Wara Sinuhaji: Berebut Simbol di Ruang Kota

KATA: WARA SINUHAJI

Akademisi USU, Wara Sinuhaji (Foto: Istimewa)

APAKAH anda masih ingat? Kalau kita melintas dari jalan Brigjen Katamso menuju Delitua, tepatnya di kawasan perempatan Titi Kuning, atau sebaliknya, kita sering terjebak macet. Perempatan jalan ini berpapasan dengan jalur padat lalu lintas dari arah jalan Sisingamangaraja ke arah Asrama Haji lalu menuju Simpang Pos, begitu pun sebaliknya.

Apalagi ketika listrik byar-pet, padam 3 x 1 hari seperti orang sakit makan obat. Traffic light pasti padam, pasti menimbulkan kemacetan luar biasa. Ditambah lagi ketakdisiplinan para pengendara, kita bisa terjebak macet berjam-jam lamanya.

Untuk mengatasi kemacetan luar biasa ini, Dirjen Binamarga, Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional berinisiatif mengubah dan membangun kawasan perempatan ini menjadi Underpass Katamso. Kini kawasan tersebut telah jauh berubah, bebas dari kemacetan luar biasa seperti dulu.

Balai Jalan Nasional ini sebagai pelaksana pembangunan, menyadari Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumut adalah sebuah etalase cerminan budaya multi etnik dan kultural.

Balai ini kemudian atas dasar kecintaan terhadap nilai nilai dan kearifan lokal, coba menata underpass ini menjadi indah. Semua ornamen budaya dari berbagai etnik dipergunakan sebagai cara menghiasi dinding-dinding underpass tersebut.

Setelah semua ornamen etnik tersebut selesai dan elok dipandang mata, tiba-tiba ada kelompok masyarakat menganggap ini tidak elok, karena merasa wilayah ini tanah ulayatnya, katanya begitu.

Ormas ini mengatasnamakan mewakili masyarakat Melayu, Laskar Hang Tuah, melayangkan protes ke Balai Jalan. Mereka minta agar menghapus semua ornamen-ornamen etnik tersebut dan hanya diperbolehkan menghiasi underpass tersebut dari ornamen yang bernuansa Melayu.

Agak sedikit terkejut, kemarin sore menjelang Magrib, aku sebagai dosen sejarah diundang Balai Jalan ini untuk dapat hadir mengikuti rapat memberikan pemikiran dan semacam pencerahan berkaitan yang dipermasalahkan ormas ini.

Tadi pagi (28/1/2020), Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan di ruang rapat Balai Jalan, di Jalan Sakti Lubis Medan. FGD yang dipimpin langsung Kepala Balai dihadiri semua stakeholder, antara lain Pegawai Balai, Laskar Hang Tuah, perwakilan Pemko Medan, akademisi dan perwakilan Pemprovsu. Belakangan, muncul pula lagi yang mengatasnamakan Laskar Hang Tuah juga. Aku tidak tahu, mereka hadir danĀ duduk cantik diĀ belakang tempat dimana aku duduk.

Kepala Balai memberi kesempatan pertama kepada Laskar Hang Tuah untuk menyampaikan pemikirannya terkait permasalahan. Dua orang tokoh mereka berbicara dan substansinya tetap seperti semula.

Setelah mereka selesai mengutarakan kehendaknya, saya kemudian diberi kesempatan mengutarakan pemikiran dari aspek kesejarahan terkait masalah ini. Saya menjelaskan, Melayu-Karo di tanah ulayat Medan bagaikan sekeping mata uang logam yang tak bisa dipisahkan akar budayanya.

Semua raja raja Melayu, Sunggal, Deli, Sukapiring, Senembah dan Hamparan Perak adalah turunan Karo yang memelayukan diri, masuk Islam dan menjadi Melayu. Jelas, fakta sejarah membuktikan Medan didirikan Guru Patimpus Pelawi.

Sejarah dan budaya dinamis, Medan awalnya hanya dihuni Melayu dan Karo, penduduknya berubah sesuai perkembangan zaman. Industri perkebunan Belanda mengubah komposisi penduduknya menjadi heterogen dan multikultural. Eksistensi Medan adalah produk masa lalu, tetapi semua menghormati penduduk asli, terutama Melayu.

Medan kini telah berubah, berkembang menjadi kota ketiga terbesar di Indonesia, penduduk aslinya terdiri dari berbagai etnik. Kita harus mengekang sedikit ego kita, saya kira lembaga Balai Jalan harus diapresiasi. Lembaga ini berkehendak menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal semua etnik yang ada di Sumut.

Balai Jalan memajang ornamen semua etnik dalam bentuk relief. Kalau kita keberatan, baiknya semua dihapus dan diganti dengan simbol simbol Bina Marga saja. Kalau ini kita hapus, ini akan merugikan bagi generasi milenial kita. Mereka bisa saja gagal paham dan mengerti ornamen budayanya. Justru, inilah sarana dan tempat yang baik buat mereka memahami budayanya.

Untuk menghormati masyarakat Melayu, saya mengusulkan kepada Kepala Balai, kalau ada dana agar diberi ruang tambahan bagi ornamen Melayu. Di depan gerbang masuk dari arah Asrama Haji dan dari Arah jalan Sisingamangaraja ditambah ornamen Tepak Sirih Melayu, yang saya pahami punya sejuta makna.

Kemudian besar harapan saya, agar nama Underpass Katamso diganti namanya menjadi Jalan Lintas Bawah Titikuning. Nama lama yang sarat dengan nilai historis. Pemikiran yang saya sampaikan, ternyata memuaskan semua pihak, baik Pemko Medan maupun pihak yang mewakili Pemprovsu, demikian pula Balai Jalan.

Sebelum FGD selesai, kelihatan satu persatu anggota Laskar Hang Tuah yang duduk di hadapanku meninggal kan ruangan. Tokoh terakhir, sebelum keluar ruangan, tiba tiba menghampiriku. Kami cipika-cipiki sebelum dia pergi.

Dugaanku, mereka meninggalkan rapat, karena kedudukan mereka dalam rapat diambil alih oleh tokoh yang mengaku sebagai Ketua Laskar Hang Tuah. Tidak masalah bagi kami, terpenting semua keputusan dan hasil rapat diterima oleh semua pihak.

Mudah-mudahan ornamen tetap eksis dan dengan perubahan nama Underpass menjadi Lintas Bawah Titi Kuning.

*********

Drs Wara Sinuhaji Mhum

Pemerhati Sosial dan Dosen Sejarah USU