecehan baik oleh sesama laki laki atau bahkan perempuan. Akibatnya, banyak laki laki yang mempertahankan diri dengan menjadi pelaku dengan melakukan ‘cat calling’ saat perempuan melintas di depannya.

Ketiga, laki-laki adalah tulang punggung keluarga, sedangkan istri tidak boleh bekerja. Jika seorang laki-laki berpenghasilan sedikit dari istrinya, maka dia dianggap lemah dan tidak berdaya.

Padahal di dalam membangun keluarga, tiap pasangan harus saling memberikan pengertian dengan melihat potensi diri masing-masing. Baik laki-laki atau perempuan sama sama berhak menanggung kehidupan keluarga, dengan catatan harus bersepakat pula membagi peran mendidik anak adalah tugas bersama.

Keempat, laki-laki yang ekspresi dan gesturnya feminin dibully orang-orang di lingkungan sosial. Padahal setiap laki-laki dilahirkan dengan latar belakang keluarga yang berbeda dan pola didik keluarga yang beragam.

Bagi perspektif mayoritas masyarakat, perempuan sajalah yang memiliki sifat feminin dan pantang bagi laki-laki memilikinya. Sehingga muncullah stigma bahwa laki-laki adalah makhluk kuat, sedangkan perempuan adalah makhluk lemah.

Beberapa contoh kasus di atas dapat dijadikan pertimbangan sebelum melakukan stigma atau legitimasi terhadap perilaku orang berdasar gender. Bisa dikatakan bahwa Toxic Masculinity sesungguhnya tidak hanya merugikan perempuan, tapi juga laki-laki.

Jadi buat laki-laki di luar sana, masih belum sadar juga bahwa kesetaraan tidak perlu digelisahkan, yang diperlukan adalah bantu kaum perempuan untuk meraih kesetaraan itu.

*******

Lusty Malau

Direktur Organisasi Perempuan Hari Ini